Arya Gunawan

Icon

Catatan atas Kompas edisi Kamis, 22 April 2010

Kawan-kawan,

Mumpung kebetulan ada waktu luang di sela-sela rehat jam makan siang, saya menyempatkan diri lagi membuat catatan mengenai “kekurangan”/”kelemahan” isi koran kita, seperti yang saya lakukan untuk Koran Tempo kemarin pagi (sebetulnya juga di beberapa kesempatan lainnya di masa sebelumnya). Saya kira sangat baik jika setiap hari ada catatan-catatan kecil seperti ini (sebagaimana dianjurkan oleh salah seorang anggota milis jurnalisme ini, Sdr. Eko Bambang Subiantoro alias Kinyur yang kemarin ikut mengomentari catatan saya tentang ini Koran Tempo). Setiap kawan anggota milis yang merasa punya waktu senggang di pagi atau siang hari sesudah melahap isi koran-koran, bisa membuat komentar, atau juga kritik, terhadap hasil bacaan/amatannya itu, dari berbagai aspeknya (baik itu dari aspek bahasa, sudut pandang, kelengkapan berita, bahkan mungkin dugaan-dugaan yang terkait dengan masalah agenda-setting media). Saya sendiri lumayan kerap melakukan ini, kadangkala untuk saya simpan sebagai bahan tulisan di kemudian hari jika waktunya tepat, atau untuk saya jadikan bahan saat memberikan pelatihan dan kuliah; kadangkala saya kirimkan langsung lewat japri kepada pengasuh media yang bersangkutan (terutama Koran Tempo dan bekas almamater saya, Kompas).

Saya yakin sepenuhnya, catatan-catatan sederhana seperti ini akan membawa banyak maslahat, kalau bukan untuk perkembangan/kemajuan jurnalisme Indonesia secara keseluruhan (media mungkin akan lebih berhati-hati dalam mengemas produknya karena tahu ada sejumlah “detektif partikelir” yang terus memasang mata terhadap sepak terjang mereka), ya setidak-tidaknya akan terus menanamkan sikap awas untuk diri sendiri (bagi si pemuat catatan/komentar). Ini semacam lembaga pemantau media yang tidak terorganisasi/terlembaga, ya namanya juga partikelir. Upaya semacam ini juga baik untuk ikut memberikan sedikit sumbangsih bagi “pendidikan” literasi media.

Saya tahu, banyak anggota milis ini yang jeli dalam mengamati isi media. Ada Mbak Sirikit (yang memang aktivis lembaga pemantau media), ada Bung Alfian Hamzah (yang juga gemar menguliti berbagai kejanggalan dan bias yang disebarkan oleh media), ada Ikram Putra (yang juga awas melihat hal-hal aneh dalam berita media, bahkan sampai ke hal-hal kecil yang hampir pasti luput dari pengamatan orang kebanyakan), ada Bung Item (yang pikiran-pikirannya seringkali nakal dan “tak biasa”), lalu ada orang-orang Mas Farid Gaban, Oom Dandhy dan Oom Hertasning (yang juga akan bereaksi melihat kemungkinan berbagai agenda terselubung yang dibawa oleh media), dan masih banyak nama lainnya yang capek jari saya jika harus menuliskannya semua di sini. Ayolah kawan-kawan, kita jadikan hobi catat-mencatat ini sebagai tradisi yang mudah-mudahan akan terus menyalakan api milis jurnalisme ini.

Hari ini saya mengambil Kompas edisi hari ini, Kamis, 22 April 2010, sebagai sampel. Berikut temuan saya:

  1. Di lembar Liputan Khusus Indonesia-China yang berjumlah empat halaman (dari halaman 33 hingga 36), ada tulisan berjudul “Merentas Kembali Hubungan Persahabatan” (di halaman 35). Kata “merentas” yang dipakai dalam judul laporan ini sebetulnya bukanlah bentuk awal yang baku, melainkan merupakan perkembangan/pengembangan/perjalanan lebih lanjut dari bentuk aslinya, “meretas” (kata dasarnya: “retas”, tanpa huruf “n”)). Memang, keduanya masuk sebagai lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun sepatutnyalah dijadikan pilihan yang pertama.Ini saya kutipkan makna dari kedua kata tersebut sebagaimana yang termaktub dalam KBBI edisi online:

    1re*tas a sudah putus benang jahitannya; terbuka jahitannya (kelimnya dsb): jangan memakai pakaian yg sudah –; me*re*tas v 1 memutuskan benang-benang pd jahitan: ~ kelim; 2 membuka (surat) dng pisau; 3 membedah atau membelah kulit (karung dsb): krn putus asa, ia ~ perutnya sendiri dng sebilah pisau; 4 menebangi pohon untuk membuat jalan; merintis; merentas; 5 menembus dng merusak dinding dsb: pencuri itu lolos setelah ~ dinding kamarku; pe*re*tas n 1 orang yg meretas jalan dsb; 2 alat yg dipakai untuk meretas sesuatu; pe*re*tas*an n perlakuan pendahuluan untuk memperlunak atau menipiskan kulit benih

    rentas, me*ren*tas v 1 meretas; memintas; 2 merintis: ~ jalan

    Kompas sendiri terkesan tidak memiliki ketetapan dalam penggunaan kedua kata tersebut, karena banyak juga kita jumpai berita/laporan di Kompas yang memakai “meretas”.

    Lebih dari itu, saya menduga ada kerancuan makna juga bagi para pengguna kata “meretas” ini (baik pada penulis luar/penyumbang kolom, maupun pada redaktur bahasa di Kompas sendiri yang telah membiarkan kerancuan makna ini berlangsung terus tanpa koreksi). Lihatlah misalnya tulisan “Meretas Budaya Kekerasan”, oleh Aloys Budi Purnomo yang dimuat di rubrik kolom/opini pada edisi Jumat, 16 April 2010, halaman 6. Tulisan ini intinya merisaukan kian banyaknya kekerasan yang terjadi di Tanah Air kita ini. Sang penulis, yang juga seorang rohaniawan, tentu saja menganjurkan agar budaya kekerasan ini segera dihentikan (termasuk juga dengan merujuk program/kegiatan membangun budaya damai yang banyak dikerjakan oleh UNESCO, lembaga tempat saya bertugas). Jika inti tulisannya adalah menganjurkan kita semua keluar dari budaya kekerasan itu, maka judul tulisan tersebut justru bermakna sebaliknya, karena makna dari kata “meretas” adalah membuka jalan.

    Atau lihat juga contoh lainnya, yakni tulisan berjudul “Saatnya Meretas Kesenjangan” (merupakan bagian terakhir dari lima seri tulisan tentang Otonomi Sulawesi Barat yang dilaporkan wartawan Kompas, M Toto Suryaningtyas) yang dimuat di Kompas, edisi Senin, 5 April 2010, halaman 4. Perhatikan penggunaan kata “meretas” pada judul laporan tersebut, yang tentu saja dimaksudkan oleh sang penulisnya sebagai “menghapuskan”, “memutus”, “mengurangi”. Namun penggunaan kata “meretas” tadi (dengan merujuk kepada makna yang dijabarkan oleh KBBI) tentu saja bertentangan dengan apa yang ingin diniatkan oleh tulisan tersebut. Ataukah barangkali terjadi kerancuan dengan kata lain yang tulisannya mirip, dan maknanya dekat-dekat ke apa yang hendak dituju oleh laporan tersebut? Kata tersebut adalah “entas”. Jika kita rujuk ke penjelasan mengenai kata ini di KBBI, maka ada di antara makna yang termuat di situ yang cocok dengan isi laporan tadi.

    en*tas v, meng*en*tas v mengangkat (dr suatu tempat ke tempat lain): ~ sayuran yg sedang direbus; 2 mengeluarkan dr lingkungan cairan; 3 ki menyadarkan; memperbaiki nasib: pemerintah berupaya ~ mereka yg terjerumus ke lembah kenistaan; meng*en*tas*kan v 1 mengentas untuk orang lain; 2 ki memperbaiki (menjadikan, mengangkat) nasib atau keadaan yg kurang baik kpd yg (lebih) baik: para menteri diminta untuk ~ petani kecil melalui program transmigrasi; ter*en*tas v sudah dientas; ter*en*tas*kan v dapat dientaskan; peng*en*tas*an n proses, cara, perbuatan mengentas atau mengentaskan: — masyarakat dari kemiskinan

    Masih banyak lagi contoh-contoh pemakaian kata “meretas” oleh Kompas dengan cara yang kurang tepat (misalnya saja ada judul “Mencoba Meretas Caleg Berkualitas” di Kompas.com edisi Kamis, 5 Februari 2009), di samping tentu saja ada banyak kasus juga dimana Kompas menggunakannya secara tepat. Salah satunya seperti berita berjudul “Repvblik Meretas Jalan “Go International””, yang saya kutip dari situs kompas.com edisi Jumat, 29 Januari 2010, pukul 19:03 WIB. Isi beritanya tentang kelompok band “Repvblik” yang mendapatkan sambutan hangat di kawasan Asia Tenggara.

    Mungkin kawan-kawan di Kompas, terutama penjaga gawang bahasa, bersedia berbagi pendapat di milis ini?

  2. Ada dua berita “kembar” (tidak 100% identik) yang dimuat di halaman berbeda di edisi hari ini. Yang satu dimuat di rubrik Kilasan Kawat Sedunia halaman 11, di bawah “dateline” Washington. (Catatan: “dateline”, dan bukan “deadline”. “Dateline” adalah rujukan kepada tanggal dan tempat pada sebuah berita jurnalistik, sedangkan “deadline” ya garis-mati, batas dimata jika tulisan/berita kita tidak disetorkan maka bisa membuat suratkabar/majalah kita mati sungguhan karena alamat akan telat tiba di tangan pembaca). Sedangkan saudara/i kembarnya dimuat di halaman 13, di ruang Kilas Iptek, di bawah judul “Remaja Lebih Suka Kirim Pesan Singkat”. Inti dari kedua berita tersebut sama, yakni tentang kecenderungan remaja di Amerika Serikat dalam menggunakan perangkat teknologi baru di bidang komunikasi. Kedua berita itu memang ditulis oleh wartawan yang berbeda, sumbernya pun berbeda (satu dari BBC, satu lagi dari salah kantor Reuters dan/atau AFP). Namun hulu/pangkal/sumber awal dari berita ini sama, yakni hasil riset dari Pew Research Centre.

    Kejadian seperti ini tentu timbul karena kurangnya koordinasi/sinkronisasi para pengasuh antarrubrik.

  3. Di halaman 17, terpampang foto yang cukup menarik dan tidak kerap kita lihat, yaitu diturunkannya gerbong kereta rel listrik (ini gerbong bekas, dari Jepang) dari kargo yang membawanya, di pelabuhan Tanjungpriok, pada Rabu malam kemarin. Foto tersebut memuat keterangan/teks yang menyebutkan bahwa gerbong yang diturunkan itu berjumlah 10 unit, merupakan gelombang pertama dari total 40 unit yang dipesan PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (sebagian dari gerbong ini mungkin akan saya gunakan juga kelak, karena sudah bertahun-tahun saya memang menjadi pengguna dan pencinta kereta api komuter yang membawa saya dari tempat tinggal saya ke tempat saya bekerja sehari-hari di Jakarta, sehingga saya relatif terbebas dari kemacetan yang kian parah di Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya). Saya sebetulnya mengharapkan ada berita yang lebih rinci mengenai peristiwa ini. Sebab, program impor gerbong bekas dari Jepang yang dilakukan di periode sebelumnya, persisnya tahun 2006-2007, diduga telah terjadi patgulipat yang merugikan negara. Beberapa nama sudah diperiksa oleh KPK, termasuk petinggi yang mengurusi bidang. Hatta Radjasa yang saat impor tersebut dilaksanakan masih menjabat sebagai Menteri Perhubungan, sempat pula disebut-sebut akan dimintai keterangan oleh KPK mengenai kasus ini. Di bagian paling bawah nanti, akan saya kutipkan beberapa berita mengenai kasus ini. Jadi, untuk kedatangan gerbong kali inipun, saya berharap dengan sangat agar media memasang radar dan penciuman yang tajam, untuk mendeteksi dan mengendus kemungkinan terjadinya persoalan yang mirip dengan apa yang muncul di periode sebelumnya itu.Saya memang merasakan “nikmatnya” menjadi pengguna kereta, karena bisa terbebas dari belenggu kemacetan yang tak berkesudahan yang melilit Jabodetabek (sebagai gambaran, jarak Jakarta ke kawasan tempat saya tinggal jika ditempuh dengan mobil di jam normal bisa menghabiskan masa sekitar satu jam. Angka ini bisa berlipat 1,5 kali bahkan dua kali di jam-jam padat. Sedangkan dengan kereta komuter, waktu tempuh perjalanan kereta hanya sekitar 25 menit, ditambah sambungan angkutan kota dan ojek sekitar 15 menit untuk sampai di rumah. Jadi, dengan berkereta komuter, saya benar-benar diringankan dari segi waktu, keletihan fisik, pikiran, emosi). Kendati begitu, terus terang saja saya harus mengelus dada lantaran gerbong kereta komuter bekas Jepang yang sekarang beroperasi di wilayah Jabodetabek itu usianya sudah lebih dari 30 tahun (di beberapa gerbong tersebut tertera dengan jelas tahun awal beroperasinya, yakni di sekitar 1970-an). Jadi, sebetulnya kita benar-benar menerima barang buangan. Kalau kemudian pengadaannya ditunggangi oleh kepentingan dan niat busuk dari para koruptor begundal itu, maka rasa sedih yang ditunjukkan dengan mengelus dada tadi berubah menjadi amarah.Jadi, sekali lagi, saya berharap ada media yang mau mengorek-ngorek lebih jauh kalau-kalau ada sesuatu yang menyimpang dari proses pengadaan gerbong bekas tersebut. Mudah-mudahan Kompas mau melakukannya di hari-hari ke depan ini, agar jangan hanya sekadar memajang fotonya semata.
  4. Boleh ya menoleh ke belakang sedikit, ke Kompas edisi kemarin (Rabu, 21 April 2010)? Dari kemarin sebetulnya saya ingin menulis tentang berita ini, namun tak sempat. Saya tempatkan di bagian akhir catatan saya, karena isinya terkait dengan puisi, sehingga mudah-mudahan kita menjadi sedikit rileks setelah berkerut jidat dengan tiga butir catatan di atas. Di halaman 14 Kompas edisi kemarin itu, ada tulisan berjudul “Bisa Tidur Ribuan Tahun”, tentang gunung di Islandia yang menyemburkan abu dan telah mengakibatkan persoalan serius di dunia penerbangan. Menjelang penuutup, tulisan itu mennyebutkan bahwa abu dari letusan gunung api memang bisa membawa dampak dahsyat bagi bumi, misalnya saja letusan Gunung Tambora di Sumbawa, yang terjadi di bulan April 1815, dengan dampak yang masih terasa hingga tahun berikutnya (pada tahun 1816 di Amerika Serikat dikenal sebagai “The Year without a Summer”). Lalu tulisan tersebut ditutup dengan rangkaian kalimat yang berasal dari puisi berjudul “Darkness: yang digubah penyair Inggris. Lord Byron, untuk menggambarkan suasana alam di tahun setelah letusan Tambora tersebut: “Terang matahari lenyap, juga bintang; Meninggalkan kegelapan di ruang angkasa tak bertepi; Tak ada sinar, tak ada jejak, bumi bagai bongkah es; Semua menjadi buta dan menghitam di udara tanpa bulan; Pagi datang dan pergi dan datang lagi dan tak ada hari; Dan manusia lupa akan kepeduliannya di tengah rasa takut; tercekam akan kepedihan ini….”Kutipan dari Lord Byron tersebut tidak mencantumkan syair aslinya. Sekarang saya salinkan, dengan baris-baris awal berbunyi sbb:

    I had a dream, which was not all a dream.
    The bright sun was extinguish’d, and the stars
    Did wander darkling in the eternal space,
    Rayless, and pathless, and the icy earth
    Swung blind and blackening in the moonless air;
    Morn came and went–and came, and brought no day,And men forgot their passions in the dread
    Of this their desolation; and all hearts
    Were chilled into a selfish prayer for light;

    (LANJUTANNYA MASIH PANJANG. BAGI YANG BERMINAT, TINGGAL CARI SENDIRI DI
    INTERNET)

    Saya ingin mencatat mengenai kutipan yang tertera di Kompas itu, yakni pada bagian “Pagi datang dan pergi dan datang lagi dan tak ada hari;”. Perhatikan lebih rinci pada bagian “dan tak ada hari”. Jika kita rujuk ke naskah aslinya, bunyinya adalah “and brought no day”. Tentu benar bahwa “day” bisa bermakna “hari” (inilah makna umum yang biasa kita pahami). Namun ia juga bisa bermakna “siang” (misalnya pada kalimat ini: “I always think of you day and night = Aku sentiasa mengingat dirimu, siang dan malam”. Catatan: “sentiasa” adalah kata dari bahasa Melayu Malaysia yang maknanya sama dengan “senantiasa” dalam bahasa Indonesia).

    Jadi, saya kira, terjemahan yang lebih tepat untuk penggalan yang saya kutip barusan bukanlah “dan tak ada hari”, melainkan “tak ada siang”.

Sekian dulu, seraya saya tunggu komentar, tanggapan, juga berbagai argumen yang berbeda dari kawan-kawan lain.

Trims dan salam,

Arya

(btw, jangan lupa untuk melongok ke bawah, dimana saya salinkan kutipan berbagai berita mengenai kasus dugaan korupsi dalam pengadaan/impor gerbong-gerbong kereta eks-Jepang itu. Percayalah, ternyata nikmat juga naik kereta api, kendati gerbongnya gerbong bekas, dengan syarat: tidak ada korupsi dalam pengadaan maupun penggunaannya!!!).

Filed under: Jurnalisme, Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: