Arya Gunawan

Icon

Tak Mudah Mengadili Pers

*Tanggapan untuk Tjipta Lesmana

DALAM berbagai teori jurnalistik, sama sekali tak pernah disebut, wartawan adalah profesi yang eksklusif. Siapa saja boleh memasuki dan menjalankan profesi itu, asal punya kecakapan yang dibutuhkan. Kecakapan itu bisa diperoleh dari pendidikan resmi jurnalistik, dari proses otodidak berdasar pengalaman di lapangan lalu dipoles dengan berbagai kursus.

Memang ada satu hal agak khusus yang dimiliki wartawan, yaitu hak untuk melindungi narasumber yang dirahasiakan identitasnya. Namun, ini lebih merupakan privilese, bukan sesuatu yang eksklusif, sebab hak yang mirip ini juga dimiliki beberapa profesi lain di luar wartawan, misalnya dokter (yang menyimpan rahasia pasien) dan pastor (yang menerima pengakuan dosa umatnya).

Hak wartawan melindungi narasumber pun tetap dimungkinkan untuk gugur bila pengadilan bisa membuktikan, pengungkapan jati diri narasumber yang dilindungi wartawan demi kepentingan negara yang lebih besar.

Wartawan lebih tepat disebut sebagai profesi “mulia”, mirip dokter yang menyembuhkan menyelamatkan jiwa pasien, atau petugas palang merah di kawasan perang yang menolong korban. “Kemuliaan” profesi wartawan karena berperan sebagai “jembatan emas”, penghubung antara sumber informasi dan khalayak luas yang ingin mengetahui informasi itu. Wartawan ibarat suluh penerang agar orang tak sesat berjalan di tengah kegelapan informasi.

Profesi mulia semacam ini sepatutnya mendapat perlindungan. Misalnya, dalam situasi perang, wartawan biasanya diperlakukan mirip dokter, petugas palang merah: tugasnya tak boleh dihalangi. Mereka sedapat mungkin dilindungi dari serangan, sama dengan kaum perempuan, usia lanjut, dan anak-anak. Tanpa perlindungan seperti ini, profesi “mulia” itu sulit dijalankan. Jika tiap saat dokter harus selalu menghadapi tuntutan keluarga pasien, misalnya, profesi dokter hampir pasti akan sepi peminat.

DENGAN pengantar inilah saya ingin menanggapi artikel “Wartawan Bukan Profesi Eksklusif”, tulisan Tjipta Lesmana (Kompas, 23/10). Namun, sebelum masuk lebih jauh, saya perlu mengoreksi sejumlah contoh kasus yang dikutip Tjipta dalam tulisan itu karena tidak akurat atau diletakkan dalam konteks yang tidak utuh sehingga bisa menyesatkan pemahaman pembaca.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Jurnalisme

K3 Bersekutu dengan Seni

“IN the middle of the journey of our life,
I found myself astray in a dark wood,
where the right road has
been lost sight of”

(Di tengah perjalanan hidup kita,
aku tersesat di sebuah hutan nan gulita
ketika jalan yang benar, telah hilang dari pandangan)

Kutipan sajak di atas merupakan bagian pembukaan dari Inferno, salah satu karya termasyhur dari sastrawan Italia Dante Alighieri (1265-1321). Karya tersebut diterbitkan tahun 1314 dalam bahasa Italia, dan penggalan di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh Seamus Heaney, sastrawan asal Irlandia yang meraih hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1995.

Dua nama besar yang bersatu dalam perpaduan literer yang dahsyat, dan kita bayangkan kutipan itu hanya bisa dijumpai di halaman sebuah buku sastra yang tersuruk di sudut-sudut lemari sebuah perpustakaan.

Ternyata tidak. Penggalan sajak tersebut tertulis dalam poster berukuran sekitar 60 x 20 cm yang tertempel di dalam gerbong-gerbong kereta api bawah tanah alias underground yang setiap hari berseliweran bagai ular sawah di terowongan-terowongan yang menghubungkan sekitar seratus stasiun di Kota London. Kota yang antara lain tersohor karena cuacanya yang tak gampang diterka itu salah satu metropolis di dunia yang memiliki kultur kereta komuter (K3) yang telah mapan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Transportasi