Arya Gunawan

Icon

Jurnalisme Baru: Kembalilah ke Akar

Majalah berita mingguan yang bermarkas di London, The Economist edisi terbaru (24 Agustus 2006) menurunkan laporan utama dengan judul provokatif, Who Killed the Newspaper? Laporan tersebut mengupas kondisi terakhir yang tengah dihadapi oleh suratkabar di seluruh dunia, yang secara umum menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah tiras.

Jauh sebelumnya, persisnya di bulan April 2005, di hadapan Perhimpunan Para Editor Suratkabar Amerika Serikat, “raja” media Rupert Murdoch menyampaikan pidato yang menyengat. Menurut pemilik salah satu perusahaan media terbesar di dunia ini, News Corporation, para pemilik, pengelola, dan editor suratkabar tengah menghadapi ancaman sangat serius yang telah hadir di hadapan mata sejak beberapa tahun terakhir: para pembaca mulai meninggalkan suratkabar. Penyebabnya jelas, yakni hilangnya sentuhan dan keterkaitan antara mereka yang mengurusi suratkabar, terutama para editor dan wartawan yang bertanggungjawab terhadap isi, dengan para pembaca. Di saat bersamaan dengan menyusutnya jumlah pembaca lama, para pembaca baru pun – yakni mereka yang berangkat remaja dan yang memasuki usia pra-dewasa, tak berhasil pula direngkuh.

Menurut Murdoch, kaum muda yang semestinya menjadi lahan baru bagi suratkabar untuk meningkatkan jumlah pembaca, tak ingin menyandarkan diri mereka kepada sosok seperti dewa, yang menyampaikan sabda kepada mereka tentang apa yang dianggap penting. “Kaum muda ini jelas-jelas tidak menginginkan berita yang disampaikan bagaikan kitab suci. Sebagai sebuah industri, anehnya banyak dari kita yang selama ini berpuas diri,” ujar Murdoch.

Read the rest of this entry »

Filed under: Jurnalisme