Dalam pertemuan kita hampir setahun yang lalu, saya mengajukan sebuah preposisi: bahwa pendekatan yang paling penting untuk menggali lebih jauh mengenai “jurnalisme baru” adalah justru “jurnalisme lama”, disiplin lama di bidang jurnalistik yang semestinya sudah mewaris secara turun-temurun, semenjak jurnalisme bermutu (quality journalism) mulai dipraktekkan oleh para wartawan idealis dan pemilik media idealis, sejak awal abad ke-20. Dengan kata lain, usulan saya setahun yang lalu itu adalah “untuk menyelamatkan jurnalisme, marilah kita semua berupaya dengan sungguh-sungguh dan sekuat daya upaya untuk kembali ke akar jurnalisme”. Adapun akar jurnalisme adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal berikut ini:
Misi utamanya adalah mencerahkan khalayak pembaca/pemirsanya, dengan niat untuk mengungkapkan berbagai hal yang penting, relevan, dan diperlukan oleh khalayak yang dilayaninya. Untuk mencapai misi ini maka jurnalisme harus terus-menerus menjaga kemampuannya untuk menggugat, bersikap kritis dan skeptis, tak berhenti mempertanyakan segala hal dan keadaaan, dan berpihak kepada mereka yang tak memiliki suara atau yang berada dalam posisi yang “lemah”. Untuk konteks yang terakhir ini, misi jurnalisme adalah “to comfort the afflicted, and to afflict the comfortable” (ungkapan dari Finley Peter Dune, 1867-1936, seorang wartawan Amerika Serikat yang cukup berpengaruh di eranya).
Senjata utamanya adalah imparsialitas alias mencoba berada di tengah-tengah.
Filed under: Jurnalisme, Media