Arya Gunawan

Icon

Demo Ular demi Nasionalisme

BAYANGKANLAH kejadian berikut: ratusan penonton tengah menikmati tayangan sebuah film di sebuah gedung bioskop. Tiba-tiba terdengar desis ratusan ekor ular yang dilepaskan dari sejumlah keranjang secara sengaja oleh seseorang. Detik berikutnya penonton berhamburan dalam suasana panik.

CERITA di atas bukan skenario sebuah film horor. Ia nyaris menjadi kenyataan yang mewarnai sejarah perfilman Korea Selatan, di masa-masa puncak pertarungan kalangan perfilman negeri itu menentang dominasi Hollywood. Sejumlah aksi mereka gelar, di antaranya pemboikotan terhadap film Fatal Attraction, film pertama yang didistribusikan secara langsung oleh salah satu perusahaan film Hollywood; penutupan 30 bioskop di ibu kota Seoul selama sehari; dan ancaman untuk melepaskan ratusan ekor ular di sejumlah bioskop pada saat jam pertunjukan berlangsung seperti ilustrasi di atas.

Itu semua terjadi tahun 1988, sebagaimana tercantum di buku The Asian Film Industry (editor John A Lent, 1990). Setahun sebelumnya, Korea Selatan membuka pintu bagi distribusi langsung film Hollywood, tentu setelah ada tekanan Pemerintah Amerika Serikat. Sebelum dibukanya distribusi langsung, impor film-film AS dilakukan lewat “makelar”, yakni para pembeli dan importir film asal Korsel yang berbasis di Los Angeles.

Hollywood sendiri telah lama gusar terhadap Korsel. Di tahun 1985, Pemerintah Korsel menerapkan kebijakan baru yang mempersyaratkan para importir menaruh uang sebesar 800.000 dollar AS sebagai deposit ke Perusahaan Promosi Film Korea (didirikan tahun 1973, yang di tahun 1999 menjelma menjadi Korean Film Council atau Kofic, alias Dewan Film Korsel). Di samping itu, importir juga harus menyerahkan uang sebesar 170.000 dollar AS bagi setiap judul film yang diimpor. Motion Pictures Exporters Association of America (MPEAA), organisasi perusahaan dan distributor terbesar di Hollywood, mengadu ke Komite Keuangan Senat AS, menganggap kebijakan tersebut sebagai praktik perdagangan yang tidak adil. Korsel saat itu menyerah dengan mengizinkan perusahaan-perusahaan Hollywood membuka kantor cabang di negeri ginseng itu, dan secara langsung mengurusi distribusi serta mengumpulkan pendapatan dari tiket penonton.

Itulah awal dominasi Hollywood, yang terus berlangsung hingga sekian tahun berikutnya. Tahun 1992, misalnya, saat penulis berkesempatan melakukan liputan mengenai situasi industri perfilman Korsel, hampir semua orang film yang dijumpai memendam rasa gusar terhadap “penjajahan budaya dan ekonomi” Hollywood ini. Industri perfilman dalam negeri nyaris mati suri, hanya beberapa judul saja yang diproduksi, sebagian besar tak bermutu-mirip dengan apa yang dialami oleh Indonesia pada tahun-tahun itu.

Namun, mereka tak menyerah, sesuai latar kultural dan sejarah mereka sebagai bangsa militan. Bagi mereka, dominasi Hollywood merupakan kolonialisme dalam wujud lain sehingga wajib ditentang atas nama nasionalisme. Perlawanan dilakukan di berbagai lini, termasuklah ancaman melepas ratusan ekor ular tadi.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film