18 September, 2008 • 11:10 pm
Persoalan estetika film Indonesia tahun 2007 ini secara umum tak begitu banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya di sepanjang era reformasi yang telah berlangsung hampir satu dasawarsa ini. Dari segi jumlah judul maupun jumlah penonton, telah terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, sedikit-banyak didorong oleh perkembangan di bidang teknologi yang kian mudah dan murah diperoleh. Namun sebagaimana yang lazim terjadi, peningkatan dari segi jumlah tidaklah serta merta berbanding lurus dengan peningkatan dari segi mutu artistik.
Perjalanan film Nagabonar Jadi 2 (untuk seterusnya dalam tulisan ini disingkat sebagai Naga) bisa dijadikan cermin kondisi di atas. Film yang merajai hampir semua festival film yang diselenggarakan di Indonesia di sepanjang tahun 2007 ini, menunjukkan sekaligus dua hal penting. Hal yang pertama bisa dianggap “cukup memprihatinkan”, dan hal yang kedua dapat digolongkan sebagai sesuatu yang “menggembirakan”. Hal yang pertama tersebut adalah bahwa ternyata seakan-akan tidak cukup banyak alternatif yang dimiliki oleh para juri di berbagai ajang festival film itu sehingga mereka seperti paduan suara yang kompak menghujani Naga dengan berjenis penghargaan, termasuk penghargaan tertinggi sebagai film terbaik. Naga sulit terkalahkan oleh para pesaing lainnya di berbagai ajang festival tersebut.
Di FFI 2007 misalnya, dimana saya ikut menjadi salah seorang anggota dewan juri, dari putaran-putaran awal sudah kelihatan bahwa suara para juri “berat” ke Naga. Dalam diskusi yang tetap diwarnai perdebatan, baik pada tahapan penentuan nominee/unggulan, juga pada penentuan pemenang akhir, Naga tampak memimpin, sehingga pada saat menetapkannya sebagai film terbaik tidak terjadi perdebatan yang terlalu menguras tenaga. Film tersebut meraih nilai-lebih terutama dari segi tematik.
Read the rest of this entry »
Filed under: Film
10 September, 2008 • 2:00 am
Dewasa ini, nyaris merupakan hal yang musykil untuk mendapati sebuah festival film internasional bergengsi tidak memasukkan film-film dari kawasan Asia Tenggara dalam daftar peserta. Asia Tenggara, diwakili terutama oleh Thailand, Malaysia, Indonesia, Singapura, telah menjadi satu entitas penting yang tak dapat dikesampingkan oleh para pengelola festival di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain: perbincangan mengenai perkembangan sinema dunia akan menjadi tak lengkap apabila tidak ada karya-karya yang mewakili kawasan Asia Tenggara tersebut.
Minat dan ketertarikan dunia terhadap Asia Tenggara agaknya merupakan pergeseran, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perluasan, dari minat dan ketertarikan terhadap sinema dari sejumlah negara lainnya di Asia yang non-Asia Tenggara. Jepang dan India, misalnya, sudah sejak tahun 1940-an ikut terjun meramaikan gelanggang percaturan sinema dunia itu, disusul kemudian oleh Cina Daratan dan Hong Kong. Pada periode yang lebih kontemporer, daftar tadi bertambah pula dengan Iran, Taiwan, dan Korea Selatan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Film
8 September, 2008 • 9:06 pm
(Tulisan ini sudah dimuat di majalah Harpers Bazaar edisi Indonesia, bulan April 2002, dengan pemenggalan di beberapa tempat. Berikut ini versi aslinya)
Saat tulisan ini dibuat, film “Ada Apa dengan Cinta” sudah menyedot 1,2 juta penonton, dan jumlah ini masih akan terus bertambah. Sementara “Jelangkung” masih bertahan di sejumlah bioskop, sejak pertama kali diputar 5 Oktober tahun lalu. Beberapa film baru juga siap menggebrak pasar. Apakah ini semua pertanda revivalisasi (kebangkitan kembali) sinema Indonesia? Jangan buru-buru menepuk dada, karena perjalanan masih panjang.
Ketika banyak perempuan selebritis berkumpul di Taman Ismail Marzuki menyaksikan pementasan “Vagina Monolog”, Jumat malam, 8 Maret 2002, Mira Lesmana ternyata memilih berada di rumah. Malam itu, dalam komunikasi SMS (short messaging service) dengan penulis, Mira mengaku bahwa dia sebenarnya diminta ikut menjadi salah satu artis pendukung pementasan tersebut. Namun dia harus menemani anak-anaknya di rumah, karena, “Besok pagi (Sabtu, 9 Maret), saya harus ke Bandung, untuk hadir di acara diskusi Ada Apa dengan Cinta? di Jurusan Filsafat, Universitas Parahyangan,” begitu bunyi pesan SMS-nya.
Mira Lesmana memang jadi jauh lebih sibuk sebulan terakhir ini, melayani berbagai permintaan untuk tampil dalam sejumlah diskusi, juga melayani permintaan wawancara berbagai media. Itu semua karena film yang diproduksinya bersama Riri Riza, Ada Apa dengan Cinta? (AADC?) “meledak” di bioskop. Persis sebulan sejak pertama kali diputar untuk umum, 8 Februari lalu, AADC? telah menyedot 1,2 juta penonton, sebuah angka yang terbilang sangat fantastis untuk film Indonesia. Apalagi jika diingat bahwa angka itu sudah bisa dipastikan akan terus bertambah, karena sampai saat ini AADC? masih bertahan di sejumlah bioskop kelas atas. Antrean juga masih terlihat di muka loket penjualan tiket, meskipun sudah tidak sehebat pada pekan-pekan pertama.
Read the rest of this entry »
Filed under: Film