Arya Gunawan

Icon

Mengenang dan Merindu “Si Kuncung”

Jika sebuah pertanyaan diajukan kepada saya mengenai hal-hal apa saja yang telah ikut memberi pengaruh pada jalan hidup saya, maka saya tidak akan ragu-ragu untuk memasukkan “majalah anak-anak Si Kuncung” sebagai salah satu jawabannya.

Pertama kali saya mengenal Si Kuncung saat duduk di kelas II atau III SD, menjelang pertengahan tahun 1970-an. Ketika itu usia saya belum genap 10 tahun. Ayah saya yang memperkenalkan saya kepada Si Kuncung. Di kota kelahiran saya, Jambi, majalah ini hanya dijual di satu tempat: yaitu di kantor pos besar, yang berjarak tak sampai sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Sejak saya mengenal Si Kuncung, saya bagai terkena hipnotis, sehingga sulit bagi saya untuk tidak segera menamatkannya dalam sekali duduk.

Begitu isi seluruh majalah yang berjumlah 16 halaman itu usai dilahap, saya merasa amat bahagia karena seperti telah diajak berpetualang ke tempat-tempat yang sama sekali belum pernah saya kunjungi: dari Jakarta, lalu melompat ke tempat-tempat lain di Pulau Jawa, lalu terlontar jauh hingga ke tempat-tempat di wilayah Timur Indonesia. Kisah-kisahnya beragam, mulai anak-anak yang bergelimang lumpur saat menggembala kerbau, atau yang dengan riang-gembira membuat permainan dari tumbuhan yang bisa ditiup dan mengeluarkan suara melengking, atau yang ikut dalam perburuan ikan paus.

Hampir tiada aspek penting bagi pertumbuhan jiwa seorang anak yang tak dicakup oleh isi Si Kuncung: nilai persahabatan, kejenakaan dunia anak-anak, keberanian, kejujuran, kesederhanaan, kesediaan menolong dan meringankan penderitaan orang lain, sampai kelucuan yang bernuansa getir. Di salah satu terbitannya, misalnya, Si Kuncung menampilkan kisah sampul yang judulnya – kalau saya tak salah ingat – “Bercukur Separuh”, mengisahkan tokoh utamanya yang tengah bercukur di tukang pangkas, namun tiba-tiba ada kerbau mengamuk. Orang-orang lari berhamburan, termasuk si tukang cukur. Tinggallah si tokoh utama kita ini yang nelangsa karena rambutnya baru dipangkas separuh. Bukankah ini sebuah komedi situasi yang sangat mengasyikkan, yang terasa begitu nyata dan amat dekat dengan kita?

Sejak kenal pertama itu, saya seperti tak hendak melepaskan diri lagi dari daya pukau Si Kuncung. Karena itu pula, di samping merasa bahagia setelah menamatkan satu edisi, saya sekaligus juga merasa sedih, karena merindukan terbitnya edisi baru bulan berikutnya. Menunggu terbitnya edisi baru itu adalah sebuah pekerjaan yang mendebarkan, mungkin dapat diibaratkan seperti seorang remaja puber yang tengah menanti dengan penuh debar datangnya kekasih hati.

Beberapa tahun sebelum berkenalan dengan Si Kuncung, saya telah sempat mengenal sejumlah bacaan anak-anak, namun sebagian besar dari khasanah luar negeri, seperti Pinokio (dalam edisi Indonesia, dengan tebal mencapai 300-an halaman), juga karya-karya Laura Ingalls Wilder. Si Kuncung melengkapkan khasanah bacaan saya, karena dialah yang menyuguhkan kekayaan yang begitu berlimpah dari berbagai penjuru Indonesia. Saya bangga menjadi anak Indonesia masa itu.

Belakangan, Si Kuncung menerbitkan edisi ukuran kecil (Kuncung Kecil). Di sanalah pertama kali saya mengenal seseorang dengan nama Mohammad Sobary, lewat ceritanya mengenai monyet lucu peliharaannya yang mati karena tersengat listrik. Berpuluh tahun kemudian kita mengenal Mohammad Sobary sebagai seorang penulis yang cukup konsisten menulis. Ini jugalah menurut saya peran penting yang disumbangkan oleh Si Kuncung: membuat banyak pembacanya bermimpi untuk suatu hari kelak menjadi juru cerita yang memiliki daya pukau sedahsyat kisah-kisah di majalah itu.

Pada tahun-tahun 1970-an itu, sebetulnya Si Kuncung tidak sendiri mengisi khasanah majalah anak-anak di Indonesia. Ada beberapa nama lain, misalnya saja Nuri (terbitan Medan), dan belakangan Bobo (Jakarta). Namun Si Kuncung tetaplah yang terhebat bagi saya, dan mungkin juga bagi banyak orang lain yang tumbuh dan dibesarkan oleh majalah itu. Keunggulan utama Si Kuncung terletak pada pilihan cerita, cara penuturan, serta keragaman ceritanya.

Bertahun-tahun sesudah pertama kali mengenal Si Kuncung itu saya masih bisa mengingat sejumlah ceritanya. Salah satunya adalah “Pasukan Berani Mati”, sebuah cerita bersambung karangan Riyono Pratikto. Cerita ini, bagi saya, amat menggugah karena memaparkan semangat heroisme membela tanah air. Bayangkan, sejumlah remaja belasan tahun, masih mengenakan celana pendek, sudah memanggul senjata untuk mengusir penjajah di sekitar kawasan Ambarawa.

Si Kuncung tentu saja diasuh oleh sejumlah orang. Pemimpin redaksinya ketika itu adalah Pak Sudjati SA. Namun nama yang paling sering dikaitkan orang dengan Si Kuncung adalah Soekanto SA; Pak Kanto ia biasa dipanggil. Mengenang kembali Si Kuncung, adalah juga mengenang jasa-jasa Pak Kanto, yang dedikasinya pada dunia anak-anak bagai tak berujung. Ini tercermin dari isi Si Kuncung, dari cerita-cerita anak-anak yang digubahnya, dan juga dari setiap pembicaraan langsung dengannya.

Saya merasa beruntung, karena mengenal Pak Kanto secara langsung, kendati ketika itu saya sudah bukan lagi anak-anak. Itu terjadi di masa-masa saya menjadi mahasiswa dan sering menulis untuk Majalah Gadis. Ketika itu Pak Kanto bekerja di kelompok penerbitan Femina-Gadis. Setiap saya ke Gadis dan/atau Femina, entah menyerahkan tulisan atau mengambil honor, selalu saya sempatkan berjumpa Pak Kanto. Pak Kanto bagai tak pernah kehilangan gairah jika berbicara mengenai dua hal: dunia anak-anak, dan dunia tulis menulis. Dan jika sudah bicara ihwal Si Kuncung, Pak Kanto dengan mata berbinar menceritakan kembali suka-duka mengurus majalah anak-anak terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia itu.

Sebagai penggemar fanatik Si Kuncung, saya juga sempat mengumpulkan majalah-majalah Si Kuncung saya. Namun sekitar 15 tahun lalu, koleksi ini tak terselamatkan, dimakan lembab. Saya sering merindukan untuk bisa memiliki kembali koleksi majalah-majalah tersebut, atau memimpikan majalah ini terbit kembali. Saya memimpikan ada seorang pemodal idealis yang mau melakukan ini, atau menerbitkan majalah anak-anak baru dengan isi yang sekaya Si Kuncung. Dengan itu, anak-anak Indonesia akan mendapatkan gambaran mengenai dunia lain, sebagai alternatif dari dunia penuh gemerlap konsumeristis yang begitu dominan saat ini. Namun saya sadar, impian ini mungkin tak lagi realistis. Pesona dan daya sihir televisi dan games tampaknya akan jauh lebih memikat bagi anak-anak Indonesia masa kini.

Benih yang disemai Si Kuncung, telah melahirkan satu generasi yang berutang pada majalah legendaris itu. Saya dengan senang hati mengakui sebagai salah satu dari para pengutang itu. Bila tulisan ini sampai ke hadapan para pembaca, maka inilah salah satu cara untuk mewujudkan proses pembayaran kembali utang saya kepada apa yang telah dipinjamkan Si Kuncung kepada hidup saya. Sebuah utang yang tentu saja tak akan pernah lunas terbayar; utang abadi yang akan selalu bersama saya sepanjang usia…

Filed under: Uncategorized

7 Responses

  1. Kami adalah generasi yang sama sejaman dengan populernya majalah si Kuncung, sepintas pada saat itu apabila dikotaku telah terbitan baru majalah si kuncung saya tentu tidak asing untuk melihat ciri khas tata warna majalah yang saat itu adalah majalah anak-anak yang paling berwarna dan sangat menarik baik dari tata warna, karikatur, serta isinya sudah tidak diragukan lagi sayang kita sekarang sedikit sekali memiliki malajah anak-anak yang sekualitas dan sebagus majalah si Kuncung semoga seperti yang diidamkan kawan kita ada yang mau merespon keinginan tersebut, amien.

    wasallam
    Bambang Iswanto

  2. pram says:

    bung arya…
    apakah mungkin majalah si kuntjung diterbitkan kembali…
    dalam format dan desain masa kini…
    sebagai sarana edukasi bagi anak cucu kita?
    salam…

  3. Agus Budiono says:

    Membaca tulisan bung Arya ingatan saya kenangan saya kembali ke sekitar tahun’63 pada masa sulit ‘si Kuncung’ pernah terbit bukan dalam bentuk majalah tetapi seperti koran , saat itu ‘si Kuncung’ punya saudara kandung ‘si Kuncung Istimewa’ yang berbentuk majalah dg cover berwarna.

  4. 213 says:

    wah2 ..
    kuncung kuncung ..
    say pernah liat poster anak2 kecil berupa silhuet (di pantai ?) kayak logo si kuncung .. tapi dari luar negeri kalo gak salah ..

    ..
    si kuncung yang pertama kali saya baca bentuknya kayak intisari .. agak kecil .. critanya tentang di suatu desa .. lagi banjir .. terus belut2 pada naik ke pinggir jalan .. ditangkepin dah … ini edisi pertengahan tahun 1970 ..

    yang menarik bagi saya di si kuncung ini adalah ilustrasinya .. gambar2 di dalamnya membuat saya kayak melayang2 ke dunia mana gitu ..
    terus juga pernah ada episode dimana si kuncung menampilkan gambar2 humor ..
    dulu saya mengkoleksi .. sayangnya pas pindah .. saudara yang dititipin nggak sayang buku .. ancurrr dahh … :(((

  5. manggung says:

    Jadi inget waktu SD dimana waktu itu aku sering membaca majalah Si kuncung di sekolahku. walaupun ada kampung tepatnya di SDN Pojok 2 Pulokulon Grobogan tp kliatanya tiap SD pada waktu itu berlangganan tiap bulannya. Selain itu dulu jg ada majalan Ceria yang di sampul belakangnya ada cerita komik Ceri dan Cepi. ga tau lah skr entah masih apa enggak.

  6. prima says:

    pas lagi sedang terpikir “masih ada gak majalah si Kuncung ya?”, saya browse di google, malah ketemunya tulisan Bang Arya ini.

    saya setuju banget dengan isi tulisan ini, karena saya juga melewatkan masa SD saya dengan si Kuncung. mohon ijin untuk share ke kawan2 lain.

    siapa tau bisa kejadian, si Kuncung terbit lagi…

    Salam.

    • ardian says:

      Saya juga punya koleksi pribadi berupa Majalah Si Kuntjung terbitan tahun 1971, kondisi mulus & bagus, jumlahnya ada 20 edisi. bagi yang berminat bisa hubungi saya di:08889718726
      salam.
      Ardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: