Arya Gunawan

Icon

Asia Menyerbu, Indonesia Harus Menunggu

HAMPIR setiap tahun film-film dari kawasan Asia selalu mencuri perhatian di Festival Film Cannes. Bagi Festival Film Cannes, film-film yang dibuat para sineas dari Asia dianggap menawarkan alternatif bagi sinema dari dunia Barat, baik dari segi tematik, cara bercerita, maupun dalam hal penyajian problem psikologis dan cara penyelesaian konfliknya.

Memang demikianlah galibnya: Asia adalah sebuah entitas yang berbeda dari Barat, dengan berbagai keunikan, keragaman, dan kekayaannya sendiri. Alternatif ini menjadi sangat penting apabila diletakkan dalam konteks kondisi global saat ini, di mana upaya dialog antarberbagai entitas kultural yang berbeda semakin dibutuhkan, baik dari segi kualitas maupun kesinambungannya. Itulah salah satu upaya yang mungkin bisa menjawab tantangan dunia masa kini, yang salah satunya bersumber pada absennya, atau kurang efektifnya, pertukaran pikiran dan gagasan di antara entitas kultural yang berbeda-beda itu.

Pada Festival Film Cannes (FFC) Ke-58 tahun ini, kehadiran Asia pun sangat nyata. Mari kita lihat data-data dasar yang sederhana berikut ini. Nama John Woo, sutradara asal Hongkong yang beberapa tahun silam pindah berkarya di Amerika, termasuk salah satu nama di antara sembilan anggota dewan juri. Seorang sutradara terkemuka lainnya dari Asia, persisnya dari Taiwan, Edward Yang, dipercaya sebagai ketua dewan juri untuk film pendek dan Cinefoundation. Lalu Abbas Kiarostami, sutradara terkemuka dari Iran yang sudah malang melintang dengan film- film karyanya di FFC, tahun ini diberi tugas menjadi ketua dewan juri untuk seksi Kamera Emas (penghargaan tertinggi dari FFC untuk film pertama atau kedua dari seorang sutradara).

Read the rest of this entry »

Filed under: Film