Arya Gunawan

Icon

JI Tak Boleh Mati

JANGAN terkecoh dulu. Kendati mungkin sama-sama ditakuti oleh sejumlah pihak, JI dalam tulisan ini bukanlah Jamaah Islamiyah yang selama ini sering muncul di berbagai pemberitaan. JI yang dimaksud di sini singkatan dari Jurnalisme Investigasi, sebuah cabang jurnalistik yang mengungkap hal-hal tersembunyi dari sebuah peristiwa. Ciri utama yang membedakan JI dengan “jurnalisme biasa” adalah: JI selalu memelihara ”kecurigaan” bahwa di balik sebuah kabar yang tampak biasa-biasa saja di permukaan, selalu ada kemungkinan terjadi berbagai penyimpangan yang dilandasi niat busuk untuk merugikan orang banyak. Sedangkan “jurnalisme biasa” sudah cukup puas dengan memberitakan apa yang hanya tampak di permukaan.

Ambil contoh fiktif berikut sebagai sebuah ilustrasi: pengumuman pemerintah mengenai rencana pembangunan ruas jalan tol di sebuah kota. Jurnalisme biasa sudah cukup bahagia dengan membeberkan data-data tentang panjang ruas jalan tol tersebut, anggarannya, siapa yang akan membangun, kapan dimulai dan kapan selesai. JI tidak akan berhenti di situ. JI akan menelusuri lebih dalam aspek-aspek yang bisa menimbulkan “kecurigaan”: seberapa wajar anggaran yang dialokasikan, bagaimana proses pemilihan kontraktor, berapa ganti rugi yang dibayarkan kepada masyarakat yang tanahnya terkena, apakah bahan bangunan yang nantinya akan digunakan sesuai dengan spesifikasi yang disepakati.

Dengan perbedaan ini, nyatalah bahwa JI membutuhkan kemampuan jurnalistik yang tangguh, terutama dalam menggali dan mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di lapangan. Tak heran apabila oleh banyak kalangan, JI dianggap sebagai “the jewel in the crown” dari dunia jurnalistik. Banyak wartawan yang menekuni JI beroleh status bak pahlawan, di antaranya duet Bob Woodward dan Carl Bernstein dari suratkabar The Washington Post, yang sampai kini masih memberi inspirasi bagi para wartawan yang ingin menggeluti JI. Investigasi yang mereka lakukan sepanjang lebih dari dua tahun terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai skandal Watergate, berujung pada terjungkalnya Richard Nixon dari kursi kepresidenan Amerika Serikat hampir 30 tahun silam.

Mengapa judul yang dipakai untuk tulisan ini kini perlu disuarakan secara lantang? Tak lain tak bukan karena dalam beberapa waktu belakangan pers Indonesia secara keseluruhan, dan JI pada khususnya, tengah menghadapi ujian berat. Setelah berbagai peristiwa yang menyudutkan pers di tahun lalu, triwulan pertama tahun ini telah diwarnai oleh sejumlah kejadian yang merisaukan para pendukung kebebasan pers, yang terjadi praktis setiap bulan. Bulan Januari, keluar keputusan pengadilan yang menyatakan suratkabar Tempo bersalah terhadap Tomy Winata, dan diharuskan membayar ganti rugi 1 juta dollar Amerika, berkaitan dengan berita yang menyebutkan rencana Tomy membangun pusat perjudian di Sulawesi Tenggara.

Masih hangat ingatan orang akan peristiwa ini, di bulan Maret Tomy Winata dimenangkan oleh pengadilan yang berbeda, kali ini terhadap majalah Tempo untuk berita yang menyebut-nyebut bahwa Tomy berada di balik peristiwa terbakarnya Pasar Tanah Abang, Jakarta, tahun 2003. Dan jangan lupa, di bulan Februari, Mahkamah Agung membebaskan terpidana kasus korupsi Bulog, Akbar Tandjung. Kita semua tentu ingat, adalah majalah Tempo yang mula pertama dan terus-terusan tanpa bosan mengungkap skandal ini, sejak Oktober 2001. Semua kejadian ini, langsung ataupun tidak, sedikit banyak terkait dengan JI, terutama saat majalah Tempo menguliti rangkaian kebohongan dan praktek busuk lainnya dalam skandal Bulog.

Berbagai peristiwa yang disebutkan di atas bukan mustahil akan membuat jeri lembaga pers dan orang-orangnya, yang selama ini tak kenal lelah mengendus ke berbagai pojok, untuk menemukan sumber dari berbagai praktek busuk yang merugikan khalayak luas. Di satu sisi, rasa jeri ini dapat dipahami, karena bagaimanapun bukan perkara mudah untuk berurusan dengan berbagai risiko yang menghadang. Dari fitrahnya, JI memang membawa banyak risiko dibandingkan “jurnalisme biasa”, mulai dari ancaman, teror, intimidasi yang dihadapi para wartawan maupun lembaganya, termasuk pula risiko paling ekstrim berupa hilangnya nyawa, sampai kepada tuntutan hukum yang bisa membuat gulung tikar sebuah lembaga media. Ini akan menjadi lebih serius di negara-negara yang proses penegakan hukumnya masih penuh persoalan, karena berperkara di pengadilan bagai sebuah perjudian.

Rasa jeri ini dikenal sebagai “chilling effect” (rasa jeri). Ia bisa menyurutkan langkah pers untuk terus menerapkan JI. “Ganti rugi begitu besar yang harus dibayar oleh media, telah menghambat JI,” ujar Phillip Knightley, yang sudah lebih dari setengah abad malang-melintang di dunia jurnalistik dan dikenal sebagai salah seorang empu JI yang terkemuka di dunia.

Banyak kasus yang melahirkan “chilling effect” ini. Salah satunya adalah investigasi yang dilakukan oleh jaringan televisi ABC di Amerika Serikat pada tahun 1992, yang mengungkap praktek jaringan supermarket Food Lion. Dari hasil investigasi reporternya, ABC menemukan bahwa Food Lion menjual daging yang sudah kedaluwarsa, dan buah-buahan yang sudah dijilati tikus di tempat penyimpanannya. Food Lion kemudian menggugat, dan di tahun 1997 pengadilan memutuskan ABC harus membayar ganti rugi dalam jumlah lebih dari lima juta dollar Amerika, walaupun pengadilan tingkat lanjut memutuskan mengurangi jumlah ini secara drastis. Pengadilan menyatakan ABC bersalah karena telah melakukan praktek JI dengan cara “menipu”, antara lain pemalsuan riwayat hidup yang dilakukan oleh si reporter yang menyamar sebagai pekerja di Food Lion, serta memasang kamera tersembunyi untuk merekam kegiatan di supermarket tersebut.

“Chilling effect” dari kasus ini tampak antara lain dari berkurangnya jumlah liputan JI di media-media Amerika beberapa waktu setelah pengadilan memenangkan Food Lion. Misalnya saja hasil riset Marilyn Greenwald dan Joseph Bernt terhadap tiga suratkabar di Amerika Serikat, Chicago Tribune, Philadelphia Inquirer, dan St. Louis Post-Dispatch, pada periode 1980-1995. Seperti termuat dalam buku “The Big Chill: Investigative Reporting in the Current Media Environment”, yang dieditori oleh kedua periset tadi, di tahun 1980 ada total 69 liputan JI yang diterbitkan di ketiga suratkabar tersebut.

Jumlah ini menurun drastis di tahun 1995, yaitu hanya 20 liputan. Namun tidak berarti JI ditinggalkan sama sekali. JI tetaplah dianggap sebagai perwujudan nyata dari peran pers sebagai “pilar keempat” yang mengontrol jalannya kemapanan. Ketika lembaga-lembaga resmi seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan mengalami berbagai hambatan, entah karena kesibukan atau karena ada niat buruk terselubung, maka pers lewat JI-nya tetap menjadi mercu suar yang menjadi pemandu masyarakat.

Ketika mendengar keputusan pengadilan tingkat pertama yang menghukum jaringan televisi ABC sebesar lebih dari lima juta dollar, Roone Arledge selaku pimpinan ABC berkata gusar, “Jika perusahaan-perusahaan raksasa diizinkan untuk menghentikan pukulan keras yang diberikan oleh JI, maka rakyat Amerikalah yang akan menjadi pecundang.” Sebagian besar masyarakat Indonesia tentu tak mau menjadi pecundang. Karena itulah JI tak boleh mati, baik pada Tempo, maupun pada media lainnya yang serius dalam menegakkan kebenaran. ***

Filed under: Jurnalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: