Arya Gunawan

Icon

Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom

Dua pekan berlalu sejak bom kembar mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, namun gegap-gempita laporan media massa terkait dengan peristiwa tersebut tampak belum menyurut. Nyaris tak ada media berita yang absen melaporkan perkembangannya setiap hari. Sebuah kenyataan yang wajar, mengingat peristiwanya masih terus berkembang dan menyisakan sederet tanda tanya, termasuk mengenai belum tersingkapnya teka-teki pelaku dan motifnya.

Di satu sisi, “kehebohan” yang berlangsung di kalangan media ini tentu perlu disambut hangat, karena ini menunjukkan bahwa media tengah menjalankan fungsi dan menunaikan tugas mereka sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Dengan kata lain, media tengah melayani khalayak untuk memenuhi salah satu hak asasi khalayak, yaitu hak untuk mendapatkan informasi.

Namun, pada sisi lain muncul juga situasi yang mengundang keprihatinan ditinjau dari sudut disiplin ilmu dan praktek jurnalisme, sebagaimana tecermin dari judul yang dipakai untuk tulisan ini. Sebelum melangkah lebih jauh, saya hendak menegaskan bahwa apa yang saya maksudkan dengan “dosa” dalam konteks ini semata-mata untuk memberikan efek penguatan, bukan diniatkan untuk menjadikan media sebagai pesakitan. Tulisan ini juga tidak bermaksud menunjukkan secara terperinci kasus per kasus, dan tidak pula hendak menuding secara spesifik media mana yang telah melakukan perbuatan “dosa” tadi. Tulisan ini lebih sebagai sebuah gambaran umum, dengan niat agar bisa dijadikan alat becermin dan mawas diri bagi para pemilik, pengelola, dan pekerja media, untuk melakukan langkah-langkah koreksi dan pembenahan di masa datang.

Read the rest of this entry »

Filed under: Media

Prihatin atas Skeptisisme Media

Dari 10 unsur utama profesi jurnalisme, tiga menempati posisi: upaya menggali kebenaran, kesetiaan kepada khalayak (bukan majikan) karena khalayaklah yang menitipkan amanah dan kepercayaan kepada profesi ini, dan penghormatan tinggi terhadap verifikasi. Sepuluh unsur utama ini diramu berdasarkan riset yang dirumuskan oleh wartawan kawakan Amerika Serikat, Bill Kovach, dalam bukunya yang tersohor, The Elements of Journalism (yang ditulisnya bersama Tom Rosenstiel).

Unsur yang ketiga, yakni verifikasi, sering disebut oleh banyak pengamat dan praktisi di bidang jurnalisme sebagai roh atau jiwa dari jurnalisme. Logikanya jelas: tugas tertinggi jurnalisme adalah menggali kebenaran. Dalam proses penggalian kebenaran ini, profesi jurnalisme memerlukan verifikasi, yaitu langkah untuk memeriksa berbagai informasi, data, fakta, bukti yang dijumpainya di sepanjang perjalanan sebelum sebuah kebenaran dihadirkan ke hadapan khalayak. Verifikasi merupakan langkah lanjutan dari sikap skeptis yang idealnya menjadi sesuatu yang melekat secara alamiah pada diri setiap pelaku profesi jurnalisme.

Read the rest of this entry »

Filed under: Media

Tiga PR Utama Pers Indonesia

Kemerdekaan pers telah dinikmati sepanjang satu dekade terakhir. Berbagai peristiwa hadir silih berganti mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia sepanjang periode tersebut. Mula-mula pers Indonesia seperti terkesima dan gamang dengan hadirnya era kemerdekaan ini, ditandai dengan berbagai macam proses belajar dan uji coba (trial and error) dalam mengisi era kemerdekaan itu. Para pekerja pers mencari format yang pas dalam cara melaporkan peristiwa, dalam mengemas produk mereka. Masyarakat pun seperti terkesima menyaksikan kemerdekaan yang hadir lumayan tiba-tiba itu, menyaksikan kehadiran sosok pers yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada di era sebelum itu. Sejak era reformasi, praktis semua kejadian dapat diberitakan oleh pers, sebagian dengan gaya yang sangat terbuka bahkan vulgar (dalam pilihan berita, sudut pandang penggarapan, penggunaan judul dan kata pada tubuh berita).

Perjalanan ini juga telah diwarnai oleh langkah yang tertatih-tatih, dengan berbagai sandungan yang muncul di sana-sini, termasuk sejumlah kasus serius di mana kemerdekaan yang baru dinikmati itu seperti terancam akan direbut kembali oleh pihak-pihak yang tak begitu bahagia menyaksikan berkembangnya pers yang merdeka tadi. Kini, setelah 10 tahun, tentu banyak hal yang telah dilewati dan bisa dipetik sebagai pelajaran berharga. Salah satu pelajaran berharga itu adalah kesadaran akan betapa pentingnya memiliki kemerdekaan ini, sebagai modal bagi hadirnya dua unsur penting bagi sebuah demokrasi, yaitu transparansi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan negara; dan keterlibatan yang penuh warga negara untuk menyuarakan aspirasi mereka, termasuk aspirasi yang berseberangan dengan suara mayoritas, maupun suara penguasa (sesuatu yang muskil terjadi saat berkuasanya Orde Baru).

Read the rest of this entry »

Filed under: Jurnalisme

Saya dibesarkan oleh Si Kuncung

Terima kasih karena sudah memposting tulisan menyentuh ini. Salah satu dari sangat sedikit hal yang bisa membuat mata saya basah adalah tulisan (entah lewat puisi, cerpen, novel, atau surat). Dan tulisan Pak Mula Harahap yang diposting di milis kita ini termasuk dalam kelompok itu. Mata saya berair. Berair tersebab oleh isi tulisan ini, juga oleh kenangan yang hadir di hadapan mata saya.

Sama seperti Pak Mula (beliau kini salah seorang pengurus Ikatan Penerbit Indonesia/Ikapi, bukan?), juga mungkin banyak di antara anggota milis ini, saya dibesarkan oleh Si Kuncung. Saya kenal nama ini ketika saya duduk di kelas II atau III SD (tahun-tahun 1973-an), di kota kelahiran saya, Jambi. Majalah ini hanya dijual di satu tempat: yaitu di Kantor Pos besar di kota saya, yang kebetulan berjarak hanya sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Menunggu terbitnya edisi baru adalah sebuah pekerjaan yang mendebarkan, hanya berselisih seurat dibandingkan menanti datangnya kekasih di masa-masa puber pertama (bukan berarti saya kini berada pada masa puber kedua, kendati usia saya memang sudah masuk ke periode itu).

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Sinema Indonesia 2007: Dari “Naga” Deddy Mizwar Hingga “Monyet” Djenar

Persoalan estetika film Indonesia tahun 2007 ini secara umum tak begitu banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya di sepanjang era reformasi yang telah berlangsung hampir satu dasawarsa ini. Dari segi jumlah judul maupun jumlah penonton, telah terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, sedikit-banyak didorong oleh perkembangan di bidang teknologi yang kian mudah dan murah diperoleh. Namun sebagaimana yang lazim terjadi, peningkatan dari segi jumlah tidaklah serta merta berbanding lurus dengan peningkatan dari segi mutu artistik.

Perjalanan film Nagabonar Jadi 2 (untuk seterusnya dalam tulisan ini disingkat sebagai Naga) bisa dijadikan cermin kondisi di atas. Film yang merajai hampir semua festival film yang diselenggarakan di Indonesia di sepanjang tahun 2007 ini, menunjukkan sekaligus dua hal penting. Hal yang pertama bisa dianggap “cukup memprihatinkan”, dan hal yang kedua dapat digolongkan sebagai sesuatu yang “menggembirakan”. Hal yang pertama tersebut adalah bahwa ternyata seakan-akan tidak cukup banyak alternatif yang dimiliki oleh para juri di berbagai ajang festival film itu sehingga mereka seperti paduan suara yang kompak menghujani Naga dengan berjenis penghargaan, termasuk penghargaan tertinggi sebagai film terbaik. Naga sulit terkalahkan oleh para pesaing lainnya di berbagai ajang festival tersebut.

Di FFI 2007 misalnya, dimana saya ikut menjadi salah seorang anggota dewan juri, dari putaran-putaran awal sudah kelihatan bahwa suara para juri “berat” ke Naga. Dalam diskusi yang tetap diwarnai perdebatan, baik pada tahapan penentuan nominee/unggulan, juga pada penentuan pemenang akhir, Naga tampak memimpin, sehingga pada saat menetapkannya sebagai film terbaik tidak terjadi perdebatan yang terlalu menguras tenaga. Film tersebut meraih nilai-lebih terutama dari segi tematik.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film