Arya Gunawan

Icon

Media dan Penanggulangan Bencana

SALAH satu kisah yang muncul berkaitan dengan bencana tsunami 26 Desember 2004 adalah tentang menyurutnya air laut secara tiba- tiba. Saat air menyurut, pantai menjadi lebih luas, dan sejumlah orang yang berada di tepi pantai pun dengan gembira berlarian mengarah ke “pantai baru” yang tercipta karena penyusutan mendadak air laut tersebut.

Tak mereka sadari bahwa itulah awal dari malapetaka karena tak berselang lama, air laut yang menyurut tadi kembali bergerak ke pantai. Kali ini justru dengan kekuatan, kecepatan, dan ketinggian yang tak tepermanai.

Sejumlah korban pun tak terhindarkan berjatuhan melalui cara ini, semata-mata akibat ketidaktahuan mereka akan gejala alam tadi. Andai kata mereka memiliki pengetahuan dasar ini, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Ajal manusia memang berada dalam wilayah prerogatif ilmu Allah semata, yang tak akan pernah terjangkau oleh akal manusia. Namun, setidaknya mereka memiliki waktu untuk sebuah upaya menyelamatkan diri.

Berbagai studi yang berkaitan dengan bencana alam memperlihatkan bahwa minimnya pengetahuan dasar mengenai cara-cara menghadapi bencana merupakan salah satu faktor yang memperburuk situasi pascabencana. Faktor ini telah pula dipertegas dalam acara Konferensi Dunia tentang Langkah Pengurangan Bencana Alam, yang berlangsung lebih dari satu dasawarsa silam, 23-27 Mei 1994 di Yokohama, Jepang. Forum ini pada masa itu merupakan forum terbesar tentang bencana alam, yang pernah diselenggarakan sepanjang sejarah. Tercatat lebih dari 5.000 peserta hadir, yang berasal dari 148 negara.

Frank Press, ketika itu menjabat sebagai Presiden Akademi Sains Nasional Amerika Serikat yang juga menjadi salah satu penggagas forum tersebut, merumuskan dengan persis ihwal minimnya pengetahuan dasar menghadapi bencana ini: “Bencana alam merupakan sebuah peristiwa yang tragis, bukan saja karena kehilangan besar yang dialami para korban, melainkan juga karena peristiwa itu sering kali dapat dihindarkan. Langkah-langkah pengurangan jumlah korban dan langkah untuk menjamin masa depan yang lebih baik sebenarnya telah tersedia.”

Peran vital media massa
Sepuluh tahun sesudah pertemuan besar di Jepang itu, tsunami memorakporandakan sebagian kawasan Asia. Peringatan ihwal pentingnya sosialisasi pengetahuan dasar mengenai bencana seperti yang dirumuskan oleh Frank Press menjadi sangat relevan lagi untuk dikedepankan. Media massa adalah salah satu wahana terpenting dalam penyebarluasan pengetahuan dasar mengenai bencana ini-wahana penting lainnya adalah pendidikan di sekolah-sekolah yang memperkenalkan penanggulangan bencana alam kepada para murid sejak usia dini.

Read the rest of this entry »

Filed under: Media