Arya Gunawan

Icon

Megawati dan Media

PADA peringatan Hari Pers Nasional di Banjarmasin, Presiden Megawati Soekarnoputri menyesalkan sepak terjang pers yang dianggapnya banyak melontarkan kritik namun tidak memberi jalan keluar. “Kita jelas amat memerlukan kritik. Tetapi, sama perlunya adalah memberikan alternatif solusi dari apa yang dikritik itu, dan bila perlu bersedia menjadi pelaksana untuk membuktikan kebenaran dan keandalan alternatif yang ditawarkan tadi,” demikian presiden (Kompas, 9/2). Tulisan ini “terpaksa” mengkritik Megawati karena pernyataannya itu memiliki dua kelemahan pokok.

Pertama, tugas utama pers adalah menyampaikan kritik. “Journalism’s first obligation is to the truth,” kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001). Karena kewajiban pertamanya kepada kebenaran, pers sering harus membeberkan secara apa adanya, termasuk lewat kritik tajam. Di negara-negara dengan tradisi demokrasi tinggi, pers “memelototi” kinerja pemerintah (juga parlemen dan lembaga yudikatif), mengecam kebijakannya bila ada yang mengandung potensi salah, dan belum tentu memuji bila ada pada jalur yang benar. Kalau ada pers yang selain melontarkan kritik juga memberi jalan keluar, itu hendaknya dianggap sebagai “bonus”, bukan kewajiban.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Filed under: Jurnalisme, Media