Arya Gunawan

Icon

Catatan atas sejumlah berita Koran Tempo edisi Rabu, 21 April 2010

Kawan-kawan,

Posting ini berisi catatan mengenai berita Koran Tempo edisi hari ini, Rabu 21 April 2010, yang saya tulis untuk jadi bahan perenungan dan pelajaran kita semua, orang-orang yang menempatkan profesi jurnalisme sebagai bagian dari jiwa dan darah daging mereka. Ini juga saya maksudkan sebagai kritik konstruktif untuk Koran Tempo (mudah-mudahan tidak disalahtafsirkan).

Setidaknya saya menemukan tiga berita yang memiliki persoalan di edisi hari ini (yang saya daftar di bawah dari yang ringan ke yang berat):

  1. Berita berjudul “Banyak Jalan Menuju Runway Budiarto” (halaman B1): kata “runway” seingat saya sudah ada padanannnya, yakni “landasan pacu” atau bisa pula dipersingkat menjadi “landasan” saja. Kesalahan yang agak sedikit lebih tinggi bobotnya pada berita ini adalah kalimat “Sambungan telepon tak dijawab, pesan pendek pun diacuhkan” yang terdapat di kolom kedua, alinea kedua. Kalimat ini melukiskan tidak berhasilnya Koran Tempo mengubungi Kepala Bandar Udara Budiarto, Agus Santosa, untuk mencari penjelasan mengenai kecelakaan ditabraknya satu sepeda motor (yang menewaskan pengendara dan orang yang membonceng) oleh satu pesawat latih yang baru mendarat di landasan pacu bandar udara tersebut. Kata “diacuhkan” pada kalimat tersebut seharusnya ditulis “tak diacuhkan”. Masih sering memang kita jumpai kerancuan tentang penggunaan kata “acuh” ini. “Mengacuhkan” bermakna memperhatikan, menanggapi. “Acuh tak acuh” bermakna “seakan tidak tahu”, “tidak begitu memperhatikan”, alias “cuek” menurut bahasa gaul anak muda zaman sekarang. “Tak acuh” = tak memperhatikan, tak memberikan tanggapan. Kerancuan ini mirip dengan yang terjadi pada kata “bergeming” versus “tak bergeming” (yang pertama bermakna “kokoh pada posisinya”), atau juga “sewenang-wenang” dan “semena-mena” (kedua frasa ini saling menegasi satu sama lain. Jadi “tidak semena-mena” = “sewenang-wenang”. Namun kian banyak saja yang memperlakukan keduanya sebagai bermakna sama).
  2. Berita berjudul “Warisan (Atau Arisan) Dunia di Raja Ampat” di halaman B4 bersambung ke B5 (centre-spread alias bentangan-tengah halaman): ada beberapa foto (jumlah persisnya 11) yang juga dimuat sebagai pendukung tulisan tersebut. Di halaman B5 ada dua foto, yakni nomor 7 dan nomor 11, memiliki teks keterangan foto yang sama (berisi nama latin ikan yang dijumpai di kawasan Raja Ampat, tempat Mas Farid Gaban sedang menuju dalam petualangannya saat ini), yaitu sama-sama “Chrysiptera giti”. Saya menduga ada kekeliruan di sini, sebab kendati namanya sama, foto ikan yang ditampilkan sangat berbeda secara mencolok satu sama lain. Jika dugaan saya benar, maka Koran Tempo telah “tidak cermat” (meminjam istilah Kejaksaan Agung dalam menilai perilaku Cyrus Sinaga dan kawan-kawan yang memeriksa perkara makelar pajak Gayus Tambunan) memasang foto dan memberikan keterangannya. Kita tahu, ketidakcermatan adalah bahasa lebih halus untuk ketidakuratan. Dan kita juga tahu bahwa akurasi adalah salah satu pilar penting profesi jurnalisme.
  3. Berita berjudul “Gubernur Golkar Tersangka Kasus Korupsi Rp 51 Milyar”, dimuat sebagai berita utama di halaman muka. Isinya tentang ditetapkannya Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, sebagai tersangka oleh KPK, lantaran diduga menyelewengkan anggaran APBD Kabupaten Langkat, Sumut, di masa Syamsul menjabat sebagai Bupati tahun 2000-2007. Berita ini, menurut hemat saya, bisa ditafsirkan sebagai mengandung bias. Penyebabnya, judul berita memasang kata-kata “Gubernur Golkar” untuk memberikan predikat/atribusi/sebutan yang dilekatkan kepada diri Syamsul. Memang ada sangkut-paut Syamsul dengan Golkar, dan itu didedahkan oleh penulis berita ini di alinea ke-4, lewat kalimat sbb: “Syamsul, yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, dan sejumlah partai kecil, terpilih sebagai Gubernur Sumut pada Juni 2008. Tahun lalu ia merapat ke Golkar dan terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Sumut.” Kalaupun hendak disebut, mungkin lebih tepat jika Syamsul dikaitkan dengan PKS yang menjadi pendukung utama saat pencalonannya sebagai Gubernur. Namun cara yang lebih netral pun sebetulnya tidaklah sulit untuk ditemukan dalam menyusun judul tadi, agar tidak mengundang pertanyaan sebagian pembaca (seperti saya ini, misalnya). Cara tersebut adalah: cukup dengan menyebutkan Syamsul sebagai “Gubernur Sumut”. Barulah di dalam tubuh berita bisa disajikan informasi mengenai latar belakangnya, termasuk kaitannya dengan Golkar sejak dia terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Sumut itu.

Saya tidak ada kepentingan apapun dengan Golkar (juga seluruh partai politik dan organisasi massa yang ada di Indonesia). Saya hanyalah seseorang yang mencoba tetap mandiri, tidak mau dikotak-kotakkan pada satu kelompok/kepentingan tertentu. Bahkan sampai sekarang saya tetap tidak sepenuhnya percaya pada Golkar, setelah bertahun-tahun di era Soeharto dulu menyatakan diri dengan tegas sebagai orang yang anti-Golkar dan anti-Soeharto. Saya hanya risau saja, karena cara pemberitaan yang dipilih Koran Tempo khusus untuk berita ini, bisa dilihat sebagai menyimpan nuansa bias. Misalnya saja, orang bisa menafsirkan bahwa Koran Tempo memang sedang ingin “menyerang” Golkar, terutama dalam kaitannya dengan skandal Century. Kita tahu peta besarnya, bahwa Golkar termasuk yang paling gencar menggugat skandal Century ini, di dalam maupun di luar pansus angket Century DPR. Bias yang sama juga bisa dirasakan dalam editorial/tajuk Koran Tempo edisi 17 April 2010 (http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/04/17/ArticleHtmls/17_04_2010_0 03_003.shtml?Mode=1), yang juga sudah dipersoalkan oleh seorang bernama Chris Komari (yang sempat diposting oleh kawan Satrio Arismunandar di milis jurnalisme ini hari Selasa kemarin).

Adakah komentar dari kawan-kawan lain di milis ini? Syukur-syukur jika ada kawan Koran Tempo yang mau ikut memberikan tanggapan, sehingga bisa memperkaya pemikiran kita semua.

Trims dan salam,

Arya Gunawan

Filed under: Jurnalisme, Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: