Arya Gunawan

Icon

Kultur Kereta Komuter

BELUM lama berselang, sebuah kompleks permukiman di Bintaro, kawasan di belahan selatan Jakarta yang berbatasan dengan wilayah Tangerang, mengiklankan diri di sebuah surat kabar nasional, melalui sebuah foto yang cukup menarik perhatian kendati terkesan agak “bombastis”. Seorang pria muda dengan pakaian necis berdasi, turun dari kereta api yang pintunya baru membuka, dan langsung menjejak ke halaman rumahnya yang asri. Tampak pula istri dan kedua anak si pria yang menyambutnya dengan senyum mengembang.

“Semakin mudah bagi Anda untuk mencapai tempat aktivitas kerja di pusat Kota Jakarta karena KRL Ekspress AC Bintaro begitu dekat dari rumah Anda. Begitu cepatnya sehingga Anda masih dapat menikmati hangatnya secangkir kopi dan koran pagi di kantor atau bermain dengan si kecil sepulang Anda ke rumah. Kini rasa lelah dan stres yang Anda alami di perjalanan selama ini akan menjadi kenangan!”

Demikian bunyi penggalan promosi yang dijajakan oleh iklan kompleks permukiman ini. Perusahaan yang sama juga beriklan di surat kabar beberapa bulan sebelumnya, terpaut hanya beberapa hari dari saat peresmian kereta api rel listrik (KRL) jurusan pusat kota Sudirman-Bintaro.

Foto di iklan itu tentu saja bukan kenyataan yang sesungguhnya, karena dibuat dengan teknik manipulasi memadukan dua foto yang terpisah. Namun, jelas bahwa jaringan KRL Ekspress telah dijadikan bahan jajaan oleh perusahaan pengembang kawasan permukiman tersebut. Bahkan itulah satu-satunya fasilitas yang ditawarkan kepada calon konsumen, tanpa ada penjelasan sama sekali mengenai data yang lebih rinci dari rumah yang dijual, misalnya soal harga yang relatif murah, kemegahan bangunan ataupun eksklusivitas lokasi, atau juga sarana pendukung yang tersedia di sekitar kawasan permukiman tersebut. Sekali lagi: jualannya semata-mata adalah kemudahan akses para calon pemukim terhadap jaringan KRL Ekspress.

Ini merupakan perkembangan menarik, karena KRL yang selama ini mungkin sering dicibir oleh mereka-mereka yang merasa diri warga permukiman berkelas, kini dianggap layak untuk dijajakan. Perkembangan terbaru ini semakin memperlengkap kultur kereta komuter (K3) di wilayah greater Jakarta alias Jakarta Raya (meliputi Jabodetabek: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

K3 sendiri sudah muncul jauh sebelum kehadiran KRL Ekspress Sudirman-Bintaro. Lebih dari dua dasawarsa lalu, ketika Bodetabek sebagai daerah-daerah penyangga Jakarta mulai tumbuh dan kemudian berkembang pesat, ratusan ribu komuter di wilayah tersebut sudah dilayani oleh kereta api. Namun, kultur yang muncul pada masa itu amatlah berbeda dengan apa yang dilahirkan oleh KRL jenis ekspress. Ketika itu yang ada hanyalah kereta api kelas ekonomi. Predikatnya yang “ekonomi” membuat ia identik dengan berbagai hal yang jauh dari kenyamanan: penumpang penuh sesak bahkan hingga ke bagian atap, gerbong yang riuh-rendah bagaikan pasar tradisional berjalan, udara pengap dan terkadang berbau busuk dengan sampah berserakan di setiap sudut, copet yang tekun beroperasi mengintai kelengahan penumpang, sampai keamanan yang seolah-olah tak pernah mendapat prioritas.

Dengan ilustrasi yang menyesakkan semacam itu, kereta api komuter kemudian mendapatkan stigma sebagai alat angkut yang tidak pernah masuk dalam skala prioritas bagi sebagian besar penduduk. Apalagi bagi komuter dari strata ekonomi-sosial menengah ke atas. Kesan kereta semacam itu memang sulit untuk dibuang. Bahkan kesan suram ini sudah melintas benua, sehingga bagi mereka yang bermukim di luar negeri hanya tahu bahwa kereta api di Indonesia adalah kereta api “kelas kambing”, karena begitulah penggalan gambar-gambarnya yang sering ditayangkan di televisi-televisi luar negeri.

Anak remaja dari seorang kenalan saya yang sudah belasan tahun tinggal di London, misalnya, saat berlibur ke Indonesia setahun silam ragu-ragu ketika dianjurkan untuk naik kereta api Parahyangan sepulang berwisata dari Bandung. Ternyata ia takut kalau sampai harus berdesak-desakan, apalagi kalau sampai terpaksa harus duduk di atap, seperti gambaran yang selama ini melekat di benaknya. Ia menganggap semua kereta api di Indonesia serupa saja, tanpa kelas-kelas.

Setelah diyakinkan berulang-ulang, barulah keraguannya sedikit surut. Ia kebetulan naik kelas eksekutif, dan saat diantar ke dalam gerbong yang berpendingin udara, ia tampak  terbengong-bengong, tak menyangka kalau kereta yang akan ditumpanginya itu tidak kalah dibandingkan dengan kereta-kereta api yang ada di Inggris. “Saya salah duga,” katanya, sembari mengacungkan jempol ketika kereta hendak bergerak meninggalkan stasiun.

SEKITAR satu dasawarsa terakhir, barulah muncul kereta komuter dengan kondisi yang jauh lebih beradab, yaitu KRL jenis ekspress yang diawali oleh KRL Pakuan dengan rute Jakarta-Bogor, yang diikuti beberapa tahun setelahnya dengan kemunculan KRL Depok Ekspress, Bojong Gede Ekspress, dan Bekasi Ekspress. Kereta ini disebut ekspress, karena memang kecepatannya lebih tinggi dari KRL jenis ekonomi. Selain itu, KRL ekspress tidak berhenti di setiap stasiun sebagaimana lazimnya KRL ekonomi, melainkan hanya di satu atau dua stasiun utama. KRL Pakuan, Depok Ekspress, dan Bekasi Ekspress, hanya berhenti di Stasiun Gambir sebelum tiba ke tujuan akhir di Stasiun Jakarta Kota (belakangan juga berhenti di Stasiun Juanda).

Waktu tempuh menjadi jauh lebih singkat. Rute Depok-Jakarta Kota, misalnya, hanya ditempuh dalam waktu 30-40 menit. Bandingkan dengan jenis ekonomi, yang memerlukan waktu paling kurang satu jam untuk rute yang sama. Jika ditempuh dengan bus kota, maka waktunya akan lebih panjang lagi, setidaknya dua jam. Jika pada awal kemunculannya hanya KRL Pakuan saja yang memiliki fasilitas penyejuk udara, maka sekitar tiga tahun terakhir semua jenis KRL Ekspress yang beroperasi di wilayah Jakarta Raya memiliki fasilitas yang sama, terutama sejak diterimanya kereta api bantuan dari Pemerintah Jepang, yang sudah beroperasi di negeri asalnya selama lebih dari 20 tahun namun kondisinya masih cukup terawat.

Dengan harga tiket berkisar antara Rp 6.000-Rp 8.000 (ada diskon untuk mereka yang membeli secara berlangganan), maka KRL-KRL Ekspress cepat memikat penumpang, terutama para pekerja kelas menengah yang berkantor di berbagai penjuru jantung Jakarta, yang letaknya tak begitu jauh dari stasiun-stasiun utama yang disinggahi KRL Ekspress.

Peminat memang bertambah cepat. KRL Depok Ekspress, misalnya. Tiga tahun silam, gerbong penumpang relatif lowong dari mereka yang berdiri. Kini, hampir setiap jadwal dari tiga kali keberangkatan setiap pagi, mulai terasa sesak oleh penumpang yang berdiri.

Peningkatan jumlah peminat ini juga terlihat dari antrean calon penumpang yang mendaftar untuk menjadi pelanggan. Jatah tiket untuk berlangganan memang sudah penuh sejak dua-tiga tahun silam, dan mereka yang ingin menjadi pelanggan harus masuk daftar tunggu. Seorang teman yang baru pindah dari luar kota ke Jakarta dan memutuskan untuk menjadi pengguna KRL Depok Ekspress, berada di urutan ke 428 dalam daftar tunggu.

Memang enak menjadi penumpang dengan tiket langganan, karena mendapat beberapa keistimewaan: tidak perlu mengantre di loket pembelian setiap kali akan naik kereta karena tiket berlangganan ini berlaku untuk jangka waktu sebulan, mendapatkan diskon harga jika dibandingkan dengan membeli secara eceran, dan otomatis mendapatkan jatah tempat duduk. Keistimewaan yang disebut terakhir ini kelihatannya akan dihapuskan, meskipun banyak juga suara yang menentangnya.

Tingginya minat terhadap KRL Ekspress inilah agaknya yang membuat PT Kereta Api membuka sejumlah jalur layanan baru pada tahun ini, termasuk rute Jakarta-Bintaro. Seperti iklan yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut, bisa berada di rumah lebih awal untuk berkumpul bersama keluarga setelah seharian lelah bergulat dengan urusan kantor di pusat Kota Jakarta, adalah sebuah kemewahan yang mungkin akan diupayakan oleh banyak penduduk Jakarta dengan segala cara. KRL Ekspress, dengan segala kekurangannya, sedikit banyak telah berhasil menawarkan kemewahan tersebut.

Inilah rutinitas salah seorang pengguna jasa KRL Depok Ekspress yang boleh membuat orang lain iri. Setiap pagi si penumpang menggunakan KRL Depok Ekspress yang pertama. Berangkat dari Depok pukul 06.25, kereta tiba di Gambir sekitar pukul 07.00 (kadangkala bisa lebih awal dari itu), dan dari Gambir menyambung dengan bus kota ke kantornya di kawasan Kebayoran Baru, untuk tiba di kantor pukul 07.30, sesuai dengan awal jam kerjanya. Pulang pukul 16.00, dia menumpang taksi ke Stasiun Gambir, untuk mengejar KRL Depok Ekspress pertama yang bertolak dari Jakarta Kota ke Depok via Gambir, dan bertolak pukul 16.30. Menjelang pukul lima sore penumpang kita ini telah tiba di Stasiun Depok Baru, dan dengan kendaraan umum hanya perlu 15 menit ia tiba ke rumahnya. Menjelang pukul setengah enam petang biasanya dia sudah bisa berkumpul bersama anggota keluarga di rumah, sambil melepaskan penat.

Tak sedikit mereka yang bermukim di kawasan pinggiran Jakarta yang menggunakan mobil pribadi (karena tak ada akses KRL Ekspress ke lokasi permukiman mereka) merasa iri mengetahui rutinitas yang simpel ini. Mereka sendiri setiap hari harus terjebak dalam kemacetan yang luar biasa pada jam-jam orang pergi dan pulang kantor, dan tiba di rumah selalu di atas pukul delapan malam.

KEMACETAN Jakarta yang kian parah memang telah melahirkan para komuter dengan kultur dan kebiasaan sendiri. Salah satunya adalah menjamurnya para pekerja bermobil, yang memilih untuk tidak segera pulang begitu bubar jam kantor. Mereka tidak mau bertarung dalam kemacetan demi menghemat bahan bakar, stamina, dan mungkin juga emosi. Sebagian dari kelompok ini memilih nongkrong di kafe-kafe sambil melakukan berbagai lobi atau hanya sekadar bersantai. Sebagian lainnya memilih tetap tinggal di kantor. Tujuannya sama, yaitu menanti dua-tiga jam sampai kemacetan di jalan raya agak mereda.

Mereka yang memilih tinggal di kantor, biasanya memanfaatkan waktu tunggu itu untuk menangsal perut, misalnya dengan memasak mi instan yang sudah dibawa dari rumah.
Ini mirip dengan apa yang muncul di Bangkok sekitar 10 tahun silam. Kala itu muncul kebiasaan di kalangan siswa sekolah yang bermukim di pinggir kota namun bersekolah di pusat kota, dan diantar oleh orangtua mereka menggunakan mobil sendiri. Mereka biasanya bangun subuh. Seusai mandi, mereka masuk mobil, dan di dalam mobil kembali melanjutkan tidur. Setengah jam menjelang tiba di sekolah, mereka bangun kembali untuk menyantap sarapan pagi di dalam mobil. Mereka bisa melakukan ini karena lamanya perjalanan bisa mencapat tiga jam, sejak mobil bertolak dari rumah hingga tiba di gerbang sekolah.

Untuk Jakarta, kultur kereta komuter di era KRL Ekspress ini kelihatannya akan membawa berbagai dampak positif. Para penumpang akan diajar untuk berdisiplin dengan waktu (karena jadwalnya yang relatif tepat waktu), juga untuk beretika di kereta (tak diperbolehkan merokok, misalnya).

Menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca juga merupakan sebuah kebiasaan yang kian mudah disaksikan di KRL-KRL Ekspress. Para penumpang juga sudah memiliki keahlian melipat surat kabar yang mereka baca sampai ke lipatan yang cukup kecil, agar tidak terganggu atau mengganggu penumpang lainnya. Pemandangan semacam ini adalah sesuatu yang amat lazim di kereta-kereta komuter di negeri-negeri maju.

Hal lain yang tak kalah penting kontribusinya bagi sosok Jakarta adalah bahwa KRL Ekspress sedikit banyak telah ikut menurunkan potensi jumlah pemakai kendaraan bermotor yang memadati Jakarta. Sebagian penumpang KRL Ekspress membawa kendaraan bermotor sendiri hanya sampai di stasiun pemberangkatan untuk kemudian dititipkan di tempat penitipan.

JAKARTA termasuk metropolis yang sudah amat-sangat terlambat memiliki kultur kereta komuter yang beradab. Metropolis lainnya sudah memiliki kultur ini sejak berdasawarsa lalu. Paris dilengkapi jaringan kereta komuter sejak tahun 1900, dan New York memilikinya sejak tahun 1904. London bahkan jauh lebih awal dari ini, yakni sejak 10 Januari 1863.

Tanggal itulah diresmikan penggunaan jaringan kereta bawah tanah di ibu kota Inggris tersebut, yang merupakan kereta bawah tanah pertama di dunia. Sebanyak 40.000 orang mencicipi kereta komuter London ini di hari pertama peresmiannya itu. Kini, jaringan kereta komuter London Raya melayani sekitar empat juta penumpang setiap hari.

Dengan kultur yang telah mentradisi dalam rentang yang panjang ini, Londoners alias para pemukim London sangat lekat dengan kereta api. Sejak anak-anak mereka telah didongengi cerita-cerita “Thomas the Tank Engine” karangan Wilbert Awdry, yang pertama terbit tahun 1945 dan terus terbit edisi barunya hingga kini. Tokoh utamanya adalah Thomas, sebuah kereta api warna biru yang selalu optimis menghadapi hidup. Tidak sedikit pula anak-anak London yang menempatkan masinis sebagai salah satu profesi yang dicita-citakan.

Berbagai kebiasaan juga tumbuh dari masyarakat pengguna kereta komuter London Raya ini. Antara lain mengintip apa yang sedang dibaca penumpang yang duduk di sebelah dan membisu di sepanjang perjalanan. Pernah sekali waktu, tanggal 14 Desember 1999, Perdana Menteri Tony Blair menumpang kereta api komuter “Jubilee Line” menuju ke Millenium Dome yang baru diresmikan. Saat duduk di gerbong, Tony Blair tak dipedulikan penumpang di sebelahnya, meskipun dia telah mencoba menyapa terlebih dahulu. Orang Inggris memang terkenal dengan sifatnya yang tight upper lips (bibir yang senantiasa mengatup, alias enggan bicara).

Jakarta bahkan tertinggal jauh dibanding sejumlah metropolis di kawasan Asia dari segi keberadaban kereta komuternya. Singapura sudah merasakan nikmatnya kereta komuter yang resik dan sejuk sejak tahun 1987. Manila, Bangkok, dan Kuala Lumpur juga sudah beberapa tahun lalu memiliki kereta komuter yang nyaman dan manusiawi.

Namun orang Inggris bilang, better late than never. Lebih baik telat ketimbang tidak sama sekali. K3 itu kini tampaknya memang kian menemukan sosoknya di Jakarta, juga kian beradab. Terlebih tak lama lagi akan hadir pula jaringan monorail yang menghubungkan sejumlah titik di jantung Kota Jakarta. Ini mungkin bisa mengobati obsesi Presiden Megawati agar kita tetap memelihara kebanggaan menjadi bangsa Indonesia, di tengah situasi yang centang perenang dan nyaris tiada jalan keluarnya. Setidaknya, kita bisa menepuk dada kepada bangsa lain di dunia bahwa Jakarta sebagai Ibu Kota telah memiliki jaringan transportasi massal yang lebih beradab. Akan lebih baik bila PT KA memperbaiki “nasib” kereta-kereta komuter ekonomi, agar tidak lagi dapat predikat sebagai angkutan yang tidak beradab. Angkutan “kelas kambing”!

Selamat datang K3.

Filed under: Transportasi

5 Responses

  1. irvan132 says:

    wah, sekarang saya pengen nyobain naek Pakuan Express. moga2 aja ga mengecewakan.😀

    -IT-

  2. wignyokarsono4 says:

    Hello mas Arya,

    Tulisannya bagus banget…….. ciamik enak dibaca…..

  3. Erwin PF says:

    yup..berKRL mungkin salah satu solusi untuk memecahkan kemacetan di Jakarta. Makanya cari rumah yang deket Stasiun KA.

    yang masih males naik KRL ? ikutin aja macettttnyaaa

    *pakuan.ekspress.frequent.flyer

  4. aneuk gendreut says:

    thx..info na

  5. Rullan Rinaldi says:

    Enak sih naek pakuan, rumah di bogor, kantor saya di menteng, dari manggarai tinggal nyambung naek metromini 49.
    Sayang bgt, banyak penumpang yang lesehan ama bawa korsi lipet, klo lg kosong sih gak knp2, yang ngeselin tuh klo lagi penuh, klo mau keluar kreta kayanya susah bgt. Salah2 malah nendang kepala orang ntarnya =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: