Arya Gunawan

Icon

Tiga PR Utama Pers Indonesia

Kemerdekaan pers telah dinikmati sepanjang satu dekade terakhir. Berbagai peristiwa hadir silih berganti mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia sepanjang periode tersebut. Mula-mula pers Indonesia seperti terkesima dan gamang dengan hadirnya era kemerdekaan ini, ditandai dengan berbagai macam proses belajar dan uji coba (trial and error) dalam mengisi era kemerdekaan itu. Para pekerja pers mencari format yang pas dalam cara melaporkan peristiwa, dalam mengemas produk mereka. Masyarakat pun seperti terkesima menyaksikan kemerdekaan yang hadir lumayan tiba-tiba itu, menyaksikan kehadiran sosok pers yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada di era sebelum itu. Sejak era reformasi, praktis semua kejadian dapat diberitakan oleh pers, sebagian dengan gaya yang sangat terbuka bahkan vulgar (dalam pilihan berita, sudut pandang penggarapan, penggunaan judul dan kata pada tubuh berita).

Perjalanan ini juga telah diwarnai oleh langkah yang tertatih-tatih, dengan berbagai sandungan yang muncul di sana-sini, termasuk sejumlah kasus serius di mana kemerdekaan yang baru dinikmati itu seperti terancam akan direbut kembali oleh pihak-pihak yang tak begitu bahagia menyaksikan berkembangnya pers yang merdeka tadi. Kini, setelah 10 tahun, tentu banyak hal yang telah dilewati dan bisa dipetik sebagai pelajaran berharga. Salah satu pelajaran berharga itu adalah kesadaran akan betapa pentingnya memiliki kemerdekaan ini, sebagai modal bagi hadirnya dua unsur penting bagi sebuah demokrasi, yaitu transparansi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan negara; dan keterlibatan yang penuh warga negara untuk menyuarakan aspirasi mereka, termasuk aspirasi yang berseberangan dengan suara mayoritas, maupun suara penguasa (sesuatu yang muskil terjadi saat berkuasanya Orde Baru).

Tiga pekerjaan rumah
Menyadari makna kemerdekaan pers ini, maka menjadi sangat penting pula bagi seluruh pihak yang bersinggungan langsung dengan dunia pers (para profesional di bidang media, pengamat dan akademisi di bidang media, serta aktivis pendukung gagasan kemerdekaan pers) untuk merawat dan terus mengembangkan kemerdekaan pers ini sehingga dapat menemukan bentuknya yang kian sempurna. Dalam konteks inilah pers Indonesia, di tengah-tengah peringatan Hari Kemerdekaan Pers Sedunia, perlu melakukan perenungan untuk menarik pelajaran penting itu, sebagai modal bagi perjalanan pada tahun-tahun berikutnya.

Setidaknya ada tiga pekerjaan rumah besar yang seyogianya dapat dijadikan bahan perenungan. Pertama, mencoba menelaah dengan jujur mengenai seberapa jauh masyarakat merasa memiliki dan berkepentingan dengan hadirnya kemerdekaan pers. Ini sebuah kesadaran yang penting dan perlu, agar masyarakat memahami bahwa kemerdekaan pers bukan semata-mata dinikmati secara sepihak oleh kalangan pers, melainkan juga dirasakan manfaatnya bagi masyarakat secara umum.

Dengan kata lain, pers harus terus-menerus membangun kepercayaan masyarakat, sebagai imbalan dari berbagai “hak-hak istimewa” yang telah dititipkan dan diamanatkan oleh masyarakat kepada pers. Seperti yang dirumuskan wartawan kawakan Amerika Serikat, Bill Kovach, dalam bukunya yang terkenal (ditulis bersama Tom Rosenstiel), The Elements of Journalism, kesetiaan profesi jurnalisme pertama-tama adalah kepada masyarakat yang telah memberikan “hak-hak istimewa” itu sehingga merekalah yang harus dilayani pertama-tama oleh pers. Bukan pemilik atau majikan tempat jurnalis bekerja. Ini akan menumbuhkan sikap independen yang kukuh, yang kemudian akan memunculkan rasa memiliki dari masyarakat, sehingga masyarakat akan bereaksi jika kemerdekaan pers tengah menghadapi rintangan.

Namun, kelihatannya situasi ideal seperti di atas memang belum hadir secara memuaskan. Masih terasa ada jarak yang terbentang antara pers dan masyarakat. Dua hal bisa dijadikan bukti atas kondisi ini: kerap munculnya berbagai keberatan masyarakat terhadap sepak terjang sebagian kalangan pers dan tidak banyaknya suara pembelaan yang ditunjukkan oleh masyarakat terhadap pers pada saat pers tengah menghadapi ancaman.

Pertanyaan kedua yang menjadi bahan perenungan adalah apakah pers telah melakukan upaya serius untuk menyeimbangkan hak dan kewajibannya. Ataukah selama ini pers lebih banyak mementingkan dirinya sendiri dengan menuntut hak-haknya, namun seperti abai terhadap kewajibannya (misalnya menjadikan etika sebagai panduan dalam bertindak maupun meningkatkan keterampilan teknis jurnalistik).

Jawaban atas pertanyaan di atas juga masih jauh dari memuaskan. Masih banyak kasus pelanggaran etika jurnalisme yang dilakukan kalangan pers, bahkan oleh anggota pers yang sudah masuk kategori mapan sekalipun. Dari segi kemampuan teknis juga masih banyak penyempurnaan yang diperlukan. Ambil contoh kemampuan untuk melakukan liputan investigatif. Sepanjang kurun waktu setahun terakhir ini saja, pengungkapan hampir semua kasus besar yang melibatkan kepentingan publik dan masuk wilayah liputan investigatif tidak diprakarsai oleh pers. Misalnya kasus yang melibatkan jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani (Maret 2008). Lalu kasus yang muncul pada Maret 2009, yaitu kisruh daftar pemilih tetap untuk Pemilihan Umum 9 April dan kasus dugaan korupsi dana pembangunan Indonesia bagian timur (seperti diungkap oleh politikus Partai Amanat Nasional, Abdul Hadi Djamal, yang kemudian menyeret-nyeret pula nama Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera). Tentu saja contoh terhangat adalah kasus yang menyita perhatian kita di hari-hari terakhir ini, yaitu dugaan keterlibatan Antasari Azhar sebagai dalang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Dalam semua kasus penting di atas–hanya untuk menyebut beberapa di antara sederet contoh yang ada–pers lebih banyak bertindak sebagai pemamah informasi yang disampaikan oleh penyidik resmi. Idealnya, perslah yang seharusnya mengambil posisi terdepan mengungkap kasus-kasus tersebut, lalu memberikan tekanan kepada lembaga-lembaga resmi untuk menindaklanjuti temuan-temuan yang diperoleh pers dalam proses pengungkapan kasus-kasus itu.

Karena jawaban atas dua pertanyaan pekerjaan rumah di atas masih belum sesuai dengan harapan, hadirlah PR ketiga, yaitu perlunya upaya nyata untuk melakukan pembenahan terhadap berbagai hal yang masih belum ideal itu. Gerakan nyata ini bukanlah pekerjaan ringan, terlebih mengingat betapa memprihatinkan sebetulnya situasi pers Indonesia sebagai sebuah industri secara keseluruhan, karena lebih banyak dari anggota keluarga besar pers Indonesia ini (sekitar 70 persen) berada di wilayah perbatasan antara “ada dan tiada”. Namun, seberat apa pun situasinya dan sedahsyat apa pun tantangannya, tetaplah harus dihadapi, tentu dengan upaya bersama dan bahu-membahu agar usia kemerdekaan pers di negeri tercinta yang tengah mengalami berbagai cobaan berat ini panjang.

Filed under: Jurnalisme

Saya dibesarkan oleh Si Kuncung

Terima kasih karena sudah memposting tulisan menyentuh ini. Salah satu dari sangat sedikit hal yang bisa membuat mata saya basah adalah tulisan (entah lewat puisi, cerpen, novel, atau surat). Dan tulisan Pak Mula Harahap yang diposting di milis kita ini termasuk dalam kelompok itu. Mata saya berair. Berair tersebab oleh isi tulisan ini, juga oleh kenangan yang hadir di hadapan mata saya.

Sama seperti Pak Mula (beliau kini salah seorang pengurus Ikatan Penerbit Indonesia/Ikapi, bukan?), juga mungkin banyak di antara anggota milis ini, saya dibesarkan oleh Si Kuncung. Saya kenal nama ini ketika saya duduk di kelas II atau III SD (tahun-tahun 1973-an), di kota kelahiran saya, Jambi. Majalah ini hanya dijual di satu tempat: yaitu di Kantor Pos besar di kota saya, yang kebetulan berjarak hanya sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Menunggu terbitnya edisi baru adalah sebuah pekerjaan yang mendebarkan, hanya berselisih seurat dibandingkan menanti datangnya kekasih di masa-masa puber pertama (bukan berarti saya kini berada pada masa puber kedua, kendati usia saya memang sudah masuk ke periode itu).

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

Sinema Indonesia 2007: Dari “Naga” Deddy Mizwar Hingga “Monyet” Djenar

Persoalan estetika film Indonesia tahun 2007 ini secara umum tak begitu banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya di sepanjang era reformasi yang telah berlangsung hampir satu dasawarsa ini. Dari segi jumlah judul maupun jumlah penonton, telah terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, sedikit-banyak didorong oleh perkembangan di bidang teknologi yang kian mudah dan murah diperoleh. Namun sebagaimana yang lazim terjadi, peningkatan dari segi jumlah tidaklah serta merta berbanding lurus dengan peningkatan dari segi mutu artistik.

Perjalanan film Nagabonar Jadi 2 (untuk seterusnya dalam tulisan ini disingkat sebagai Naga) bisa dijadikan cermin kondisi di atas. Film yang merajai hampir semua festival film yang diselenggarakan di Indonesia di sepanjang tahun 2007 ini, menunjukkan sekaligus dua hal penting. Hal yang pertama bisa dianggap “cukup memprihatinkan”, dan hal yang kedua dapat digolongkan sebagai sesuatu yang “menggembirakan”. Hal yang pertama tersebut adalah bahwa ternyata seakan-akan tidak cukup banyak alternatif yang dimiliki oleh para juri di berbagai ajang festival film itu sehingga mereka seperti paduan suara yang kompak menghujani Naga dengan berjenis penghargaan, termasuk penghargaan tertinggi sebagai film terbaik. Naga sulit terkalahkan oleh para pesaing lainnya di berbagai ajang festival tersebut.

Di FFI 2007 misalnya, dimana saya ikut menjadi salah seorang anggota dewan juri, dari putaran-putaran awal sudah kelihatan bahwa suara para juri “berat” ke Naga. Dalam diskusi yang tetap diwarnai perdebatan, baik pada tahapan penentuan nominee/unggulan, juga pada penentuan pemenang akhir, Naga tampak memimpin, sehingga pada saat menetapkannya sebagai film terbaik tidak terjadi perdebatan yang terlalu menguras tenaga. Film tersebut meraih nilai-lebih terutama dari segi tematik.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film

Dinamika Mutakhir di Seputar Sinema Asia Tenggara

Dewasa ini, nyaris merupakan hal yang musykil untuk mendapati sebuah festival film internasional bergengsi tidak memasukkan film-film dari kawasan Asia Tenggara dalam daftar peserta. Asia Tenggara, diwakili terutama oleh Thailand, Malaysia, Indonesia, Singapura, telah menjadi satu entitas penting yang tak dapat dikesampingkan oleh para pengelola festival di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain: perbincangan mengenai perkembangan sinema dunia akan menjadi tak lengkap apabila tidak ada karya-karya yang mewakili kawasan Asia Tenggara tersebut.

Minat dan ketertarikan dunia terhadap Asia Tenggara agaknya merupakan pergeseran, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perluasan, dari minat dan ketertarikan terhadap sinema dari sejumlah negara lainnya di Asia yang non-Asia Tenggara. Jepang dan India, misalnya, sudah sejak tahun 1940-an ikut terjun meramaikan gelanggang percaturan sinema dunia itu, disusul kemudian oleh Cina Daratan dan Hong Kong. Pada periode yang lebih kontemporer, daftar tadi bertambah pula dengan Iran, Taiwan, dan Korea Selatan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Film

Melahirkan Buku

Ruas-ruas jalan Beyoglu, pojok-pojoknya yang gelap, niatku untuk pergi, rasa bersalahku – semua itu berkedip-kedip bagaikan lampu-lampu neon dalam kepalaku. Sekarang aku tahu, bahwa malam ini ibuku dan aku tidak akan bertengkar, bahwa dalam beberapa menit lagi aku akan membuka pintu dan keluar menuju jalan-jalan kota ini yang menentramkan; dan setelah berjalan di separuh malam, aku akan kembali ke rumah dan duduk di mejaku dan menangkap nyawa ruas-ruas jalan itu untuk kutuangkan ke atas kertas.

“Aku tidak mau menjadi seorang pelukis,” ujarku. “Aku akan menjadi seorang penulis.”

Sebuah tekad yang kuat tampaknya telah diguratkan. Dan harus dijalankan. Dan memang, dunia kemudian tahu bahwa sang penulis kalimat-kalimat tersebut muncul sebagai seorang penulis dan pengarang cerita terpenting di era mutakhir ini. Dia adalah Orhan Pamuk, pengarang Turki peraih Nobel Kesusasteraan tahun 2006. Kalimat-kalimat yang dikutipkan di atas adalah bagian paling ujung dari bukunya yang terbit tahun 2005, Istanbul: Memories of A City. Buku 348 halaman ini dengan sangat memikat menuturkan keindahan Istanbul, dari sudut pandang seorang warganya yang peka menangkap sasmita keindahan itu.

Buku ini sebetulnya menceritakan riwayat hidup Orhan, namun tidak terasa sebagai sebuah memoar melainkan lebih sebagai sebuah novel. Kisahnya kemudian dilekatkan pada sebuah bingkai yang kokoh, yaitu kota Istanbul yang muncul tidak hanya sekadar sebagai sebuah lanskap, melainkan sebagai sesosok makhluk yang seakan-akan berjiwa, yang punya riwayat, punya manis-getir pengalaman, dan punya indra untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang bermunculan di dalamnya, mulai dari masa keemasan dinasti Ottoman hingga masa keruntuhannya, dengan puing-puingnya yang kini menjadi ornamen kota Istanbul.

Read the rest of this entry »

Filed under: Uncategorized

a