Arya Gunawan

Icon

Menyelamatkan Akar Lapuk Jurnalisme

Dalam pertemuan kita hampir setahun yang lalu, saya mengajukan sebuah preposisi: bahwa pendekatan yang paling penting untuk menggali lebih jauh mengenai “jurnalisme baru” adalah justru “jurnalisme lama”, disiplin lama di bidang jurnalistik yang semestinya sudah mewaris secara turun-temurun, semenjak jurnalisme bermutu (quality journalism) mulai dipraktekkan oleh para wartawan idealis dan pemilik media idealis, sejak awal abad ke-20. Dengan kata lain, usulan saya setahun yang lalu itu adalah “untuk menyelamatkan jurnalisme, marilah kita semua berupaya dengan sungguh-sungguh dan sekuat daya upaya untuk kembali ke akar jurnalisme”. Adapun akar jurnalisme adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal berikut ini:

Misi utamanya adalah mencerahkan khalayak pembaca/pemirsanya, dengan niat untuk mengungkapkan berbagai hal yang penting, relevan, dan diperlukan oleh khalayak yang dilayaninya. Untuk mencapai misi ini maka jurnalisme harus terus-menerus menjaga kemampuannya untuk menggugat, bersikap kritis dan skeptis, tak berhenti mempertanyakan segala hal dan keadaaan, dan berpihak kepada mereka yang tak memiliki suara atau yang berada dalam posisi yang “lemah”. Untuk konteks yang terakhir ini, misi jurnalisme adalah “to comfort the afflicted, and to afflict the comfortable” (ungkapan dari Finley Peter Dune, 1867-1936, seorang wartawan Amerika Serikat yang cukup berpengaruh di eranya).

Senjata utamanya adalah imparsialitas alias mencoba berada di tengah-tengah.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Jurnalisme, Media

Tanggapan rinci atas berbagai komentar atas kritik saya atas “omission of facts” dalam pernyataan anti-bakar buku

Depok, 17 Agustus 2007

Saya menuliskan surat ini sebagai jawaban lebih rinci atas sejumlah komentar yang bermunculan terhadap kritik yang pertama kali saya lontarkan menanggapi naskah pernyataan kelompok anti-bakar buku yang disampaikan secara terbuka ke publik, Selasa 7 Agustus lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Perdebatan ini ternyata mendapatkan sambutan lumayan hangat. Tanggapan yang saya terima pun tidak hanya lewat milis, melainkan juga lewat email langsung ke alamat pribadi saya, lewat SMS, atau langsung menghubungi lewat telepon.

Terus terang, sebetulnya semula saya sudah tak terlampau berminat lagi untuk memberikan tanggapan, karena saya merasa poin penting yang saya miliki sudah terutarakan dengan baik, kendati telah ditanggapi tidak tepat oleh beberapa penanggap. Itu pula yang membuat perdebatan ini sudah mulai bergeser dari titik-pusat yang semestinya, bahkan berpotensi untuk bergerak tanpa juntrungan. Bahasa yang dipakai pun mulai menimbulkan rasa tak nyaman pula, termasuk misalnya penggunaan kata “tantangan terbuka” yang ditulis oleh Zen (yang lalu mendapatkan tanggapan keras pula dari Linda, lalu dikontratanggapi lagi oleh Zen dengan nada yang sama kerasnya). Saya sebetulnya sudah merasa “tak enak hati” karena menciptakan situasi yang lumayan absurd. Saya mengkritik, Linda menanggapi, lalu Zen menanggapi dengan tantangan terbukanya. Lalu tiba-tiba muncul tanggapan Linda yang keras terhadap Zen, dan disambut kembali dengan keras oleh Zen. Bukankah ini lumayan absurd? Saya mohon maaf apabila saya secara langsung atau tak langsung telah memicu hadirnya situasi yang kisruh dan kelihatan tak puguh seperti ini.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized