Arya Gunawan

Icon

Melahirkan Buku

Ruas-ruas jalan Beyoglu, pojok-pojoknya yang gelap, niatku untuk pergi, rasa bersalahku – semua itu berkedip-kedip bagaikan lampu-lampu neon dalam kepalaku. Sekarang aku tahu, bahwa malam ini ibuku dan aku tidak akan bertengkar, bahwa dalam beberapa menit lagi aku akan membuka pintu dan keluar menuju jalan-jalan kota ini yang menentramkan; dan setelah berjalan di separuh malam, aku akan kembali ke rumah dan duduk di mejaku dan menangkap nyawa ruas-ruas jalan itu untuk kutuangkan ke atas kertas.

“Aku tidak mau menjadi seorang pelukis,” ujarku. “Aku akan menjadi seorang penulis.”

Sebuah tekad yang kuat tampaknya telah diguratkan. Dan harus dijalankan. Dan memang, dunia kemudian tahu bahwa sang penulis kalimat-kalimat tersebut muncul sebagai seorang penulis dan pengarang cerita terpenting di era mutakhir ini. Dia adalah Orhan Pamuk, pengarang Turki peraih Nobel Kesusasteraan tahun 2006. Kalimat-kalimat yang dikutipkan di atas adalah bagian paling ujung dari bukunya yang terbit tahun 2005, Istanbul: Memories of A City. Buku 348 halaman ini dengan sangat memikat menuturkan keindahan Istanbul, dari sudut pandang seorang warganya yang peka menangkap sasmita keindahan itu.

Buku ini sebetulnya menceritakan riwayat hidup Orhan, namun tidak terasa sebagai sebuah memoar melainkan lebih sebagai sebuah novel. Kisahnya kemudian dilekatkan pada sebuah bingkai yang kokoh, yaitu kota Istanbul yang muncul tidak hanya sekadar sebagai sebuah lanskap, melainkan sebagai sesosok makhluk yang seakan-akan berjiwa, yang punya riwayat, punya manis-getir pengalaman, dan punya indra untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang bermunculan di dalamnya, mulai dari masa keemasan dinasti Ottoman hingga masa keruntuhannya, dengan puing-puingnya yang kini menjadi ornamen kota Istanbul.

Tiga tahun sebelum Istanbul, Orhan menerbitkan Snow, yang oleh banyak kalangan — termasuk saya sendiri — disebut layak dimasukkan dalam daftar novel-novel terbaik sepanjang masa. Ditambah dengan sederet karyanya yang lain, seperti The New Life, The Black Book, The White Castle, dan My Name is Red, Orhan memang telah membuktikan bahwa tekadnya itu bukan sekadar janji kosong. Tentu saja jalan yang ditempuhnya untuk mewujudkan tekad itu bukanlah jalanan yang mulus lurus, melainkan berliku, penuh tantangan, mulai dari ketidaksetujuan sang ibu (yang ingin melihat anaknya menjadi arsitek, bukan menjadi pengarang), sampai kepada mendisiplinkan diri sendiri untuk menaklukkan kemalasan, rasa jemu, rasa cepat puas diri, dan rasa “perlu menunggu ilham datang terlebih dahulu”.

Sejak usia 22 tahun Orhan memutuskan untuk menempuh jalan hidup kepengarangan itu. Kini usianya 55 tahun; artinya sudah 33 tahun dia habiskan sebagai pengarang. Dia mendisiplinkan dirinya dengan menulis selama 10 jam sehari. Kepengarangan adalah sebuah pekerjaan, yang menuntut dedikasi dan ketekunan. Dengan kata lain, jalan kepengarangan adalah sebuah jalan yang harus diretas dengan “darah, airmata, dan doa (bagi yang mempercayainya)”. Proses melahirkan buku, barangkali ada persamaannya dengan proses melahirkan bayi.

***

Orhan Pamuk adalah salah satu contoh baik untuk melihat perjuangan berat dalam melahirkan sebuah buku – puncak karya dari mereka-mereka yang mengagungkan gagasan. Dalam bukunya yang terbaru, terbit tahun 2007 ini, Other Colours: Essays and A Story (Writing on Life, Art. Books and Cities), Orhan misalnya memberikan sedikit rahasia bagaimana dia menggarap novel Snow yang indah itu. Dia memerlukan empat kali kunjungan ke kota kecil Kars yang menjadi lokasi novelnya tersebut, sebuah kota yang mengusik Orhan dan merangsangnya menuliskan novel tersebut. Dia mengumpulkan bahan-bahan, dengan melakukan observasi yang mendalam, lengkap dengan tape recorder dan kamera video untuk merekam percakapannya dengan warga Kars dan untuk merekam lanskap kota itu.

Dalam bagian lain dari buku barunya setebal 433 halaman itu, dia menyebutkan bahwa pengumpulan bahan-bahan dari lapangan saja belumlah cukup. Ada faktor lainnya yang tak kalah penting, setidaknya dalam kasus Orhan, yakni membaca berbagai buku. “Kemajuan seorang pengarang akan sangat tergantung pada buku-buku bermutu yang dibacanya. Namun membaca dengan baik bukanlah dengan mengamati perlahan-lahan teks yang ada di hadapan dengan menggunakan mata dan pikiran, melainkan dengan menyesapkan/menyatukan diri kita ke dalam jiwa dari buku yang sedang dibaca itu.” (halaman 109).

Jika disimpulkan, maka resep yang dianut Orhan Pamuk adalah: pengamatan yang saksama dan teliti, bahan bacaan yang baik, perenungan yang dalam, lalu dilengkapi dengan disiplin yang ketat untuk melahirkan sebuah karya. Saya percaya, inilah juga yang dilakukan oleh pengarang-pengarang kelas dunia lainnya. Dari sederet faktor ini, seringkali disiplin merupakan faktor yang terbaikan. Padahal kendati bukan segala-galanya, disiplin adalah unsur penting bagi proses kelahiran sebuah buku. Apalagi jika ingin menjadi penulis yang produktif.

Bill Bryson (penulis asal Amerika namun telah bermukim lama di Inggris, salah seorang penulis produktif kelas dunia, terkenal terutama lewat buku-buku perjalanannya), juga melakukan disiplin ketat dalam bekerja. Saya sulit membayangkan bagaimana dia bisa melahirkan buku A Short History of Nearly Everything setebal 686 halaman (spasi rapat dengan ukuran huruf lumayan kecil), yang mencoba meringkas asal muasal kehidupan dan alam semesta dengan pendekatan ilmiah populer – sebuah buku yang mendapatkan pujian banyak orang termasuk kalangan ilmuwan — jika tidak dilakukannya dengan disiplin yang ketat.

Memang ada yang bilang bahwa “mengarang itu gampang” (seperti dikatakan Arswendo Atmowiloto dalam bukunya dengan judul yang sama seperti tertera di antara tanda kutip di atas). Namun yang dimaksud “mudah” oleh Arswendo di sini tetaplah harus ditempuh sambil berkeringat, sebelum dia bisa melahirkan setumpuk buku, termasuk salah satu novel terpanjang Indonesia, Senopati Pamungkas. Pengalaman serupa hampir pasti dirasakan juga oleh para pengarang produktif Indonesia lainnya, mulai dari Putu Wijaya hingga Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (KPH).

Saya pribadi pernah bertemu langsung dengan sang maestro cerita silat Cina ini, di “pertapaan”-nya di Tawangmangu, tahun 1985 silam. Saya mewawancarainya saat menjadi penulis lepas untuk majalah Femina. KPH bercerita bagaimana dia praktis tidak bisa lepas dari mesin ketiknya hampir sepenuh hari, dengan waktu istirahat yang sekadar cukup untuk memicingkan mata dan meringankan pikiran, sebelum karya-karyanya sampai ke tangan pembaca yang dengan mudah menjadi pencandu karya-karyanya.

***

Dalam suasana Idul Fitri pertengahan Oktober lalu, sahabat lama saya, esais dan penyair Fadjroel Rachman bersama istri dan dua anak lelakinya bertemu saya di rumah ibu saya di Bandung. Fadjroel tengah girang-gembira karena novelnya, Bulan Jingga dalam Kepala (BJdK) baru diterbitkan oleh sebuah penerbit ternama Indonesia. Dalam perbincangan dengan saya, dia mengungkapkan sebuah “rahasia”, yang juga menjadi salah satu sumber kegembiraannya. “Aku berhasil menyalipmu. Novelku sudah lebih dulu selesai dibandingkan novelmu,” ujarnya, seraya tersenyum penuh kemenangan. Embrio novelnya itu sudah ada sejak 18 tahun lalu, saat dia ditangkap dan dipenjarakan oleh rezim Soeharto akibat aksi demonstrasi bersama-sama beberapa aktivis mahasiswa lainnya, menentang Seoharto. Namun baru belakangan ini dia bersigegas merampungkannya.

Saya tersenyum, seraya teringat pada naskah novel saya yang memang belum beres-beres, kendati mulai saya garap sejak tahun 2005. Ini memang calon novel perdana saya, meskipun sebenarnya tahun 1985 silam saya pernah menyelesaikan sebuah novel pendek, namun untuk anak-anak, berjudul Opera Kampung Manggis, yang menjadi salah satu pemenang dalam sayembara penulisan novel anak-anak dengan budayawan Jakob Soemardjo sebagai salah seorang jurinya. Oh, sudah lama sekali rasanya. Namun ingatan saya masih jelas mengenai bagaimana cara saya menyelesaikan novel itu: selama tiga hari, sepanjang malam saya menuliskannya, di ruang unit kegiatan Grup Apresiasi Sastra di kampus saya, Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya dengan tidur beberapa jam saja setiap malam. Saya kini mengerti, kerja non-stop semacam itu termasuk dalam faktor kedisiplinan seperti yang dimaksudkan oleh Orhan Pamuk. Dan saya juga kini mengerti, faktor itulah yang agaknya tak lagi saya miliki hari-hari ini, karena stamina seakan-akan sudah dicuri sepenuhnya oleh rutinitas kantor.

Saya tiba-tiba terpikir untuk mengambil cuti selama beberapa waktu. Kalau selepas itu novel saya tak rampung juga, berarti ada yang tak beres dengan proses kreatif saya. Atau memang garis tangan saya telah disuratkan untuk tidak pernah melahirkan sebuah novel pun. Alangkah menyedihkannya membayangkan kemungkinan ini…***

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: