Arya Gunawan

Icon

Mendambakan JK Menjadi ‘Deep Throat’

Tiba-tiba saya mendambakan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersedia memainkan peran sebagai “Deep Throat” dalam kaitan dengan penyuntikan dana penyelamatan Bank Century. Dambaan ini mencuat di tengah kian tersisihnya kasus ini oleh berbagai peristiwa lainnya yang memenuhi agenda pembahasan media dan masyarakat awam, termasuk bencana alam yang menimpa sebagian saudara kita di Sumatera Barat dan Jambi.

Saya tak hendak menyalahkan berbagai peristiwa yang datang lebih belakangan ini, apalagi bencana di Sumatera itu, yang memang sudah sepatutnya masuk di urutan teratas dalam agenda media. Yang patut disalahkan bukan peristiwanya, melainkan konsistensi media untuk terus bersuara lantang mengingatkan: masih banyak hal yang menggantung di seputar kasus Bank Century, dan, karena itu, harus dikejar hingga tuntas.

Perkembangan kasus ini sebetulnya sudah agak kehilangan momentum setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono unjuk bicara, saat berbuka puasa dengan kalangan media, di Istana Negara, Jakarta, 17 September 2009. “Jangan ada yang sifatnya misterius pada urusan Bank Century dan penyelesaiannya. Semua pihak saya minta bisa menjelaskan akuntabilitasnya. Saya ingin tetap transparan. Sakit kalau yang berkembang di negara ini suasana buruk sangka,” ujar SBY, sebagaimana dikutip sejumlah media. Dia akan menghormati proses investigasi, yang ketika itu tengah dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan, sambil menegaskan, tak ada kejahatan yang lolos dari jerat hukum pada penanganan Bank Century.

Hasil pemeriksaan BPK telah terbit akhir September lalu, namun tidak ada tindakan nyata yang lahir sesudahnya. Tidak ada lembaga (DPR, eksekutif, BPK, dan Presiden) yang memberikan pernyataan resmi, lalu membeberkan langkah-langkah yang akan diambil sebagai tindak lanjut logis dari hasil kerja BPK itu. Seperti pada sejumlah kejadian yang sudah-sudah, masyarakat lagi-lagi disodori pemandangan di mana sebuah persoalan diselesaikan dengan cara yang agaknya kian menjadi “ciri khas” Indonesia: dibiarkan mengambang, untuk pelan-pelan menguap dilibas waktu, atau lenyap ditelan sikap alpa kolektif sebagian masyarakat kita.

Dalam situasi seperti inilah, saya kembali berpaling kepada JK. Kita tentu ingat, JK-lah yang memberikan dimensi lain terhadap jalan cerita kasus Bank Century, saat dia menegaskan bahwa dia tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan pemberian dana talangan itu. Padahal, ketika keputusan itu diambil oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan, bersama-sama Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan, JK bertindak sebagai pelaksana tugas Presiden secara penuh, karena SBY tengah menunaikan tugas di luar negeri.

Sayangnya, JK kemudian lebih memilih diam, dengan alasan, jika bicara lebih jauh, dia seperti membuka kotak Pandora, yang isinya dapat bergerak liar ke mana-mana. Sebuah pernyataan yang sebetulnya sangat menggoda untuk dikejar, karena menyiratkan JK tahu banyak tentang kasus ini, termasuk dugaan tali-temalinya ke berbagai pihak, dan tentu saja konsekuensi yang mungkin timbul apabila jalinan tali-temali tersebut diurai. Itu sebabnya, saya mendambakan JK muncul sebagai “Deep Throat”.

Bagi mereka yang menggeluti jurnalisme, “Deep Throat” bukanlah istilah asing. Ini adalah judul film (porno) Amerika pada 1972, karya sutradara Gerard Damiano. Film ini menjadi buah bibir karena kontroversinya, juga karena jalinan ceritanya (salah satu film porno paling awal yang memiliki plot cerita yang jelas), serta karena keuntungan komersial yang diraihnya, yang lumayan fantastis menggunakan ukuran pada masa itu. Istilah ini kemudian dilekatkan pada jurnalisme investigatif, berkat duet wartawan koran The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, saat mengungkap skandal politik yang dilakukan kubu Presiden Amerika Serikat Richard Nixon (calon dari Partai Republik). Nixon berupaya mengganjal langkah Senator George McGovern, pesaingnya dari Partai Demokrat dalam pemilu Presiden 1972, demi mengejar masa jabatan kedua. Kecurangan yang dilakukan Nixon dan kubunya mulai dari pembobolan kantor pemenangan pemilu Partai Demokrat, (lokasi kantornya di kompleks Watergate, di Washington, DC; itu sebabnya skandal ini kemudian dikenal luas dengan nama Watergate), penyadapan, sampai pelanggaran dana kampanye.

Dalam proses pengungkapan skandal Watergate ini, Woodward menggunakan narasumber rahasia. Redaktur Pelaksana The Washington Post Howard Simons, secara bergurau–juga dengan agak sinis–dalam sebuah rapat redaksi menjuluki narasumber andalan Bob Woodward itu sebagai “Deep Throat”. Nama ini disebut pertama kali di halaman 71 pada buku All The President’s Men, yang berisi catatan Woodward dan Bernstein mengenai skandal ini. Dalam film berjudul sama yang dibuat berdasarkan buku tersebut, “Deep Throat” ditampilkan memikat oleh sutradara Alan J. Pakula: misterius, bersuara berat, dengan rokok yang selalu tersulut di bibirnya, dengan wajah tertutup siluet dalam suasana samar-samar di lokasi sebuah parkir mobil bawah tanah.

Tokoh ini menjadi semacam “dewa penolong” di saat-saat genting ketika Woodward dan Bernstein seperti mulai kehilangan arah dalam membongkar skandal tersebut, karena tak jelasnya informasi yang mereka peroleh. Ada dua nasihat penting yang diberikan “Deep Throat” kepada Woodward: yaitu “follow the money” (telusuri jejak dana kampanye yang masuk ke kubu Partai Republik) dan pemberian sejumlah indikasi mengenai tali-temali para tokoh yang berada di lingkaran-dalam Nixon.

Sejarah kemudian mencatat, Nixon terpental secara tak terhormat pada awal periode kedua jabatannya, 9 Agustus 1974, dengan cara mengundurkan diri. Belakangan, sejarah juga mencatat bahwa “Deep Throat” adalah William Mark Felt, orang kedua di Kantor Penyelidik Pusat (FBI), yang mengungkapkan sendiri jati dirinya pada 2005. Mark Felt wafat pada 18 Desember 2008 dalam usia 95 tahun.

JK memiliki peluang menjadi “Deep Throat” versi Indonesia. Namun, tentu ini bukan hal mudah baginya; dia mungkin seperti berada di simpang jalan: memilih mengungkapkan kemungkinan sejumlah informasi yang masih disimpannya berkaitan dengan kasus Century ini, ataukah memilih tetap tutup mulut. Jika jalan kedua yang dipilihnya, JK akan mengikuti jejak seniornya, tokoh dengan nama yang hampir serupa dan asal daerah yang sama (Sulawesi Selatan), yaitu Jenderal Muhammad Yusuf, yang memilih tetap bungkam mengenai rahasia Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) sampai ke akhir hayat.

Mungkinkah JK menilai bahwa rahasia yang dia pegang mengenai kasus Bank Century ini memiliki muatan yang mirip rahasia Supersemar, yakni sama-sama dapat mengusik legitimasi sebuah rezim? Sementara Yusuf, sang jenderal menyimpan rahasia yang bisa mengganggu legitimasi rezim Soeharto, Jusuf sang saudagar (yang kemudian menjadi wakil presiden) menyimpan rahasia yang mungkin bisa berdampak bagi legitimasi pemerintahan baru SBY, terkait dengan dugaan yang sudah disuarakan sejumlah kalangan–pengamat dan sejumlah anggota DPR–bahwa ada dana dari Bank Century yang diduga mengalir ke partai politik tertentu, yang mungkin saja dapat menyeret-nyeret Partai Demokrat.

Saya mencoba optimistis: siapa tahu justru, setelah tak lagi memegang jabatan resmi kenegaraan, JK bersedia menjadi “Deep Throat”, meskipun tidak dapat dia lakukan secara klandestin macam Mark Felt. Namun, jika JK ternyata bersedia, akankah ada wartawan yang mau sungguh-sungguh menelusuri informasi yang dipasoknya, entah dikerjakan oleh tim seperti yang dilakukan Woodstein (panggilan yang sering digunakan oleh pemimpin redaksi The Washington Post Ben Bradlee kepada Woodward dan Bernstein), ataukah bersolo karier seperti Bondan Winarno saat membongkar skandal tambang emas Busang pada 1996 silam itu?

Filed under: Jurnalisme, Uncategorized

Saya dibesarkan oleh Si Kuncung

Terima kasih karena sudah memposting tulisan menyentuh ini. Salah satu dari sangat sedikit hal yang bisa membuat mata saya basah adalah tulisan (entah lewat puisi, cerpen, novel, atau surat). Dan tulisan Pak Mula Harahap yang diposting di milis kita ini termasuk dalam kelompok itu. Mata saya berair. Berair tersebab oleh isi tulisan ini, juga oleh kenangan yang hadir di hadapan mata saya.

Sama seperti Pak Mula (beliau kini salah seorang pengurus Ikatan Penerbit Indonesia/Ikapi, bukan?), juga mungkin banyak di antara anggota milis ini, saya dibesarkan oleh Si Kuncung. Saya kenal nama ini ketika saya duduk di kelas II atau III SD (tahun-tahun 1973-an), di kota kelahiran saya, Jambi. Majalah ini hanya dijual di satu tempat: yaitu di Kantor Pos besar di kota saya, yang kebetulan berjarak hanya sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Menunggu terbitnya edisi baru adalah sebuah pekerjaan yang mendebarkan, hanya berselisih seurat dibandingkan menanti datangnya kekasih di masa-masa puber pertama (bukan berarti saya kini berada pada masa puber kedua, kendati usia saya memang sudah masuk ke periode itu).

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Melahirkan Buku

Ruas-ruas jalan Beyoglu, pojok-pojoknya yang gelap, niatku untuk pergi, rasa bersalahku – semua itu berkedip-kedip bagaikan lampu-lampu neon dalam kepalaku. Sekarang aku tahu, bahwa malam ini ibuku dan aku tidak akan bertengkar, bahwa dalam beberapa menit lagi aku akan membuka pintu dan keluar menuju jalan-jalan kota ini yang menentramkan; dan setelah berjalan di separuh malam, aku akan kembali ke rumah dan duduk di mejaku dan menangkap nyawa ruas-ruas jalan itu untuk kutuangkan ke atas kertas.

“Aku tidak mau menjadi seorang pelukis,” ujarku. “Aku akan menjadi seorang penulis.”

Sebuah tekad yang kuat tampaknya telah diguratkan. Dan harus dijalankan. Dan memang, dunia kemudian tahu bahwa sang penulis kalimat-kalimat tersebut muncul sebagai seorang penulis dan pengarang cerita terpenting di era mutakhir ini. Dia adalah Orhan Pamuk, pengarang Turki peraih Nobel Kesusasteraan tahun 2006. Kalimat-kalimat yang dikutipkan di atas adalah bagian paling ujung dari bukunya yang terbit tahun 2005, Istanbul: Memories of A City. Buku 348 halaman ini dengan sangat memikat menuturkan keindahan Istanbul, dari sudut pandang seorang warganya yang peka menangkap sasmita keindahan itu.

Buku ini sebetulnya menceritakan riwayat hidup Orhan, namun tidak terasa sebagai sebuah memoar melainkan lebih sebagai sebuah novel. Kisahnya kemudian dilekatkan pada sebuah bingkai yang kokoh, yaitu kota Istanbul yang muncul tidak hanya sekadar sebagai sebuah lanskap, melainkan sebagai sesosok makhluk yang seakan-akan berjiwa, yang punya riwayat, punya manis-getir pengalaman, dan punya indra untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang bermunculan di dalamnya, mulai dari masa keemasan dinasti Ottoman hingga masa keruntuhannya, dengan puing-puingnya yang kini menjadi ornamen kota Istanbul.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Mengenang dan Merindu “Si Kuncung”

Jika sebuah pertanyaan diajukan kepada saya mengenai hal-hal apa saja yang telah ikut memberi pengaruh pada jalan hidup saya, maka saya tidak akan ragu-ragu untuk memasukkan “majalah anak-anak Si Kuncung” sebagai salah satu jawabannya.

Pertama kali saya mengenal Si Kuncung saat duduk di kelas II atau III SD, menjelang pertengahan tahun 1970-an. Ketika itu usia saya belum genap 10 tahun. Ayah saya yang memperkenalkan saya kepada Si Kuncung. Di kota kelahiran saya, Jambi, majalah ini hanya dijual di satu tempat: yaitu di kantor pos besar, yang berjarak tak sampai sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Sejak saya mengenal Si Kuncung, saya bagai terkena hipnotis, sehingga sulit bagi saya untuk tidak segera menamatkannya dalam sekali duduk.

Begitu isi seluruh majalah yang berjumlah 16 halaman itu usai dilahap, saya merasa amat bahagia karena seperti telah diajak berpetualang ke tempat-tempat yang sama sekali belum pernah saya kunjungi: dari Jakarta, lalu melompat ke tempat-tempat lain di Pulau Jawa, lalu terlontar jauh hingga ke tempat-tempat di wilayah Timur Indonesia. Kisah-kisahnya beragam, mulai anak-anak yang bergelimang lumpur saat menggembala kerbau, atau yang dengan riang-gembira membuat permainan dari tumbuhan yang bisa ditiup dan mengeluarkan suara melengking, atau yang ikut dalam perburuan ikan paus.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Tanggapan rinci atas berbagai komentar atas kritik saya atas “omission of facts” dalam pernyataan anti-bakar buku

Depok, 17 Agustus 2007

Saya menuliskan surat ini sebagai jawaban lebih rinci atas sejumlah komentar yang bermunculan terhadap kritik yang pertama kali saya lontarkan menanggapi naskah pernyataan kelompok anti-bakar buku yang disampaikan secara terbuka ke publik, Selasa 7 Agustus lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Perdebatan ini ternyata mendapatkan sambutan lumayan hangat. Tanggapan yang saya terima pun tidak hanya lewat milis, melainkan juga lewat email langsung ke alamat pribadi saya, lewat SMS, atau langsung menghubungi lewat telepon.

Terus terang, sebetulnya semula saya sudah tak terlampau berminat lagi untuk memberikan tanggapan, karena saya merasa poin penting yang saya miliki sudah terutarakan dengan baik, kendati telah ditanggapi tidak tepat oleh beberapa penanggap. Itu pula yang membuat perdebatan ini sudah mulai bergeser dari titik-pusat yang semestinya, bahkan berpotensi untuk bergerak tanpa juntrungan. Bahasa yang dipakai pun mulai menimbulkan rasa tak nyaman pula, termasuk misalnya penggunaan kata “tantangan terbuka” yang ditulis oleh Zen (yang lalu mendapatkan tanggapan keras pula dari Linda, lalu dikontratanggapi lagi oleh Zen dengan nada yang sama kerasnya). Saya sebetulnya sudah merasa “tak enak hati” karena menciptakan situasi yang lumayan absurd. Saya mengkritik, Linda menanggapi, lalu Zen menanggapi dengan tantangan terbukanya. Lalu tiba-tiba muncul tanggapan Linda yang keras terhadap Zen, dan disambut kembali dengan keras oleh Zen. Bukankah ini lumayan absurd? Saya mohon maaf apabila saya secara langsung atau tak langsung telah memicu hadirnya situasi yang kisruh dan kelihatan tak puguh seperti ini.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized