Arya Gunawan

Icon

Ada Apa dengan Sinema Kita?

(Tulisan ini sudah dimuat di majalah Harpers Bazaar edisi Indonesia, bulan April 2002, dengan pemenggalan di beberapa tempat. Berikut ini versi aslinya)

Saat tulisan ini dibuat, film “Ada Apa dengan Cinta” sudah menyedot 1,2 juta penonton, dan jumlah ini masih akan terus bertambah. Sementara “Jelangkung” masih bertahan di sejumlah bioskop, sejak pertama kali diputar 5 Oktober tahun lalu. Beberapa film baru juga siap menggebrak pasar. Apakah ini semua pertanda revivalisasi (kebangkitan kembali) sinema Indonesia? Jangan buru-buru menepuk dada, karena perjalanan masih panjang.

Ketika banyak perempuan selebritis berkumpul di Taman Ismail Marzuki menyaksikan pementasan “Vagina Monolog”, Jumat malam, 8 Maret 2002, Mira Lesmana ternyata memilih berada di rumah. Malam itu, dalam komunikasi SMS (short messaging service) dengan penulis, Mira mengaku bahwa dia sebenarnya diminta ikut menjadi salah satu artis pendukung pementasan tersebut. Namun dia harus menemani anak-anaknya di rumah, karena, “Besok pagi (Sabtu, 9 Maret), saya harus ke Bandung, untuk hadir di acara diskusi Ada Apa dengan Cinta? di Jurusan Filsafat, Universitas Parahyangan,” begitu bunyi pesan SMS-nya.

Mira Lesmana memang jadi jauh lebih sibuk sebulan terakhir ini, melayani berbagai permintaan untuk tampil dalam sejumlah diskusi, juga melayani permintaan wawancara berbagai media. Itu semua karena film yang diproduksinya bersama Riri Riza, Ada Apa dengan Cinta? (AADC?) “meledak” di bioskop. Persis sebulan sejak pertama kali diputar untuk umum, 8 Februari lalu, AADC? telah menyedot 1,2 juta penonton, sebuah angka yang terbilang sangat fantastis untuk film Indonesia. Apalagi jika diingat bahwa angka itu sudah bisa dipastikan akan terus bertambah, karena sampai saat ini AADC? masih bertahan di sejumlah bioskop kelas atas. Antrean juga masih terlihat di muka loket penjualan tiket, meskipun sudah tidak sehebat pada pekan-pekan pertama.

Ketika itu, sejak pagi hari, sekitar lima jam sebelum loket dibuka, antrean sudah mengular, bermeter-meter panjangnya. Banyak di antara mereka yang telah mengantre sejak pagi hari itu (sebagian besar tentu saja siswa-siswi SMU, sebagaimana tokoh utama yang digambarkan dalam film tersebut) begitu tiba di muka loket hanya bisa mendapatkan tiket untuk pertunjukan malam harinya. Sebagian dari mereka yang berdesak-desak dalam antrean itu, mengaku menonton menonton film tersebut untuk kedua, atau ketiga kalinya.

Sebelum AADC?, film Jelangkung juga mencatat sukses yang tidak kalah fantastis. Dimulai hanya dari satu layar tayang di Plaza Senayan, 5 Oktober 2001, film garapan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo yang semula diproduksi dalam format digital ini, akhirnya dialihkan ke format seluloid sehingga memungkinkan dilakukannya penggandaan, untuk memenuhi tuntutan pasar yang tak mungkin ditampung hanya di satu layar pertunjukan. Film ini kemudian bisa diputar secara serentak di berbagai bioskop, tentu dengan jumlah penonton yang juga sangat membludak. Pada satu periode di bulan Januari, misalnya, keempat-empat layar yang ada di bioskop Megaria, semuanya diisi oleh Jelangkung. Dan semuanya terisi penuh penonton, yang berteriak-teriak histeris di beberapa penggalan adegan film tersebut!

Sukses ini pula yang mengantarkan Rizal dan Jose untuk bertandang ke markas besar Miramax di Los Angeles, pada saat tulisan ini dikerjakan. Salah satu perusahaan film Amerika itu sedang menjajaki kemungkinan untuk membuat ulang Jelangkung. Sebuah prestasi yang patut dicatat dengan bangga, di tengah-tengah situasi hidup berbangsa yang babak-belur hampir di semua sektor ini.

Dengan gebrakan yang fenomenal itu, AADC? dan Jelangkung layak dicatat sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan sinema Indonesia. Tonggak dalam konteks ini tentu bukan murni ditinjau dari sudut artistik-sinematografis, melainkan dari reaksi penonton dalam menerima kehadiran kedua film ini. Sudah amat lama rasanya film Indonesia ibarat “mati suri”, dijauhi oleh penontonnya sendiri. Antrean panjang penonton seperti yang ditemui pada AADC? dan Jelangkung pernah terlihat, misalnya, pada film Ratapan Anak Tiri yang dibintangi Faradilla Sandy dan Dewi Rosaria Indah di paruh pertama dekade 1970-an. Pada akhir dekade yang sama ada film remaja Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati, yang melambungkan Rano Karno dan Yessi Gusman menjadi idola remaja kala itu.

Pada dekade 1980-an, praktis tidak ada film Indonesia yang mencatat fenomena luar biasa. Beberapa karya memang mengundang pujian para kritikus, terutama karya-karya dari para maestro “generasi lama” seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, Slamet Rahardjo, lewat judul-judul semacam Di Balik Kelambu, November 1828, Pacar Ketinggalan Kereta, Matahari-Matahari, Rembulan dan Matahari,Kembang Kertas, serta sederet judul lainnya. Namun tiada dari karya-karya ini yang mampu menyihir penonton untuk betah berdesak-desak dalam antrean di muka loket penjualan tiket.

Situasi memburuk ketika produksi Hollywood kian gencar menyerbu, dan jaringan bioskop dimonopoli pula untuk kepentingan mereka. Kita masih ingat, misalnya, kasus Langitku, Rumahku, film bermutu garapan Slamet Rahardjo yang di tahun 1990 hanya bisa bertahan dua hari di bioskop jaringan 21 milik Sudwikatmono, pengusaha kerabat Soeharto. Di tahun berikutnya, Festival Film Indonesia (FFI) sebagai salah satu simbol nyata keberadaan sinema Indonesia, hadir untuk terakhir kalinya, dan sesudah itu mati. Produksi film Indonesia yang pada tahun 1990 sempat mencapai klimaks pada angka sekitar 120 judul dalam setahun, sejak itu bergerak menuju titik nadir.

Tahun-tahun berikutnya di dekade 1990-an itu jumlah produksi per tahun hanya berkisar pada angka dua puluhan, bahkan belasan. Sebagian besar film yang diproduksi pada periode itu adalah film-film yang tak bisa dipertanggungjawabkan mutunya: kalau bukan berisi kisah horor, atau cerita silat yang tak begitu mempedulikan penghargaan terhadap akal sehat penonton, maka ia pasti berisi pameran kemolekan tubuh-tubuh artis semacam Sally Marcelina, Kiki Fatmala, ataupun Inneke Koesherawati.

Beruntung pada periode sulit itu Indonesia masih memiliki seorang Garin Nugroho, yang praktis malang melintang sendirian “menawarkan” eksotisme kebudayaan Indonesia ke berbagai ajang festival film international, sejak film pertamanya Cinta dalam Sepotong Roti di tahun 1991, Surat untuk Bidadari (1993), Bulan Tertusuk Ilalang (1996), Daun di Atas Bantal (1998) hingga film panjangnya yang terakhir Puisi Tak Terkuburkan (2000). Lewat film-filmnya ini – yang meraih berbagai penghargaan internasional — Garin seperti memberikan pesan pada dunia luar bahwa sinema Indonesia masih ada. Hanya saja, seorang Garin tentulah tak cukup untuk mengembalikan minat orang menjenguk bioskop-bioskop yang memutar film Indonesia. Apalagi hampir semua film Garin menyimpan problem yang sama: tidak begitu komunikatif bagi sebagian besar khalayak penonton. Alih-alih memikat penonton, film-film Garin salah-salah justru akan membuat sebagian besar penonton memiliki anggapan yang keliru: bahwa film yang baik itu haruslah sulit dicerna, sehingga menjadi tak komunikatif.

Bukan berarti orang-orang dengan kaliber dan kemampuan seperti Garin tidak dibutuhkan, melainkan harus ada juga para sineas yang mau peduli terhadap penonton yang massal, tanpa harus melacurkan pertimbangan artistik. Orang kemudian menanti-nanti, kapan tiba masanya sinema Indonesia benar-benar menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”, sebuah slogan yang diciptakan oleh penguasa Orde Baru untuk menutupi rasa bersalah mereka karena telah ikut menyumbang pada bangkrutnya sinema Indonesia, sebuah slogan yang praktis tak pernah terwujud sampai tamatnya Orde Baru secara resmi (secara tidak resmi Orde Baru masih bergentayangan dalam berbagai wujudnya), ditandai dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998.

Sempat muncul perkiraan di tahun 1997 bahwa sinema Indonesia akan bangkit lagi seiring diproduksi film “kolosal” Fatahillah yang menelan biaya Rp 3 milyar, sebuah rekor pada masa itu. Namun ternyata film ini tak sehebat promosinya yang menggelegar. Di tahun itu juga mulai diproduksi Kuldesak, film garapan empat sutradara (Riri Riza, Rizal Mantovani, Nan Triveni Achnas, dan Mira Lesmana). Namun lagi-lagi dambaan itu tidak terwujud, karena Kuldesak bukanlah jenis film yang mudah dicerna orang banyak, ditambah dengan idenya yang tidak terlampau orisinal. Dari segi gagasan, Kuldesak sedikit banyak dipengaruhi oleh karya-karya Quentin Tarantino, sutradara maverick Amerika yang ketika itu didewa-dewakan di berbagai penjuru dunia sejak membuat geger lewat filmnya, Pulp Fiction, yang meraih penghargaan tertinggi Palem Emas dari festival film bergengsi di seluruh jagad, Festival Film Cannes, tahun 1994.

Praktis satu dasawarsa berada dalam penantian sejak mulai bangkrutnya perfilman Indonesia di tahun 1990-1991, barulah kerinduan orang banyak terhadap film Indonesia bisa terobati lewat kehadiran Petualangan Sherina pada tahun 2000. Pada film ini, orang mulai menyaksikan antrean panjang calon penonton, dan film yang juga diproduseri Mira Lesmana ini kemudian mencatat rekor (sebelum ditumbangkan oleh AADC?) dengan meraih 1,2 juta penonton. Mira mungkin patut diberi julukan produser “bertangan Raja Midas”, semua yang disentuh jadi emas.

Setelah Petualangan Sherina merebut hati pentonton, bermunculanlah sejumlah karya sineas Indonesia yang cukup menjadi bahan pembicaraan. Sebutlah misalnya Beth karya Aria Kusumadewa, Pachinko karya Hari Dagu, Pasir Berbisik garapan Nan Achnas, Jelangkung, AADC?, sampai yang hadir paling belakangan, Ca Bau Kan yang digarap oleh Nia Di Nata. Tengah bersiaga juga untuk hadir adalah Eliana, film panjang ketiga (sesudah Kuldesak dan Petualangan Sherina) karya sutradara Riri Riza. Khusus untuk film yang disebut terakhir ini, publik penonton Singapura boleh merasa beruntung, karena film ini akan diputar perdana untuk dunia (world premiere) di ajang Festival Film International Singapura, April mendatang.

Dengan data-data pengantar seperti ini, patut memang kita mengajukan pertanyaan sebagaimana bunyi judul tulisan ini, yang diilhami judul AADC? Apakah memang terjadi revivalisasi sinema Indonesia? Sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab, karena memerlukan telaah yang lebih serius. Namun dalam tulisan yang singkat ini, penulis menilai bahwa apa yang tengah berlangsung saat ini adalah penggalan paling awal dari (kemungkinan) revivalisasi tersebut. Disebut “kemungkinan”, karena rangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini masih harus dijaga dan dicermati perjalanannya, dipupuk, dan dicurahi perhatian yang serius dari mereka-mereka yang punya komitmen bagi bangkitnya kembali sinema Indonesia.

Apa yang tampak sekarang ini barulah gejala permukaan, bahkan bisa jadi hanya sebuah hura-hura sesaat. Orang Inggris bilang: hype. Fakta memang membuktikan hal ini. Sejumlah film yang disebut di atas, mulai dari Beth sampai Ca Bau Kan, masih memiliki banyak “cacat” secara artistik-sinematografis. Jelangkung, misalnya, secara filmis banyak dikritik, meskipun secara pasar film itu seperti menjadi oase bagi para penonton muda yang terhanyut oleh kisah seramnya.

Bahkan AADC? masih menyimpan sederet kelemahan. Bagi yang telah menyaksikan film itu, ingat-ingatlah kembali tokoh ayah Rangga, misalnya, yang tampil lebih sebagai tempelan, tanpa riwayat yang jelas (hanya disinggung saja bahwa dia bertipe “pemberontak” terhadap sesuatu yang mapan), yang begitu dibenci oleh sekelompok orang sehingga tega mengirimkan bom molotov ke rumahnya. Padahal, tokoh ayah ini sangatlah berpotensi untuk menambah bobot AADC? Misalnya, digali mengapa dia ditinggalkan istri dan anak-anaknya yang lain. Penggalian itu juga akan memperkuat sosok Rangga sehingga ia tampil dengan gaya yang “dingin” seperti itu.

Kepergian Rangga dan ayahnya ke New York juga muncul dengan alasan yang tak cukup kuat. Hanya dua adegan yang menjadi penanda bagi penonton bahwa Rangga akan ke New York: pertama saat dia mendapatkan buku tentang New York dari Limbo si penjual buku loak, dan kedua saat ayahnya sedang berada di depan komputer dan mendapat telepon dari New York yang mengabari bahwa dia ditunggu untuk mengajar di sebuah universitas di sana. Bahkan adegan telepon ini terasa amat janggal dari segi waktu: telepon itu diterima ayah Rangga sesaat sebelum Cinta datang bertamu, sekitar pukul tiga atau empat sore. Dengan beda waktu 12 jam antara Jakarta dan New York, berarti di New York saat itu pukul tiga subuh. Apakah benar ada orang yang mau bersusah-susah menelepon untuk pembicaraan super singkat (yang juga dijawab super singkat dan kaku oleh ayah Rangga dengan kata-kata, “You are welcome, you are welcome”) seperti itu? Rasanya susah diterima akal sehat.

Kejanggalan serupa juga bisa ditemui pada tokoh “lima sekawan” yang dikomandani Cinta itu. Mereka semua adalah pengurus majalah dinding di sekolahnya. Yang mengundang tanya: apa benar hanya mereka berlima saja yang memonopoli urusan majalah dinding ini, dan tak boleh ada orang lain lagi? Tetapi rupanya itulah yang terjadi, karena hampir seluruh adegan dengan setting ruang redaksi majalah dinding, hanya mereka berlima yang ada di sana. Cuma ada tiga tokoh lain yang pernah menjejakkan kaki di ruang redaksi tersebut di sepanjang film, yaitu Borne yang merasa jadi pacar sah Cinta, Mamed yang naksir berat Cinta, dan Rangga.

Pengidolaan Cinta dan keempat kawannya, juga kurang punya riwayat yang jelas. Mengapa, misalnya, mereka tidak “dibenturkan” lebih sering dengan kelompok lain di sekolah yang sama, agar posisi mereka menjadi lebih menonjol? Atau dibuat sejumlah adegan dimana model rambut Cinta, misalnya, ditiru oleh siswi lainnya; ketika Cinta pakai sepatu pink, tiba-tiba satu sekolah keranjingan sepatu dengan warna yang sama.

Karena itu, menurut hemat penulis, masih banyak hal yang semestinya bisa disiapkan dengan lebih matang oleh tim kreatif AADC?, terutama dari aspek pengembangan skenarionya.

Mau satu bukti lagi yang lebih telak? Ini dia: mengapa lima sekawan itu (dan juga semua tokoh lainnya di film AADC?) sama sekali tidak mengenal telepon genggam? Di kamarnya, Cinta punya pesawat telepon sendiri. Di ruang tamunya, dia punya telepon wireless. Alangkah janggal rasanya jika di luar rumah, dia (dan kawan-kawannya), yang berasal dari keluarga berpunya, tak membawa telepon genggam. Namun demikianlah kenyataannya. Penulis skenario tampaknya mau main aman dan mencari mudahnya saja, karena jika tiba-tiba di dalam cerita dihadirkan sebuah “tokoh” bernama telepon genggam, maka bangunan cerita akan rontok total. Tidak akan ada adegan ketika Cinta tersadar saat bersama Rangga di kios buku loak, bahwa dia lupa akan janjinya kepada gang-nya untuk menonton konser kelompok musik Pas di sekolahnya. Tidak akan ada juga adegan menjelang akhir yang “menegangkan” saat Cinta mencoba menyusul Rangga ke bandara. Semua klimaks ini akan selesai dengan mudah jika Cinta punya telepon genggam, dan cerita akan selesai pada menit ke-50.

Tetapi bagaimanapun, AADC? telah menjadi fenomena. CD berisi soundtrack-nya yang dijual Rp 50 ribu per keping, laku keras. Skenarionya dibukukan dengan harga Rp 45 ribu, dan tampaknya menarik banyak peminat juga. Harus diakui, dengan kesegarannya, AADC? telah menyadarkan orang Indonesia bahwa film Indonesia masih bisa laku, tanpa harus menjual mimpi, klenik, dan seks. Sudah lama orang rindu dengan film yang lancar bertutur, menggugah emosi, dan tidak membodohi. AADC? adalah jawabannya. Ia sekaligus juga layak dianggap sebagai tonggak bagi kelahiran generasi baru perfilman Indonesia, sebuah generasi yang menurut penulis berbeda total dari generasi pendahulu mereka.

Generasi sineas sebelum ini berada di bawah berbagai tekanan Orde Baru yang menyumbat kreativitas mereka. Lebih dari itu, sebagian besar energi yang mereka miliki dan seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan karya yang dahsyat, terhambur sia-sia karena harus “bertarung” dengan berbagai hambatan, mulai dari pembatasan pemerintah mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diproduksi, sampai kepada monopoli jaringan film impor. Tidak heran jika generasi sineas sebelum ini lebih banyak dikenal lewat kemarahan dan aksi-aksi protes mereka, baik terbuka maupun di belakang publik. Bukan berarti kemarahan mereka tidak memberi sumbangan positif bagi perjalanan sinema Indonesia. Namun rasanya sayang karena mereka telah memubazirkan energi yang dibutuhkan untuk berkreasi itu.

Generasi baru perfilman Indonesia ini justru memiliki sikap sebaliknya: mereka relatif cuek dengan situasi makro di sekitar mereka, namun diam-diam tak berhenti memikirkan bagaimana caranya agar bisa menghasilkan karya. Sebagian mereka aktif di forum-forum “gerilya” semacam Pop Corner, atau Komunitas Film Independen, dan berbagai mailing list yang mengkhususkan diri di bidang film, semacam Indomovie. Mereka bersibuk dengan membuat film secara bergerilya pula: dengan kamera digital dan biaya produksi yang sangat jauh lebih murah.

Mereka juga adalah generasi “multi-media” (meminjam istilah yang sering digunakan Garin Nugroho), yang memiliki referensi jauh lebih luas dibanding para senior mereka (karena kemudahan mereka mendapatkan film-film bermutu kelas dunia lewat merebaknya industri VCD, dan kegandrungan mereka menjelajah internet untuk mengetahui perkembangan paling baru sinema dunia). Sebagian dari eksponen generasi baru ini juga “makan sekolahan” di bidang film, misalnya Riri Riza (lulusan Institut Kesenian Jakarta, IKJ, dan mengambil studi lanjut di bidang pengembangan skenario di Inggris) dan Nan Achnas yang sampai kini menjadi pengajar di almamaternya, IKJ.

Ini semua jelas modal besar bagi mereka untuk terus mencari berbagai upaya agar orang tidak melecehkan film Indonesia. Namun tentu saja masih sederet hal penting yang secara pararel harus dibangun: berbagai infrastuktur pendukung seperti keberadaan studio pasca-produksi yang bisa diandalkan, keringanan bea masuk untuk bahan baku, sistem distribusi yang jelas dan sehat, sekolah film yang bermutu. Dan last but not least, lembaga kritik yang disegani. Hal terakhir ini yang seringkali tak begitu dihiraukan, padahal ia merupakan sparring partner bagi para sineas. Kritik yang baik melahirkan inspirasi bagi para sineas untuk menghasilkan karya yang baik, dan sebaliknya pula, karya yang baik akan melahirkan kritik yang berbobot. Apa yang sekarang ada di Indonesia sebetulnya bukanlah kritik, melainkan tidak lebih sebagai review atau tinjauan sekilas yang hanya bertutur mengenai jalan cerita, siapa aktor dan aktrisnya, adegan mana yang hebat, dan berbagai hal yang remeh-temeh lainnya.

Padahal fenomena yang tengah berlangsung di jagad sinema Indonesia belakangan ini memerlukan para kritikus yang memiliki kemampuan untuk merumuskan gejala ini dengan tepat. Itulah misalnya yang dilakukan oleh Andre Bazin (almarhum), kritikus Perancis yang paling dihormati. Di tahun 1951, Bazin mendirikan Cahiers du Cinema, jurnal film yang sampai saat ini masih dianggap paling serius di dunia. Delapan tahun kemudian, di tahun 1959, berkat kontribusi Bazin dan jurnalnya itu, muncullah apa yang dikenal sebagai Nouvelle Vague atau Gelombang Baru Sinema Perancis, ditandai dengan karya monumental sutradara Francois Truffaut (1932-1984), Les Quatre Cent Coups (400 Pukulan) yang mengundang decak kagum saat ditayangkan di Festival Film Cannes. Di ajang bergengsi ini, Truffaut meraih penghargaan Sutradara Terbaik. Para eksponen Gelombang Baru inilah (selain Truffaut ada Jean-Luc Godard, Roger Vadim, Claude Chabrol, Eric Rohmer, dan sejumlah nama lainnya) yang kemudian menggegerkan pentas sinema dunia dengan karya-karya mereka yang dipuji penonton dan menjadi bahan bahasan menarik bagi para kritikus karena memang dahsyat secara artistik.

Barangkali Indonesia juga membutuhkan seorang kritikus yang disegani, sebagaimana Bazin, untuk mendeklarasikan kelahiran Generasi Baru Sinema Indonesia. Pada saat itulah mungkin kita akan benar-benar yakin bahwa kegairahan sinema Indonesia yang kita rasakan denyutnya sekarang ini bukan sekadar euforia yang berumur pendek, bukan sebuah hype. ***

Filed under: Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: