Arya Gunawan

Icon

K3 Bersekutu dengan Seni

“IN the middle of the journey of our life,
I found myself astray in a dark wood,
where the right road has
been lost sight of”

(Di tengah perjalanan hidup kita,
aku tersesat di sebuah hutan nan gulita
ketika jalan yang benar, telah hilang dari pandangan)

Kutipan sajak di atas merupakan bagian pembukaan dari Inferno, salah satu karya termasyhur dari sastrawan Italia Dante Alighieri (1265-1321). Karya tersebut diterbitkan tahun 1314 dalam bahasa Italia, dan penggalan di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh Seamus Heaney, sastrawan asal Irlandia yang meraih hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1995.

Dua nama besar yang bersatu dalam perpaduan literer yang dahsyat, dan kita bayangkan kutipan itu hanya bisa dijumpai di halaman sebuah buku sastra yang tersuruk di sudut-sudut lemari sebuah perpustakaan.

Ternyata tidak. Penggalan sajak tersebut tertulis dalam poster berukuran sekitar 60 x 20 cm yang tertempel di dalam gerbong-gerbong kereta api bawah tanah alias underground yang setiap hari berseliweran bagai ular sawah di terowongan-terowongan yang menghubungkan sekitar seratus stasiun di Kota London. Kota yang antara lain tersohor karena cuacanya yang tak gampang diterka itu salah satu metropolis di dunia yang memiliki kultur kereta komuter (K3) yang telah mapan.

London bahkan menyandang predikat “ibu kota dunia untuk kereta bawah tanah” karena di kota itulah pertama kali dibangun jaringan kereta api bawah tanah, lebih dari 140 tahun silam. Tahun 1986, sejumlah orang memprakarsai ide yang dikenal dengan sebutan Poems on the Underground, alias Sajak-Sajak Bawah Tanah. Tujuannya semula sangat sederhana: untuk menyegarkan jiwa kaum komuter penumpang underground yang setiap hari berulang-alik dari rumah mereka ke kawasan London Raya untuk bekerja.

Setiap empat bulan sekali, sekitar sepuluh puisi pilihan karya berbagai penyair kelas dunia, ditampilkan di dalam gerbong- gerbong underground itu. Karya-karya itu tertempel di sana untuk periode dua bulan.

Kini, setelah hampir dua dasawarsa berlalu, Poems on the Underground yang didukung oleh London Underground (pengelola jaringan kereta bawah tanah di London), London Arts, dan British Council itu dianggap salah satu proyek kesenian untuk publik yang paling sukses di seantero Inggris. Tak banyak yang mengira, proyek ini belakangan ditiru angkutan-angkutan massal di New York, Paris, Dublin, Stuttgart, Barcelona, Australia, Athena, Shanghai, Moskow, dan St. Petersburg, juga di ibu kota negara-negara Skandinavia. Proyek ini bahkan ditelaah untuk disertasi doktoral di bidang-bidang studi media dan semiologi. Karya-karya itu telah dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang sudah mencapai lebih 10 volume.

Ilustrasi pengantar di atas dimaksudkan untuk memperlihatkan kenyataan, K3 telah melahirkan berbagai hasil ikutan, di antaranya kesenian yang ternyata berhak hadir di tempat-tempat yang semula mungkin tidak pernah terbayangkan oleh para senimannya, termasuk di dalam gerbong- gerbong kereta dan stasiun- stasiun. Memang demikianlah adanya. Di kota-kota dengan tradisi K3 yang mapan, kereta api tidak lagi semata-mata sebuah produk teknologi yang dingin dan kaku, salah satu pencapaian penting dari Revolusi Industri di abad ke-18. Ia merambah ke berbagai wilayah lain: mulai dari wilayah ekonomi kapitalistis yang diwakili kehadiran iklan-iklan, yang seperti tiada henti merayu para calon konsumen, hingga ke wilayah kesenian.

Maka, menggunakan kereta api di kota-kota itu memberikan pengalaman kesenian yang memperkaya jiwa. Di London misalnya, para penumpang disuguhi sajian sajak karya para penyair terkemuka sebagaimana contoh di bagian awal tulisan ini. Di dalam gerbong underground London itu, bisa pula dijumpai berbagai karya poster iklan yang memikat secara visual, dengan pesan-pesan yang kadang mengundang rasa geli. Di sepanjang dinding pelataran stasiun-stasiunnya, bertebaran poster-poster iklan berukuran raksasa (sebesar baliho yang dijumpai di jalan-jalan kota besar di Indonesia), yang menawarkan aneka produk, mulai dari produk minuman ringan hingga film yang baru beredar.

Poster-poster raksasa di lorong-lorong stasiun kereta bawah tanah ini juga dapat disaksikan di berbagai metropolis lain, seperti Paris. Atau juga di Singapura. Di negeri tetangga ini bahkan terkadang dijumpai poster-poster yang bisa “mengganggu konsentrasi”. Seorang kawan, misalnya, beberapa tahun lalu pernah berbenturan badan lumayan keras dan membuat ngilu dengan orang lain di salah satu stasiun Mass Rapid Transportation (MRT, nama resmi untuk kereta bawah tanah di Singapura). Apa pasal? Sang kawan memusatkan sepenuh pandangannya ke sebuah poster raksasa yang mengiklankan pakaian dalam wanita sehingga tak sadar kalau jalannya tak lurus lagi sampai terjadi benturan fisik.

Di London, selain seni sastra dan seni visual itu, sesekali bisa pula ditemui seni suara yang diwakili para pengamen dengan penampilan mendekati profesional. Bukan di dalam gerbong, melainkan di pelataran-pelataran stasiun. Semula, para pengamen tersebut tampil secara ilegal karena pengelola stasiun melarang kegiatan tersebut di kawasan mereka. Namun, toh tetap ada juga yang berani tampil dan pengelola stasiun membiarkannya. Maka terkadang bisa dijumpai suara pengamen yang merdu mengumandangkan lagu-lagu semacam Sound of Silence dari duet-maut sejati (bukan duet maut yang membawa-bawa nama Inul) Paul Simon-Art Garfunkel, merayapi lorong-lorong bawah tanah di stasiun-stasiun itu. Dan terhitung sejak 19 Mei 2003, kegiatan mengamen diperbolehkan secara resmi oleh pihak London Underground, tetapi dibatasi hanya di stasiun-stasiun tertentu dan masih dalam fase uji coba.

Para pengamen pun diharuskan mengajukan permohonan terlebih dulu untuk mendapatkan izin resmi itu. Keputusan ini didasarkan pada hasil angket yang dilakukan London Underground, di mana 85 persen komuter setuju agar kegiatan mengamen di stasiun tersebut diizinkan. Setelah berlangsung lebih dari tiga bulan, masa uji coba ini diperpanjang sampai akhir tahun dan jumlah stasiunnya pun bertambah menjadi 17 dari yang semula 12.

Seni konstruksi dan arsitektur menjadi bagian tak terpisahkan dari K3 di negeri- negeri maju. London, juga Paris, bisa membuat banyak orang berdecak kagum membayangkan proses pembangunan lorong-lorong stasiun yang bak labirin. Petunjuk arah menjadi mutlak dituruti jika tak mau tersesat. Kekaguman juga muncul membayangkan konstruksi terowongan kereta api yang mencapai tiga hingga empat lapis. Artinya, di lapis pertama ada terowongan untuk kereta jalur A; turun lagi ke lapis berikutnya, akan dijumpai kereta untuk jalur B, dan seterusnya. Belum lagi konstruksi eskalatornya.

Di London, bisa dijumpai beberapa stasiun yang memiliki eskalator dengan ketinggian sampai 30 meter, antara lain di Stasiun Green Park, Kentish Town, atau Holborn. Stasiun MRT Singapura mengundang decak kagum dengan konstruksi yang amat rapi. Juga dengan perkembangannya yang pesat, termasuk misalnya pembangunan terowongan yang menghubungkan Stasiun City Hallstasiun MRT tersibuk karena menjadi simpul tempat berjumpa kereta dari berbagai jalurdengan Stasiun Raffles Place. Singapura membanggakan pencapaian yang diresmikan 1 Juli 2000 ini sebagai kompleks pertokoan bawah tanah terpanjang di negeri itu, yang berfasilitas pendingin udara. Perlu waktu sedikitnya 10 menit untuk berjalan menyusuri terowongan ini dari ujung ke ujung.

Paris merupakan tempat bersekutu dengan eratnya K3 dan kesenian. Lorong-lorong stasiun-stasiun kereta bawah tanah di kota itu bukan lagi sebuah tempat yang dingin dan senyap, melainkan sebuah kawasan yang dihangati oleh berbagai karya seni. Di antara gemuruh gesekan rel dan roda Metro (nama resmi kereta bawah tanah Paris), orang bisa menyaksikan poster yang bertebaran di dinding-dinding stasiun. Bukan hanya poster, karena stasiun-stasiun Metro di Paris memiliki penampilan dengan ciri khas sendiri-sendiri, mulai dari dinding-dindingnya, sampai ke kursi tempat penumpang menunggu.

Ada kursi tunggu yang hanya terdiri atas sebuah pelataran yang datar dari kaca tebal, ada kursi yang hanya separuh badan (tanpa kaki), yang dilekatkan ke pelataran semen yang agak lebih tinggi dari lantai. Beberapa stasiun memiliki kursi tunggu yang sama, tetapi dengan warna berbeda untuk setiap stasiun. Beberapa stasiun Metro yang berlokasi di dekat Museum Louvre juga memajang karya- karya seni dan artefak penting.

Karya-karya itu, dalam bentuk duplikatnya, berada dalam kotak-kotak kaca yang tertutup rapat yang dipasang di berbagai bagian dinding stasiun. Karya- karya tersebut dalam bentuk aslinya merupakan koleksi dari museum tersohor itu.

PT Kereta Api Indonesia sebagai pihak pengelola kereta komuter di Jakarta kalau mau dan punya hasrat serius, tentu bisa memetik pelajaran berharga dari kota-kota di luar negeri ini. Pastilah telah banyak pejabat instansi tersebut yang melancong untuk melakukan “studi banding” ke negeri-negeri maju tadi, namun entah kapan mereka bisa menerapkan temuan mereka untuk jaringan kereta komuter Jabodetabek (Jakarta-Bogor- Depok-Tangerang-Bekasi).

Maka tak bisa kita saksikan gerbong yang penuh dengan puisi maupun poster memikat. Dinding-dinding gerbong KRL Ekspress di kawasan Jabodetabek hanya ruang yang kosong melompong. Kendati sudah beberapa bulan ini ada pengumuman dari PT KAI untuk mengundang para calon pengiklan untuk beriklan di gerbong-gerbong tersebut, tetap belum ada yang berminat.

Sepengetahuan saya, hanya surat kabar Kompas yang beriklan di dinding luar gerbong KRL Ekspress Pakuan rute Jakarta-Bogor, dengan gambar salah satu partai pertandingan sepak bola Piala Dunia tahun lalu, dilengkapi kata-kata: “Buka Mata Dengan… Kompas”. Tak bisa kita saksikan stasiun- stasiun yang meriah oleh poster-poster dengan desain grafis yang mengundang kagum. Tak ada para pengamen yang tertib karena yang ada, pengamen-pengamen yang berseliweran tidak tertib di pelataran stasiun atau di dalam gerbong menjelang kereta berangkat.

Tiba-tiba saya merindukan para pengamen di Stasiun Marble Arch di jantung London, yang seakan bergumam saat mendendangkan Sound of Silence dengan lirih, merayapi gendang telinga dan hati: Hello darkness, my old friend/I’ve come to talk with you again/Because a vision softly creeping/Left its seeds while I was sleeping/And the vision that was planted in my brain/Still remains/Within the sound of silence.

Catatan perjalanan, untuk mengulangi kenangan: Paris- London-Singapura, September/ Oktober 2003)

Filed under: Transportasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: