Arya Gunawan

Icon

Meramalkan Masa Depan Digital

PERBINCANGAN mengenai sinema digital merupakan salah satu topik hangat sepanjang berlangsungnya Festival Film Cannes (FFC) ke-55, Mei lalu. Ini bukan hal baru. Pembicaraan mengenai sinema digital sudah berlangsung di FFC sejak beberapa tahun terakhir. Tahun 2000, misalnya, panitia mengadakan sebuah diskusi khusus mengenai masalah ini, dengan menghadirkan sutradara muda perempuan Iran, Samira Makhmalbaf, sebagai pembicara yang mengupas berbagai kemungkinan yang bisa dieksplorasi dengan kehadiran teknologi digital. Di FFC tahun lalu, panitia juga mulai membuka kesempatan kepada sejumlah peserta yang menggunakan teknologi digital, namun ketika itu penayangannya masih menggunakan proyektor seluloid. Artinya, filmnya memang dibuat dalam format digital, namun kemudian ditransfer ke media seluloid.

Tahun ini, panitia FFC sudah bergerak maju dengan menyediakan proyektor digital. Dengan demikian, para peserta yang hadir dalam format digital tidak perlu lagi mentrasfer karya mereka ke wujud seluloid, karena sudah bisa langsung ditayangkan menggunakan proyektor digital yang disediakan oleh panitia. “Digital merupakan topik hangat dalam FFC tahun ini. Karena itu, kami merasa berkewajiban menyediakan fasilitas yang memudahkan mereka-mereka yang hadir dalam format digital tersebut,” kata Thierry Fremaux, Direktur Artistik FFC. “Kami tidak menyatakan bahwa sinema digital dalam wujudnya yang sekarang ini merupakan satu-satunya format sinema masa depan, melainkan kami mencoba menawarkan sesuatu yang baru,” tambahnya.

Sinema digital memang mewabah di berbagai penjuru dunia sejak beberapa tahun terakhir. Dengan kamera digital yang ringan (ada yang beratnya tak sampai satu kilogram), yang harganya kian murah (sekitar Rp 20-25 juta per unit), plus skenario dan pemain yang
amatir, seseorang sudah bisa turun ke jalan memproduksi film. Dengan kamera digital semua orang bisa menjadi sutradara. Sebuah demokratisasi yang revolusioner di dunia sinema. Selama lebih dari satu abad sejak ditemukannya sinema di tahun 1895, praktis tidak terjadi revolusi apa pun di bidang teknik (kecuali saat beralih dari film bisu ke bersuara di akhir tahun 1920-an). Wabah digital ini juga merambah sampai ke Indonesia. Berbagai kelompok pencinta film melakukan berbagai lokakarya dan produksi menggunakan kamera digital ini. Beberapa produksi komersial pun telah berjaya memanfaatkan keberadaan teknologi digital ini, misalnya saja dengan Jelangkung, film yang menjadi fenomena di sepanjang penghujung tahun lalu berkat suksesnya secara komersial.

Tidak kurang dari Festival Film Internasional Singapura (FFIS) yang berlangsung April lalu juga memberikan perhatian khusus kepada perkembangan sinema digital ini. Panitia FFIS mengadakan sebuah acara khusus yang mendiskusikan masalah ini, dengan mengundang sejumlah pembicara para sutradara sinema digital dari beberapa negara Asia. Lebih jauh lagi, dewan juri FFIS memberikan penghargaan kepada Eliana, Eliana, film karya sutradara Indonesia yang kini tengah naik daun, Rivai Riza alias Riri yang diproduksi dalam format digital. Namun berbeda dengan di FFC tahun ini, pihak penyelenggara FFIS hanya menerima film yang diproduksi secara digital untuk ikut berkompetisi, tetapi tidak menyediakan fasilitas proyektornya. Karena itu, terpaksalah Riri terbirit-birit melakukan proses transfer filmnya tersebut ke seluloid, agar dapat ditayangkan di FFIS.

Jadi, akankah berlangsung revolusi besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan ini dalam teknologi sinema, yang sama sekali berbeda prosesnya dari apa yang kita kenal selama seabad terakhir ini? Belum ada jawaban pasti mengenai hal ini. Kehadiran teknologi digital ini sendiri diterima secara terbelah: ada pihak yang mendukung, dan ada mereka yang tidak begitu bersemangat. Bagi mereka yang mendukung, alasannya sudah jelas: sinema digital menghadirkan berbagai keuntungan yang selama ini tidak terbayangkan. Salah satunya, demokratisasi di bidang sinema seperti sudah disinggung di atas. Semua orang bisa membuat film, asal tahu mengoperasikan kamera digital dan memahami serba sedikit mengenai skenario, pengaturan adegan, dan akting.

Proses pembuatannya pun jauh lebih singkat, karena menghemat begitu banyak waktu mulai dari masa pra-produksi, pengambilan gambar, sampai pascaproduksi. Sebagai contoh konkret, film Eliana, Eliana misalnya, hanya menghabiskan waktu 14 hari untuk proses pengambilan gambar, sangat jauh lebih singkat dibandingkan dengan proses produksi menggunakan medium seluloid yang rata-rata menghabiskan 30-40 hari syuting.

Teknologi digital juga akan memperpendek jalur distribusi. Jika dalam format seluloid sebuah film harus dimasukkan di dalam kaleng penyimpanan dan dikirimkan dengan jasa ekspedisi ke tempat atau negara yang dituju, maka dengan teknologi digital tak ada lagi kebutuhan akan kaleng dan pengiriman dalam bentuk fisik. Karya sinema yang sudah jadi bisa dikirimkan dengan beberapa alternatif: bisa menggunakan transfer data melalui komputer, bisa pula menggunakan satelit. Jadi, jika sebuah bioskop ingin menayangkan sebuah film tertentu, sang pemilik bioskop tinggal menghubungi pemilik film, yang kemudian mentransfer film yang diinginkan tersebut melalui satelit dan diterima oleh pihak bioskop.

Semua yang tampaknya mudah tadi, dibantah oleh kalangan yang masih skeptis akan teknologi digital ini, dan masih menganggapnya sebagai sebuah eforia yang terlampau dini. Menurut kelompok ini, persoalan serius akan muncul pada rantai terakhir dari proses produksi sebuah film, yaitu jalur eksibisi. Tidak mudah menggantikan peralatan tayang yang ada sekarang agar bisa sesuai dengan teknologi digital. Ambil contoh proyektor digital, saat ini harganya masih pada kisaran 150 ribu dollar Amerika per unit (sekitar Rp 1,3 milyar pada kurs 1 dollar = Rp 9.000). Memang, bisa jadi harga ini akan terus menurun, apalagi jika nantinya sudah banyak pihak yang terjun ke bidang ini, namun tetap saja terbilang mahal. Sejauh ini baru satu perusahaan yang kelihatan sangat agresif mempromosikan sinema digital ini, yaitu Boeing Digital System, anak perusahaan Boeing, pembuat pesawat terbang itu.

Itu baru dari segi teknik. Belum lagi dari segi artistik. Mereka yang skeptis terhadap sinema digital menganggap bahwa imaji yang muncul di layar tidak memberikan kesan emosional sedahsyat jika menggunakan media seluloid. Salah satu eskponen kelompok ini adalah Roger Ebert, wartawan Chicago Sun-Times dan salah seorang kritikus film yang paling disegani di Amerika yang sudah hampir 40 tahun menekuni profesi ini. Pada intinya, Ebert berpendapat bahwa sinema digital, yang diproduksi secara digital, terlebih lagi jika menggunakan banyak bantuan efek khusus menggunakan komputer, akan tampil di layar dalam wujud yang seakan kehilangan bobot, dan tidak realistis.

Beberapa soal lain pada sinema digital juga masih mengganggu. Tim produksi cenderung malas untuk mengakali keadaan, misalnya saja dalam hal pencahayaan. Karena ingin membuat film dengan seefisien mungkin, cukup menenteng satu atau dua unit kamera digital, maka peralatan lampu pun menjadi seadanya.

Perjalanan sinema digital secara keseluruhan tampaknya masih panjang, sampai bisa diterima secara luas di seluruh dunia. Jadi? Bagi mereka yang telah terpanggil untuk berkarya menggunakan teknologi digital ini, tetaplah berkarya. Namun sebaiknya harapan besar dan menggebu-gebu terhadap sinema digital sama-sama kita gantungkan dulu. Biarlah waktu yang akan menjadi penentu…

Filed under: Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: