Arya Gunawan

Icon

Awas, Periuk Api!

Salah satu kesimpulan cukup penting yang muncul dari pertemuan ke-20 Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia (Mabbim), September tahun lalu adalah tentang 400 ribu kata dan istilah Bahasa Melayu yang telah berhasil disepadankan di antara para pengguna bahasa ini di tiga negara “serumpun”, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Penyelarasan kata dan istilah di antara ketiga negara ini tentu dapat memperat hubungan bertetangga; sedikit-banyak mungkin bisa menjadi peredam berbagai gesekan yang belakangan cukup kerap terjadi, mulai dari urusan tenaga kerja, penebangan liar hutan, hingga perkara asap.

Namun jalan untuk memperbanyak kata dan istilah yang selaras ini agaknya masih panjang. Jika Anda orang Indonesia yang kebetulan sedang berada di Bandar Seri Begawan, sempatkanlah melepas waktu di sekitar ruas Jalan Sultan. Di jalan yang terletak di pusat ibukota Brunei Darussalam itu, pada ujung yang dekat ke kantor pelabuhan, berderet sejumlah toko. Nama toko-toko ini mungkin akan “tak berbunyi” di telinga sebagian besar kita, kendati menggunakan Bahasa Melayu: “Restoran Rosmawati binti Kamis dan Anak-Anak”, di sebelahnya ada “Kedai Jam Timur”, lalu ada “Restoran Gerak Bersatu”, “Syarikat Optik Bantu Cerah”, “Kedai Emas dan Jam Bermutu Tulin”, “Sharikat Optik Anak Besar”, dan “Gedung Serbaneka Indah Mewah Sdn. Bhd.”

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Bahasa

Nya Ini Siapa Punya?

Berikut ini penggalan fitur-berita berjudul “Wali Kota Itu Siswa Kelas I SMA” (Koran Tempo, 30/11/2005). Sessions dibayar US$ 3.600 setiap bulannya untuk bekerja sebagai wali kota selama tiga jam setiap harinya, pukul 15.00-18.00. Sehabis itu, kata Kepala Sekolah SMA Hillsdale, Peter Beck, ia tetap harus mengerjakan pekerjaan rumahnya. “Saya sudah bilang ke dia,” katanya. Penggalan itu menceritakan Michael Sessions (18), wali kota termuda dalam sejarah Amerika Serikat. Ada empat -nya di situ yang berpeluang membingungkan pembaca.

Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa

Hantu Blau Sudi Silalahi

“Naudzubillah, tak ada keuntungan apa pun yang saya ambil dari surat itu. Saya kenal pun tidak dengan PT hantu belawung mana itu?” Kutipan ini terdapat di rubrik Album, majalah Tempo edisi 27 Februari-5 Maret 2006. Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang mengucapkannya di hadapan Komisi Pemerintahan DPR, terkait dengan suratnya “mempromosikan” PT Sun Hoo Engineering untuk merenovasi gedung Kedutaan Besar RI di Seoul. Sudi sendiri membantah jika dikatakan ia ingin memetik keuntungan pribadi dari surat tersebut.

Tulisan ini ingin mengusut istilah hantu belawung dari Sudi itu. Ia menarik, antara lain, karena fakta-fakta berikut. Di edisi yang sama, dalam laporan utamanya, Tempo menuliskannya dalam bentuk yang tak serupa. Kutipannya: “Hingga detik ini, saya tidak pernah mengenal, menemui, apalagi memberi rekomendasi kepada perusahaan hantu brau itu (yang dimaksud adalah Sun Hoo).” Lalu, sang “hantu” ini dikutip oleh Koran Tempo, 24 Februari 2006, di halaman muka, dalam penampakan yang berbeda pula, yakni: “Naudzubillah min dzalik. Tidak ada keuntungan apa pun yang saya ambil dari surat itu. Saya kenal pun tidak dengan PT Hantu Belau mana itu.”

Mengapa sebuah istilah yang diucapkan oleh orang yang sama, untuk masalah yang sama, dikutip dalam tiga versi berbeda? Mana yang benar? Walau saya tak sempat mendengarkan saat Sudi mengatakan hal itu, saya sepenuhnya yakin bahwa yang dimaksud adalah hantu blau (bisa juga ditulis sebagai belau seperti dikutip Koran Tempo). Mengapa majalah Tempo keliru? Kemungkinannya adalah sang reporter tidak cermat mendengarkan; sang wartawan yang menuliskannya dan sang redaktur bahasa yang memeriksanya tidak memiliki rujukan tentang istilah tersebut. Sayangnya, Tempo yang majalah tak berdiskusi dengan saudaranya, Tempo yang koran.

Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa