Arya Gunawan

Icon

Sinema Indonesia 2007: Dari “Naga” Deddy Mizwar Hingga “Monyet” Djenar

Persoalan estetika film Indonesia tahun 2007 ini secara umum tak begitu banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya di sepanjang era reformasi yang telah berlangsung hampir satu dasawarsa ini. Dari segi jumlah judul maupun jumlah penonton, telah terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, sedikit-banyak didorong oleh perkembangan di bidang teknologi yang kian mudah dan murah diperoleh. Namun sebagaimana yang lazim terjadi, peningkatan dari segi jumlah tidaklah serta merta berbanding lurus dengan peningkatan dari segi mutu artistik.

Perjalanan film Nagabonar Jadi 2 (untuk seterusnya dalam tulisan ini disingkat sebagai Naga) bisa dijadikan cermin kondisi di atas. Film yang merajai hampir semua festival film yang diselenggarakan di Indonesia di sepanjang tahun 2007 ini, menunjukkan sekaligus dua hal penting. Hal yang pertama bisa dianggap “cukup memprihatinkan”, dan hal yang kedua dapat digolongkan sebagai sesuatu yang “menggembirakan”. Hal yang pertama tersebut adalah bahwa ternyata seakan-akan tidak cukup banyak alternatif yang dimiliki oleh para juri di berbagai ajang festival film itu sehingga mereka seperti paduan suara yang kompak menghujani Naga dengan berjenis penghargaan, termasuk penghargaan tertinggi sebagai film terbaik. Naga sulit terkalahkan oleh para pesaing lainnya di berbagai ajang festival tersebut.

Di FFI 2007 misalnya, dimana saya ikut menjadi salah seorang anggota dewan juri, dari putaran-putaran awal sudah kelihatan bahwa suara para juri “berat” ke Naga. Dalam diskusi yang tetap diwarnai perdebatan, baik pada tahapan penentuan nominee/unggulan, juga pada penentuan pemenang akhir, Naga tampak memimpin, sehingga pada saat menetapkannya sebagai film terbaik tidak terjadi perdebatan yang terlalu menguras tenaga. Film tersebut meraih nilai-lebih terutama dari segi tematik.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Film

Dinamika Mutakhir di Seputar Sinema Asia Tenggara

Dewasa ini, nyaris merupakan hal yang musykil untuk mendapati sebuah festival film internasional bergengsi tidak memasukkan film-film dari kawasan Asia Tenggara dalam daftar peserta. Asia Tenggara, diwakili terutama oleh Thailand, Malaysia, Indonesia, Singapura, telah menjadi satu entitas penting yang tak dapat dikesampingkan oleh para pengelola festival di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain: perbincangan mengenai perkembangan sinema dunia akan menjadi tak lengkap apabila tidak ada karya-karya yang mewakili kawasan Asia Tenggara tersebut.

Minat dan ketertarikan dunia terhadap Asia Tenggara agaknya merupakan pergeseran, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perluasan, dari minat dan ketertarikan terhadap sinema dari sejumlah negara lainnya di Asia yang non-Asia Tenggara. Jepang dan India, misalnya, sudah sejak tahun 1940-an ikut terjun meramaikan gelanggang percaturan sinema dunia itu, disusul kemudian oleh Cina Daratan dan Hong Kong. Pada periode yang lebih kontemporer, daftar tadi bertambah pula dengan Iran, Taiwan, dan Korea Selatan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film

Ada Apa dengan Sinema Kita?

(Tulisan ini sudah dimuat di majalah Harpers Bazaar edisi Indonesia, bulan April 2002, dengan pemenggalan di beberapa tempat. Berikut ini versi aslinya)

Saat tulisan ini dibuat, film “Ada Apa dengan Cinta” sudah menyedot 1,2 juta penonton, dan jumlah ini masih akan terus bertambah. Sementara “Jelangkung” masih bertahan di sejumlah bioskop, sejak pertama kali diputar 5 Oktober tahun lalu. Beberapa film baru juga siap menggebrak pasar. Apakah ini semua pertanda revivalisasi (kebangkitan kembali) sinema Indonesia? Jangan buru-buru menepuk dada, karena perjalanan masih panjang.

Ketika banyak perempuan selebritis berkumpul di Taman Ismail Marzuki menyaksikan pementasan “Vagina Monolog”, Jumat malam, 8 Maret 2002, Mira Lesmana ternyata memilih berada di rumah. Malam itu, dalam komunikasi SMS (short messaging service) dengan penulis, Mira mengaku bahwa dia sebenarnya diminta ikut menjadi salah satu artis pendukung pementasan tersebut. Namun dia harus menemani anak-anaknya di rumah, karena, “Besok pagi (Sabtu, 9 Maret), saya harus ke Bandung, untuk hadir di acara diskusi Ada Apa dengan Cinta? di Jurusan Filsafat, Universitas Parahyangan,” begitu bunyi pesan SMS-nya.

Mira Lesmana memang jadi jauh lebih sibuk sebulan terakhir ini, melayani berbagai permintaan untuk tampil dalam sejumlah diskusi, juga melayani permintaan wawancara berbagai media. Itu semua karena film yang diproduksinya bersama Riri Riza, Ada Apa dengan Cinta? (AADC?) “meledak” di bioskop. Persis sebulan sejak pertama kali diputar untuk umum, 8 Februari lalu, AADC? telah menyedot 1,2 juta penonton, sebuah angka yang terbilang sangat fantastis untuk film Indonesia. Apalagi jika diingat bahwa angka itu sudah bisa dipastikan akan terus bertambah, karena sampai saat ini AADC? masih bertahan di sejumlah bioskop kelas atas. Antrean juga masih terlihat di muka loket penjualan tiket, meskipun sudah tidak sehebat pada pekan-pekan pertama.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film

Berbagi Suami di Cannes

Indonesia bolehlah berbangga di Festival Film Cannes (FFC) tahun ini. Di ajang festival film paling bergengsi di dunia ini, setidaknya ada tiga peristiwa yang membawa nama Indonesia. Pertama adalah pemutaran film Berbagi Suami karya Nia Dinata, lalu penayangan film Serambi karya empat sutradara Indonesia, dan acara perhelatan cocktail dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Film Berbagi Suami diputar di pasar film di salah satu teater kecil di kompleks Palais des Festival dengan kapasitas sekitar 50 tempat duduk. Kursi ini terisi penuh pada acara yang diprakarsai Departemen Luar Negeri Perancis itu. Hampir semua penonton adalah orang asing. “Saya bersyukur sekali, karena penayangan tadi berlangsung lancar,” kata Nia Dinata, sang sutradara film itu.

“Tadinya saya agak was-was juga, khawatir kalau-kalau bioskopnya tak terisi penuh,” komentar Shanty, salah satu pemeran utama di film itu. Sampai pertunjukan bubar, hampir seluruh penonton masih bertahan. Hanya ada seorang yang meninggalkan tempat di tengah-tengah pertunjukan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film

Asia Menyerbu, Indonesia Harus Menunggu

HAMPIR setiap tahun film-film dari kawasan Asia selalu mencuri perhatian di Festival Film Cannes. Bagi Festival Film Cannes, film-film yang dibuat para sineas dari Asia dianggap menawarkan alternatif bagi sinema dari dunia Barat, baik dari segi tematik, cara bercerita, maupun dalam hal penyajian problem psikologis dan cara penyelesaian konfliknya.

Memang demikianlah galibnya: Asia adalah sebuah entitas yang berbeda dari Barat, dengan berbagai keunikan, keragaman, dan kekayaannya sendiri. Alternatif ini menjadi sangat penting apabila diletakkan dalam konteks kondisi global saat ini, di mana upaya dialog antarberbagai entitas kultural yang berbeda semakin dibutuhkan, baik dari segi kualitas maupun kesinambungannya. Itulah salah satu upaya yang mungkin bisa menjawab tantangan dunia masa kini, yang salah satunya bersumber pada absennya, atau kurang efektifnya, pertukaran pikiran dan gagasan di antara entitas kultural yang berbeda-beda itu.

Pada Festival Film Cannes (FFC) Ke-58 tahun ini, kehadiran Asia pun sangat nyata. Mari kita lihat data-data dasar yang sederhana berikut ini. Nama John Woo, sutradara asal Hongkong yang beberapa tahun silam pindah berkarya di Amerika, termasuk salah satu nama di antara sembilan anggota dewan juri. Seorang sutradara terkemuka lainnya dari Asia, persisnya dari Taiwan, Edward Yang, dipercaya sebagai ketua dewan juri untuk film pendek dan Cinefoundation. Lalu Abbas Kiarostami, sutradara terkemuka dari Iran yang sudah malang melintang dengan film- film karyanya di FFC, tahun ini diberi tugas menjadi ketua dewan juri untuk seksi Kamera Emas (penghargaan tertinggi dari FFC untuk film pertama atau kedua dari seorang sutradara).

Read the rest of this entry »

Filed under: Film