Arya Gunawan

Icon

Awas, Periuk Api!

Salah satu kesimpulan cukup penting yang muncul dari pertemuan ke-20 Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia (Mabbim), September tahun lalu adalah tentang 400 ribu kata dan istilah Bahasa Melayu yang telah berhasil disepadankan di antara para pengguna bahasa ini di tiga negara “serumpun”, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Penyelarasan kata dan istilah di antara ketiga negara ini tentu dapat memperat hubungan bertetangga; sedikit-banyak mungkin bisa menjadi peredam berbagai gesekan yang belakangan cukup kerap terjadi, mulai dari urusan tenaga kerja, penebangan liar hutan, hingga perkara asap.

Namun jalan untuk memperbanyak kata dan istilah yang selaras ini agaknya masih panjang. Jika Anda orang Indonesia yang kebetulan sedang berada di Bandar Seri Begawan, sempatkanlah melepas waktu di sekitar ruas Jalan Sultan. Di jalan yang terletak di pusat ibukota Brunei Darussalam itu, pada ujung yang dekat ke kantor pelabuhan, berderet sejumlah toko. Nama toko-toko ini mungkin akan “tak berbunyi” di telinga sebagian besar kita, kendati menggunakan Bahasa Melayu: “Restoran Rosmawati binti Kamis dan Anak-Anak”, di sebelahnya ada “Kedai Jam Timur”, lalu ada “Restoran Gerak Bersatu”, “Syarikat Optik Bantu Cerah”, “Kedai Emas dan Jam Bermutu Tulin”, “Sharikat Optik Anak Besar”, dan “Gedung Serbaneka Indah Mewah Sdn. Bhd.”

Masih banyak lagi contoh-contoh yang bisa membuat orang Melayu Indonesia berkernyit kening, atau mungkin tersenyum-senyum simpul karena kesan lucu yang muncul saat membaca atau mendengar kata-kata dari bahasa Melayu Malaysia ataupun Brunei. Ambil contoh kata “percuma”. Bagi Melayu Indonesia pengertian dari kata ini tentulah “sesuatu yang sia-sia” (padanan untuk kata “useless” dalam bahasa Inggris). Namun bagi Melayu Malaysia dan Brunei, ia bermakna gratis (“for free” dalam bahasa Inggris). Kata yang digunakan oleh Melayu Indonesia yang sepadan dengan kata “percuma” dalam bahasa Melayu Malaysia dan Brunei tadi adalah “cuma-cuma”.

Antara Bahasa Melayu Malaysia dan Melayu Brunei sendiri, yang barangkali bagi sebagian orang Indonesia dianggap sama dan sebangun, juga memiliki berbagai perbedaan. Ambil saja kata yang sederhana: orang Malaysia (juga Indonesia), menyebut Anda, sedangkan di lidah orang Melayu Brunei kata ini menjelma menjadi Awda.

Lalu, tahukah Anda apa makna istilah ini: “periuk api”? Dalam khasanah Melayu Brunei, “periuk api” adalah terjemahan dari “minefield” alias ranjau darat. Jika istilah ini berada dalam satu kalimat, maka orang Melayu Indonesia kemungkinan masih berpeluang untuk menerka maknanya. Misalnya pada berita di salah satu harian yang terbit di Bandar Seri Begawan ini: “Satu periuk api berkuasa tinggi meledak di bawah sebuah bas yang padat dengan penumpang dan kanak-kanak sekolah di utara Sri Lanka hari ini, membunuh 64 orang, kata tentera.” Namun bayangkanlah apa yang akan terjadi apabila kita menemukan istilah di satu tanah lapang terbuka, dan kita tak punya tempat bertanya saat melihat papan pengumuman bertuliskan: “Awas, Periuk Api”, lalu kita melintasi tanah lapang itu dengan melenggang-kangkung.

Ini beberapa contoh kalimat lainnya yang diambil secara acak dari sebuah suratkabar Brunei, Media Permata:

  1. “Stesen radio Hong Kong didenda 18,000 dolar hari ini dan diarahkan menyiar kenyataan maaf pada waktu perdana kerana menjemput pendengar mengundi selebriti yang mereka ingin perkosa.”
  2. “Pengacara popular Sammy Leung dan Kitty Yuen digantung tanpa gaji pada minggu lalu oleh Radio Komersial akibat kemarahan orang awam berpunca daripada siaran tinjauan ke atas rancangan So Fab pada 3 Jun.” Atau dari berita di televisi Brunei:
  3. “makluman untuk kita kongsikan bersama”.

Pada contoh nomor 1, istilah “menyiar kenyataan maaf” maksudnya adalah “mengumumkan permohonan maaf”, dan kata “menjemput” maknanya “mengundang”.

Pada contoh nomor 2, “digantung tanpa gaji” bermakna “menjalani skorsing tanpa mendapatkan gaji”.

Kalimat pada contoh nomor 3 artinya adalah ”pengumuman untuk kita sebarluaskan”.

Kemudian, tahukah Anda makna kalimat ini: “Kedua-dua pasukan tentu harus melakukan jaringan”? Jaringan dalam kalimat ini ternyata bermakna gol yang disarangkan ke gawang, bukan jaringan dalam pengertian network. Untuk yang terakhir ini, bahasa Melayu Malaysia menggunakan istilah rangkaian. Adapun untuk jaringan yang berasal dari istilah Inggris fixed-line, dalam bahasa Melayu Brunei disebut sebagai “talian tetap”.

Tentulah tak akan selesai jika kita harus membicarakan berbagai ihwal perbedaan kata dan istilah yang menimbulkan ketidakpahaman ini. Hal yang jauh lebih penting adalah menyadari bahwa kendati ketiga negara – Indonesia, Malaysia, Brunei—disebut sebagai bangsa serumpun, masing-masing bangsa tetaplah memiliki kekhasan bahasanya. Namun di dunia yang batas-batasnya kian melebur ini, tentu perlu bagi kita semua untuk mengenal lebih jauh lagi keberdaaan kita satu sama lain, sehingga terbangun saling pengertian yang lebih kokoh. Upaya Mabbim untuk terus menambah khasanah kesepadanan kata dan istilah di antara ketiga bangsa ini adalah sebuah langkah yang penting dalam konteks ini.***

Versi lebih pendek dari tulisan ini dapat dibaca di sini.

Filed under: Bahasa

One Response

  1. ikram says:

    Mas Arya,

    Yang dimaksud dengan “pertemuan ke-20” di awal tulisan ini mungkin adalah Sidang Pakar. Karena kalau Mabbim-nya sendiri sih, pasti sudah lebih dari 20 kali bertemu dong. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: