Arya Gunawan

Icon

Catatan atas Kompas edisi Kamis, 22 April 2010

Kawan-kawan,

Mumpung kebetulan ada waktu luang di sela-sela rehat jam makan siang, saya menyempatkan diri lagi membuat catatan mengenai “kekurangan”/”kelemahan” isi koran kita, seperti yang saya lakukan untuk Koran Tempo kemarin pagi (sebetulnya juga di beberapa kesempatan lainnya di masa sebelumnya). Saya kira sangat baik jika setiap hari ada catatan-catatan kecil seperti ini (sebagaimana dianjurkan oleh salah seorang anggota milis jurnalisme ini, Sdr. Eko Bambang Subiantoro alias Kinyur yang kemarin ikut mengomentari catatan saya tentang ini Koran Tempo). Setiap kawan anggota milis yang merasa punya waktu senggang di pagi atau siang hari sesudah melahap isi koran-koran, bisa membuat komentar, atau juga kritik, terhadap hasil bacaan/amatannya itu, dari berbagai aspeknya (baik itu dari aspek bahasa, sudut pandang, kelengkapan berita, bahkan mungkin dugaan-dugaan yang terkait dengan masalah agenda-setting media). Saya sendiri lumayan kerap melakukan ini, kadangkala untuk saya simpan sebagai bahan tulisan di kemudian hari jika waktunya tepat, atau untuk saya jadikan bahan saat memberikan pelatihan dan kuliah; kadangkala saya kirimkan langsung lewat japri kepada pengasuh media yang bersangkutan (terutama Koran Tempo dan bekas almamater saya, Kompas).

Saya yakin sepenuhnya, catatan-catatan sederhana seperti ini akan membawa banyak maslahat, kalau bukan untuk perkembangan/kemajuan jurnalisme Indonesia secara keseluruhan (media mungkin akan lebih berhati-hati dalam mengemas produknya karena tahu ada sejumlah “detektif partikelir” yang terus memasang mata terhadap sepak terjang mereka), ya setidak-tidaknya akan terus menanamkan sikap awas untuk diri sendiri (bagi si pemuat catatan/komentar). Ini semacam lembaga pemantau media yang tidak terorganisasi/terlembaga, ya namanya juga partikelir. Upaya semacam ini juga baik untuk ikut memberikan sedikit sumbangsih bagi “pendidikan” literasi media.

Saya tahu, banyak anggota milis ini yang jeli dalam mengamati isi media. Ada Mbak Sirikit (yang memang aktivis lembaga pemantau media), ada Bung Alfian Hamzah (yang juga gemar menguliti berbagai kejanggalan dan bias yang disebarkan oleh media), ada Ikram Putra (yang juga awas melihat hal-hal aneh dalam berita media, bahkan sampai ke hal-hal kecil yang hampir pasti luput dari pengamatan orang kebanyakan), ada Bung Item (yang pikiran-pikirannya seringkali nakal dan “tak biasa”), lalu ada orang-orang Mas Farid Gaban, Oom Dandhy dan Oom Hertasning (yang juga akan bereaksi melihat kemungkinan berbagai agenda terselubung yang dibawa oleh media), dan masih banyak nama lainnya yang capek jari saya jika harus menuliskannya semua di sini. Ayolah kawan-kawan, kita jadikan hobi catat-mencatat ini sebagai tradisi yang mudah-mudahan akan terus menyalakan api milis jurnalisme ini.

Hari ini saya mengambil Kompas edisi hari ini, Kamis, 22 April 2010, sebagai sampel. Berikut temuan saya:

  1. Di lembar Liputan Khusus Indonesia-China yang berjumlah empat halaman (dari halaman 33 hingga 36), ada tulisan berjudul “Merentas Kembali Hubungan Persahabatan” (di halaman 35). Kata “merentas” yang dipakai dalam judul laporan ini sebetulnya bukanlah bentuk awal yang baku, melainkan merupakan perkembangan/pengembangan/perjalanan lebih lanjut dari bentuk aslinya, “meretas” (kata dasarnya: “retas”, tanpa huruf “n”)). Memang, keduanya masuk sebagai lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun sepatutnyalah dijadikan pilihan yang pertama.Ini saya kutipkan makna dari kedua kata tersebut sebagaimana yang termaktub dalam KBBI edisi online:

    1re*tas a sudah putus benang jahitannya; terbuka jahitannya (kelimnya dsb): jangan memakai pakaian yg sudah –; me*re*tas v 1 memutuskan benang-benang pd jahitan: ~ kelim; 2 membuka (surat) dng pisau; 3 membedah atau membelah kulit (karung dsb): krn putus asa, ia ~ perutnya sendiri dng sebilah pisau; 4 menebangi pohon untuk membuat jalan; merintis; merentas; 5 menembus dng merusak dinding dsb: pencuri itu lolos setelah ~ dinding kamarku; pe*re*tas n 1 orang yg meretas jalan dsb; 2 alat yg dipakai untuk meretas sesuatu; pe*re*tas*an n perlakuan pendahuluan untuk memperlunak atau menipiskan kulit benih

    rentas, me*ren*tas v 1 meretas; memintas; 2 merintis: ~ jalan

    Kompas sendiri terkesan tidak memiliki ketetapan dalam penggunaan kedua kata tersebut, karena banyak juga kita jumpai berita/laporan di Kompas yang memakai “meretas”.

    Lebih dari itu, saya menduga ada kerancuan makna juga bagi para pengguna kata “meretas” ini (baik pada penulis luar/penyumbang kolom, maupun pada redaktur bahasa di Kompas sendiri yang telah membiarkan kerancuan makna ini berlangsung terus tanpa koreksi). Lihatlah misalnya tulisan “Meretas Budaya Kekerasan”, oleh Aloys Budi Purnomo yang dimuat di rubrik kolom/opini pada edisi Jumat, 16 April 2010, halaman 6. Tulisan ini intinya merisaukan kian banyaknya kekerasan yang terjadi di Tanah Air kita ini. Sang penulis, yang juga seorang rohaniawan, tentu saja menganjurkan agar budaya kekerasan ini segera dihentikan (termasuk juga dengan merujuk program/kegiatan membangun budaya damai yang banyak dikerjakan oleh UNESCO, lembaga tempat saya bertugas). Jika inti tulisannya adalah menganjurkan kita semua keluar dari budaya kekerasan itu, maka judul tulisan tersebut justru bermakna sebaliknya, karena makna dari kata “meretas” adalah membuka jalan.

    Atau lihat juga contoh lainnya, yakni tulisan berjudul “Saatnya Meretas Kesenjangan” (merupakan bagian terakhir dari lima seri tulisan tentang Otonomi Sulawesi Barat yang dilaporkan wartawan Kompas, M Toto Suryaningtyas) yang dimuat di Kompas, edisi Senin, 5 April 2010, halaman 4. Perhatikan penggunaan kata “meretas” pada judul laporan tersebut, yang tentu saja dimaksudkan oleh sang penulisnya sebagai “menghapuskan”, “memutus”, “mengurangi”. Namun penggunaan kata “meretas” tadi (dengan merujuk kepada makna yang dijabarkan oleh KBBI) tentu saja bertentangan dengan apa yang ingin diniatkan oleh tulisan tersebut. Ataukah barangkali terjadi kerancuan dengan kata lain yang tulisannya mirip, dan maknanya dekat-dekat ke apa yang hendak dituju oleh laporan tersebut? Kata tersebut adalah “entas”. Jika kita rujuk ke penjelasan mengenai kata ini di KBBI, maka ada di antara makna yang termuat di situ yang cocok dengan isi laporan tadi.

    en*tas v, meng*en*tas v mengangkat (dr suatu tempat ke tempat lain): ~ sayuran yg sedang direbus; 2 mengeluarkan dr lingkungan cairan; 3 ki menyadarkan; memperbaiki nasib: pemerintah berupaya ~ mereka yg terjerumus ke lembah kenistaan; meng*en*tas*kan v 1 mengentas untuk orang lain; 2 ki memperbaiki (menjadikan, mengangkat) nasib atau keadaan yg kurang baik kpd yg (lebih) baik: para menteri diminta untuk ~ petani kecil melalui program transmigrasi; ter*en*tas v sudah dientas; ter*en*tas*kan v dapat dientaskan; peng*en*tas*an n proses, cara, perbuatan mengentas atau mengentaskan: — masyarakat dari kemiskinan

    Masih banyak lagi contoh-contoh pemakaian kata “meretas” oleh Kompas dengan cara yang kurang tepat (misalnya saja ada judul “Mencoba Meretas Caleg Berkualitas” di Kompas.com edisi Kamis, 5 Februari 2009), di samping tentu saja ada banyak kasus juga dimana Kompas menggunakannya secara tepat. Salah satunya seperti berita berjudul “Repvblik Meretas Jalan “Go International””, yang saya kutip dari situs kompas.com edisi Jumat, 29 Januari 2010, pukul 19:03 WIB. Isi beritanya tentang kelompok band “Repvblik” yang mendapatkan sambutan hangat di kawasan Asia Tenggara.

    Mungkin kawan-kawan di Kompas, terutama penjaga gawang bahasa, bersedia berbagi pendapat di milis ini?

  2. Ada dua berita “kembar” (tidak 100% identik) yang dimuat di halaman berbeda di edisi hari ini. Yang satu dimuat di rubrik Kilasan Kawat Sedunia halaman 11, di bawah “dateline” Washington. (Catatan: “dateline”, dan bukan “deadline”. “Dateline” adalah rujukan kepada tanggal dan tempat pada sebuah berita jurnalistik, sedangkan “deadline” ya garis-mati, batas dimata jika tulisan/berita kita tidak disetorkan maka bisa membuat suratkabar/majalah kita mati sungguhan karena alamat akan telat tiba di tangan pembaca). Sedangkan saudara/i kembarnya dimuat di halaman 13, di ruang Kilas Iptek, di bawah judul “Remaja Lebih Suka Kirim Pesan Singkat”. Inti dari kedua berita tersebut sama, yakni tentang kecenderungan remaja di Amerika Serikat dalam menggunakan perangkat teknologi baru di bidang komunikasi. Kedua berita itu memang ditulis oleh wartawan yang berbeda, sumbernya pun berbeda (satu dari BBC, satu lagi dari salah kantor Reuters dan/atau AFP). Namun hulu/pangkal/sumber awal dari berita ini sama, yakni hasil riset dari Pew Research Centre.

    Kejadian seperti ini tentu timbul karena kurangnya koordinasi/sinkronisasi para pengasuh antarrubrik.

  3. Di halaman 17, terpampang foto yang cukup menarik dan tidak kerap kita lihat, yaitu diturunkannya gerbong kereta rel listrik (ini gerbong bekas, dari Jepang) dari kargo yang membawanya, di pelabuhan Tanjungpriok, pada Rabu malam kemarin. Foto tersebut memuat keterangan/teks yang menyebutkan bahwa gerbong yang diturunkan itu berjumlah 10 unit, merupakan gelombang pertama dari total 40 unit yang dipesan PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (sebagian dari gerbong ini mungkin akan saya gunakan juga kelak, karena sudah bertahun-tahun saya memang menjadi pengguna dan pencinta kereta api komuter yang membawa saya dari tempat tinggal saya ke tempat saya bekerja sehari-hari di Jakarta, sehingga saya relatif terbebas dari kemacetan yang kian parah di Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya). Saya sebetulnya mengharapkan ada berita yang lebih rinci mengenai peristiwa ini. Sebab, program impor gerbong bekas dari Jepang yang dilakukan di periode sebelumnya, persisnya tahun 2006-2007, diduga telah terjadi patgulipat yang merugikan negara. Beberapa nama sudah diperiksa oleh KPK, termasuk petinggi yang mengurusi bidang. Hatta Radjasa yang saat impor tersebut dilaksanakan masih menjabat sebagai Menteri Perhubungan, sempat pula disebut-sebut akan dimintai keterangan oleh KPK mengenai kasus ini. Di bagian paling bawah nanti, akan saya kutipkan beberapa berita mengenai kasus ini. Jadi, untuk kedatangan gerbong kali inipun, saya berharap dengan sangat agar media memasang radar dan penciuman yang tajam, untuk mendeteksi dan mengendus kemungkinan terjadinya persoalan yang mirip dengan apa yang muncul di periode sebelumnya itu.Saya memang merasakan “nikmatnya” menjadi pengguna kereta, karena bisa terbebas dari belenggu kemacetan yang tak berkesudahan yang melilit Jabodetabek (sebagai gambaran, jarak Jakarta ke kawasan tempat saya tinggal jika ditempuh dengan mobil di jam normal bisa menghabiskan masa sekitar satu jam. Angka ini bisa berlipat 1,5 kali bahkan dua kali di jam-jam padat. Sedangkan dengan kereta komuter, waktu tempuh perjalanan kereta hanya sekitar 25 menit, ditambah sambungan angkutan kota dan ojek sekitar 15 menit untuk sampai di rumah. Jadi, dengan berkereta komuter, saya benar-benar diringankan dari segi waktu, keletihan fisik, pikiran, emosi). Kendati begitu, terus terang saja saya harus mengelus dada lantaran gerbong kereta komuter bekas Jepang yang sekarang beroperasi di wilayah Jabodetabek itu usianya sudah lebih dari 30 tahun (di beberapa gerbong tersebut tertera dengan jelas tahun awal beroperasinya, yakni di sekitar 1970-an). Jadi, sebetulnya kita benar-benar menerima barang buangan. Kalau kemudian pengadaannya ditunggangi oleh kepentingan dan niat busuk dari para koruptor begundal itu, maka rasa sedih yang ditunjukkan dengan mengelus dada tadi berubah menjadi amarah.Jadi, sekali lagi, saya berharap ada media yang mau mengorek-ngorek lebih jauh kalau-kalau ada sesuatu yang menyimpang dari proses pengadaan gerbong bekas tersebut. Mudah-mudahan Kompas mau melakukannya di hari-hari ke depan ini, agar jangan hanya sekadar memajang fotonya semata.
  4. Boleh ya menoleh ke belakang sedikit, ke Kompas edisi kemarin (Rabu, 21 April 2010)? Dari kemarin sebetulnya saya ingin menulis tentang berita ini, namun tak sempat. Saya tempatkan di bagian akhir catatan saya, karena isinya terkait dengan puisi, sehingga mudah-mudahan kita menjadi sedikit rileks setelah berkerut jidat dengan tiga butir catatan di atas. Di halaman 14 Kompas edisi kemarin itu, ada tulisan berjudul “Bisa Tidur Ribuan Tahun”, tentang gunung di Islandia yang menyemburkan abu dan telah mengakibatkan persoalan serius di dunia penerbangan. Menjelang penuutup, tulisan itu mennyebutkan bahwa abu dari letusan gunung api memang bisa membawa dampak dahsyat bagi bumi, misalnya saja letusan Gunung Tambora di Sumbawa, yang terjadi di bulan April 1815, dengan dampak yang masih terasa hingga tahun berikutnya (pada tahun 1816 di Amerika Serikat dikenal sebagai “The Year without a Summer”). Lalu tulisan tersebut ditutup dengan rangkaian kalimat yang berasal dari puisi berjudul “Darkness: yang digubah penyair Inggris. Lord Byron, untuk menggambarkan suasana alam di tahun setelah letusan Tambora tersebut: “Terang matahari lenyap, juga bintang; Meninggalkan kegelapan di ruang angkasa tak bertepi; Tak ada sinar, tak ada jejak, bumi bagai bongkah es; Semua menjadi buta dan menghitam di udara tanpa bulan; Pagi datang dan pergi dan datang lagi dan tak ada hari; Dan manusia lupa akan kepeduliannya di tengah rasa takut; tercekam akan kepedihan ini….”Kutipan dari Lord Byron tersebut tidak mencantumkan syair aslinya. Sekarang saya salinkan, dengan baris-baris awal berbunyi sbb:

    I had a dream, which was not all a dream.
    The bright sun was extinguish’d, and the stars
    Did wander darkling in the eternal space,
    Rayless, and pathless, and the icy earth
    Swung blind and blackening in the moonless air;
    Morn came and went–and came, and brought no day,And men forgot their passions in the dread
    Of this their desolation; and all hearts
    Were chilled into a selfish prayer for light;

    (LANJUTANNYA MASIH PANJANG. BAGI YANG BERMINAT, TINGGAL CARI SENDIRI DI
    INTERNET)

    Saya ingin mencatat mengenai kutipan yang tertera di Kompas itu, yakni pada bagian “Pagi datang dan pergi dan datang lagi dan tak ada hari;”. Perhatikan lebih rinci pada bagian “dan tak ada hari”. Jika kita rujuk ke naskah aslinya, bunyinya adalah “and brought no day”. Tentu benar bahwa “day” bisa bermakna “hari” (inilah makna umum yang biasa kita pahami). Namun ia juga bisa bermakna “siang” (misalnya pada kalimat ini: “I always think of you day and night = Aku sentiasa mengingat dirimu, siang dan malam”. Catatan: “sentiasa” adalah kata dari bahasa Melayu Malaysia yang maknanya sama dengan “senantiasa” dalam bahasa Indonesia).

    Jadi, saya kira, terjemahan yang lebih tepat untuk penggalan yang saya kutip barusan bukanlah “dan tak ada hari”, melainkan “tak ada siang”.

Sekian dulu, seraya saya tunggu komentar, tanggapan, juga berbagai argumen yang berbeda dari kawan-kawan lain.

Trims dan salam,

Arya

(btw, jangan lupa untuk melongok ke bawah, dimana saya salinkan kutipan berbagai berita mengenai kasus dugaan korupsi dalam pengadaan/impor gerbong-gerbong kereta eks-Jepang itu. Percayalah, ternyata nikmat juga naik kereta api, kendati gerbongnya gerbong bekas, dengan syarat: tidak ada korupsi dalam pengadaan maupun penggunaannya!!!).

Filed under: Jurnalisme, Media

Catatan atas sejumlah berita Koran Tempo edisi Rabu, 21 April 2010

Kawan-kawan,

Posting ini berisi catatan mengenai berita Koran Tempo edisi hari ini, Rabu 21 April 2010, yang saya tulis untuk jadi bahan perenungan dan pelajaran kita semua, orang-orang yang menempatkan profesi jurnalisme sebagai bagian dari jiwa dan darah daging mereka. Ini juga saya maksudkan sebagai kritik konstruktif untuk Koran Tempo (mudah-mudahan tidak disalahtafsirkan).

Setidaknya saya menemukan tiga berita yang memiliki persoalan di edisi hari ini (yang saya daftar di bawah dari yang ringan ke yang berat):

  1. Berita berjudul “Banyak Jalan Menuju Runway Budiarto” (halaman B1): kata “runway” seingat saya sudah ada padanannnya, yakni “landasan pacu” atau bisa pula dipersingkat menjadi “landasan” saja. Kesalahan yang agak sedikit lebih tinggi bobotnya pada berita ini adalah kalimat “Sambungan telepon tak dijawab, pesan pendek pun diacuhkan” yang terdapat di kolom kedua, alinea kedua. Kalimat ini melukiskan tidak berhasilnya Koran Tempo mengubungi Kepala Bandar Udara Budiarto, Agus Santosa, untuk mencari penjelasan mengenai kecelakaan ditabraknya satu sepeda motor (yang menewaskan pengendara dan orang yang membonceng) oleh satu pesawat latih yang baru mendarat di landasan pacu bandar udara tersebut. Kata “diacuhkan” pada kalimat tersebut seharusnya ditulis “tak diacuhkan”. Masih sering memang kita jumpai kerancuan tentang penggunaan kata “acuh” ini. “Mengacuhkan” bermakna memperhatikan, menanggapi. “Acuh tak acuh” bermakna “seakan tidak tahu”, “tidak begitu memperhatikan”, alias “cuek” menurut bahasa gaul anak muda zaman sekarang. “Tak acuh” = tak memperhatikan, tak memberikan tanggapan. Kerancuan ini mirip dengan yang terjadi pada kata “bergeming” versus “tak bergeming” (yang pertama bermakna “kokoh pada posisinya”), atau juga “sewenang-wenang” dan “semena-mena” (kedua frasa ini saling menegasi satu sama lain. Jadi “tidak semena-mena” = “sewenang-wenang”. Namun kian banyak saja yang memperlakukan keduanya sebagai bermakna sama).
  2. Berita berjudul “Warisan (Atau Arisan) Dunia di Raja Ampat” di halaman B4 bersambung ke B5 (centre-spread alias bentangan-tengah halaman): ada beberapa foto (jumlah persisnya 11) yang juga dimuat sebagai pendukung tulisan tersebut. Di halaman B5 ada dua foto, yakni nomor 7 dan nomor 11, memiliki teks keterangan foto yang sama (berisi nama latin ikan yang dijumpai di kawasan Raja Ampat, tempat Mas Farid Gaban sedang menuju dalam petualangannya saat ini), yaitu sama-sama “Chrysiptera giti”. Saya menduga ada kekeliruan di sini, sebab kendati namanya sama, foto ikan yang ditampilkan sangat berbeda secara mencolok satu sama lain. Jika dugaan saya benar, maka Koran Tempo telah “tidak cermat” (meminjam istilah Kejaksaan Agung dalam menilai perilaku Cyrus Sinaga dan kawan-kawan yang memeriksa perkara makelar pajak Gayus Tambunan) memasang foto dan memberikan keterangannya. Kita tahu, ketidakcermatan adalah bahasa lebih halus untuk ketidakuratan. Dan kita juga tahu bahwa akurasi adalah salah satu pilar penting profesi jurnalisme.
  3. Berita berjudul “Gubernur Golkar Tersangka Kasus Korupsi Rp 51 Milyar”, dimuat sebagai berita utama di halaman muka. Isinya tentang ditetapkannya Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, sebagai tersangka oleh KPK, lantaran diduga menyelewengkan anggaran APBD Kabupaten Langkat, Sumut, di masa Syamsul menjabat sebagai Bupati tahun 2000-2007. Berita ini, menurut hemat saya, bisa ditafsirkan sebagai mengandung bias. Penyebabnya, judul berita memasang kata-kata “Gubernur Golkar” untuk memberikan predikat/atribusi/sebutan yang dilekatkan kepada diri Syamsul. Memang ada sangkut-paut Syamsul dengan Golkar, dan itu didedahkan oleh penulis berita ini di alinea ke-4, lewat kalimat sbb: “Syamsul, yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, dan sejumlah partai kecil, terpilih sebagai Gubernur Sumut pada Juni 2008. Tahun lalu ia merapat ke Golkar dan terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Sumut.” Kalaupun hendak disebut, mungkin lebih tepat jika Syamsul dikaitkan dengan PKS yang menjadi pendukung utama saat pencalonannya sebagai Gubernur. Namun cara yang lebih netral pun sebetulnya tidaklah sulit untuk ditemukan dalam menyusun judul tadi, agar tidak mengundang pertanyaan sebagian pembaca (seperti saya ini, misalnya). Cara tersebut adalah: cukup dengan menyebutkan Syamsul sebagai “Gubernur Sumut”. Barulah di dalam tubuh berita bisa disajikan informasi mengenai latar belakangnya, termasuk kaitannya dengan Golkar sejak dia terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Sumut itu.

Saya tidak ada kepentingan apapun dengan Golkar (juga seluruh partai politik dan organisasi massa yang ada di Indonesia). Saya hanyalah seseorang yang mencoba tetap mandiri, tidak mau dikotak-kotakkan pada satu kelompok/kepentingan tertentu. Bahkan sampai sekarang saya tetap tidak sepenuhnya percaya pada Golkar, setelah bertahun-tahun di era Soeharto dulu menyatakan diri dengan tegas sebagai orang yang anti-Golkar dan anti-Soeharto. Saya hanya risau saja, karena cara pemberitaan yang dipilih Koran Tempo khusus untuk berita ini, bisa dilihat sebagai menyimpan nuansa bias. Misalnya saja, orang bisa menafsirkan bahwa Koran Tempo memang sedang ingin “menyerang” Golkar, terutama dalam kaitannya dengan skandal Century. Kita tahu peta besarnya, bahwa Golkar termasuk yang paling gencar menggugat skandal Century ini, di dalam maupun di luar pansus angket Century DPR. Bias yang sama juga bisa dirasakan dalam editorial/tajuk Koran Tempo edisi 17 April 2010 (http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/04/17/ArticleHtmls/17_04_2010_0 03_003.shtml?Mode=1), yang juga sudah dipersoalkan oleh seorang bernama Chris Komari (yang sempat diposting oleh kawan Satrio Arismunandar di milis jurnalisme ini hari Selasa kemarin).

Adakah komentar dari kawan-kawan lain di milis ini? Syukur-syukur jika ada kawan Koran Tempo yang mau ikut memberikan tanggapan, sehingga bisa memperkaya pemikiran kita semua.

Trims dan salam,

Arya Gunawan

Filed under: Jurnalisme, Media

Kabut di Seputar Penangkapan Gayus

Kawan-kawan,

Memang masih banyak hal yang tersaput kabut dalam kasus DITEMUKANNYA Gayus di Singapura ini. Saya sebut DITEMUKAN, bukan ditangkap ya, karena memang keberadaannya didapati secara tak sengaja, secara kebetulan, berkat sakti mandragunanya Denny dan Mas Achmad. Luar biasa. I wish that they could do the same for Anggoro kakaknya Anggodo, dan sederet nama pesakitan lainnya yang selama ini diuber oleh pemerintah Indonesia namun dengan tenangnya mereka menikmati hidup di Singapura.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal saya sudah disampaikan oleh beberapa anggota milis ini, namun saya ingin menegaskannya lagi, ditambah dengan sedikit aspek yang mungkin baru:

  • Apa mungkin Gayus yang tahu dirinya sedang dicari-cari orang sekampung itu memiliki keberanian untuk keluar kandang? Rasa-rasanya tak mungkin ya. Apalagi jarak dari Hotel Mandarin ke Lucky Plaza lumayan jauh. Mungkin sekitar 300-an meter seperti yang disebutkan oleh Bung Rahmad Budi. Seorang buronan pastilah memiliki rasa jeri dan was-was itu, tak akan mau menunjukkan batang hidung mereka ke tengah orang ramai. Apalagi kasusnya sedang dalam posisi puncak, dimana kemungkinan untuk terendus aparat ataupun media pastilah sangat tinggi. Kecuali jika buronan ybs memang sudah sangat berpengalaman. Gayus kan tidak masuk dalam kategori seperti itu.
  • Apa mungkin Gayus yang menginap di hotel dengan tarif per kamar termurah sebesar 320 dollar Amerika per malam itu (seperti laporan wartawan Kompas FX Laksana Agung Saputra yang mengikuti kisah perburuan Gayus ini, yang beritanya dimuat di halaman depan Kompas edisi hari ini) mau berusah-payah mencari makan malam sampai harus meninggalkan kandangnya? Rasa-rasanya, lagi-lagi, tak mungkin ya. Dana bukan perkara sulit bagi dia, bukan? Tinggal pencet nomor ekstensi layanan kamar (room service), paling lama 30 menit kemudian pesanan makanan terhidang di muka hidung. Kalau benar dia tak sanggup menahankan kerinduannya pada makanan Padang, saya yakin rasa takutnya untuk muncul di tengah orang ramai akan mengalahkan rasa rindunya pada makanan Padang tadi. Atau mungkin dia bisa suruh orang.
  • Apa mungkin Denny dan Mas Achmad yang menginap di Marriott mau repot2 mencari makan malam, ke Lucky Plaza pula (yang notabene dianggap, maaf, “tempat makan kelas rakyat” untuk ukuran Singapura), padahal mereka berdua menginap di hotel mewah berbintang, yang juga tinggal dengan mudah memencet tombol telepon room service. Dengan itu mereka berdua bisa lebih menghemat waktu dan energi, untuk dicurahkan ke rencana penangkapan Gayus. Jadi, rasa-rasanya tak mungkin juga mereka mau melakukan itu dengan sengaja. Atau memang keduanya ke Singapura lebih untuk jalan-jalan, membuang waktu, menikmati keramaian Orchard Road dengan singgah sebentar ke Lucky Plaza untuk sekadar cuci-mata atau mencari barang2 elektronik atau tempat penukaran uang?
  • Siapa saja yang berhasil MENEMUKAN Gayus di Lucky Plaza itu? Apakah hanya Denny dan Mas Achmad saja? Kalau memang kisah ini diduga sejumlah kalangan mengandung unsur rekayasa (sama halnya dengan kasus-kasus besar lainnya sebelum ini, misalnya penangkapan Bibit-Chandra, pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen), maka jika memang ada rekayasa ini maka akan lebih mudah mengaturnya jika jumlah pemainnya terbatas. Jadi, cukuplah Denny dan Mas Achmad saja yang MENEMUKAN sang buron ini. Kalau banyak orang terlibat, akan lebih besar peluang terjadinya kebocoran skenario.
  • Siapa saja saksi yang melihat adegan Denny dan Mas Achmad menemukan Gayus ini? Tak mungkin jika tak ada penontonnya. Tentu ada pengunjung lainnya di food court itu. Atau jikapun pengunjung mulai lengang (seperti dilaporkan oleh Koran Tempo edisi hari ini di halaman A-2), tentu ada “penghuni permanen” lokasi food court itu, yakni para pemilik/pengelola/penjaga kios-kios makanan itu. Apakah wartawan tidak tergerak sama sekali untuk menelusuri hingga ke sana?
  • Koran Tempo menyebutkan bahwa Denny dan Mas Achmad membujuk Gayus selama dua jam. Lalu di bagian lain dari berita itu disebutkan bahwa “sekitar pukul 23.00, Komisaris Besar Muhammad Iriawan datang.” Apa benar Lucky Plaza masih buka pada pukul 23.00? Seingat saya, mereka tutup pada pukul 21.00. Mungkin saja saya salah. Namun mestinya ini menjadi salah satu cara sederhana bagi wartawan untuk mencari kebenaran dari kisah yang disampaikan Denny dan Mas Achmad itu, bukan? (Catatan: Kombes Iriawan ini adalah “musuhnya” Kombes Williardi Wizard dalam kasus pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen. Williardi dalam keterangannya di pengadilan ketika itu menyebut bahwa ada tim lain yang disiapkan untuk menghabisi Nasaruddin, yang diketahui oleh Kapolri. Kombes Iriawan membantah tuduhan tersebut).
  • Mengenai apa gerangan maksud Gayus bertandang ke luar kandang cari makan Padang ke Lucky Paza itu, Kompas memberitakannya seperti ini: “Awalnya, papar Denny, ia dan Mas Achmad Santosa, anggota Satgas, kebetulan melihat Gayus di food court Lucky Plaza. Gayus di kasir membayar makanan untuk makan malam anak dan istrinya yang menginap di Hotel Meritus Mandarin.” Sedangkan Koran Tempo memberitakannya seperti ini: “Malam kian larut. Satu per satu pintu kios-kios di Lucky Plaza, Orchard Road, mulai tutup. Pusat belanja itu pun kian lengang. Tapi tiga pria masih terlibat pembicaraan serius di salah satu meja di Asian Food.Ketiga orang itu adalah Gayus Halomoan Tambunan, pegawai pajak pemilik rekening mencurigakan berisi Rp 28 miliar, anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Mas Achmad Santosa, dan Sekretaris Satuan Tugas Denny Indrayana. “Dua jam kami meyakinkan dia,” kata Achmad di kantornya kemarin, menuturkan kejadian pada Selasa malam lalu itu. Achmad dan Denny terbang dari Jakarta untuk menjemput Gayus, yang sedang jadi buron. Pada saat yang sama, tim dari Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI sudah berada di Singapura. Bergantian Achmad dan Denny membujuk Gayus agar mau pulang ke Indonesia.”Jangan menunda-nunda, hadapilah realita,”ujar Achmad kepada Gayus. “Kamu itu masih muda, berpikirlah untuk masa depan.” Gayus pun mulai terbuka. Dia mengakui, yang mendorong dia melarikan diri ke Singapura pada Rabu, 24 Maret lalu, adalah berita bahwa rekan usahanya, Andi Kosasih, ditetapkan sebagai tersangka. Sepanjang pembicaraan, ketegangan tampak menyelimuti Gayus. Sepiring nasi Padang yang ia pesan tak habis disantap–masih tersisa separuh.”
  • Mana yang benar dari kedua versi cerita di atas? Apakah Gayus DITEMUKAN sedang menyantap nasi Padangnya (seperti versi Koran Tempo)? Ataukah saat dia tengah di kasir membayar makanan untuk keluarganya (versi Kompas)? Atau habis membayar dia makan nasi Padangnya? Atau sehabis makan nasi Padangnya dia memesan untuk keluarganya juga? Penting untuk mengklarifikasi ihwal yang tampaknya kecil ini. Sebab, jika benar Gayus tengah menyantap nasi Padangnya saat DITEMUKAN oleh Denny dan Mas Achmad, maka kian janggal rasanya mengetahui bahwa selain dengan santainya dia ke luar dari kandangnya di Hotel Mandarin, Gayus ternyata juga tak jeri sedikitpun bersantap malam di lokasi food court itu.
  • Mungkinkah wartawan Kompas dan wartawan Koran Tempo memilikitafsiran berbeda berdasarkan keterangan dari satu sumber yang sama? Atau wartawan dari masing-masing media tersebut bertemu dengan Denny dalam kesempatan yang terpisah/berbeda. Atau jangan-jangan cerita mengenai DITEMUKANNYA Gayus itu hanya KARANGAN BELAKA? Atau sudah dirancang terlebih dahulu? Pertanyaan penting lainnya (yang harusnya saya tempatkan di awal): apakah media hanya menyandarkan diri mereka sepenuhnya pada keterangan Denny dan Mas Achmad? Dan tidak pernah memverifikasinya ke sumber-sumber lain yang independen (penjaga kios di Lucky Plaza, saksi lain yang kebetulan melihat pertemuan ketiga orang itu di Lucky Plaza, petugas di Hotel Mandarin)?

Itulah sederet kabut misteri yang masih harus ditelusuri lebih jauh oleh kawan-kawan wartawan. Inti dari catatan saya ini adalah (dan lagi-lagi): jangan percaya hanya pada sumber-sumber resmi, karena media dengan mudah akan dimanipulasi dan dijadikan alat untuk menciptakan sebuah kebenaran semu yang jangan-jangan sebetulnya berlandaskan pada sebuah kebohongan atawa rekayasa. Kasus ini harus terus dipelototi, harus terus dikawal, karena pasca-penangkapan Gayus ini sejumlah kejanggalan lainnya mungkin saja akan segera muncul. Pemelototan itu termasuk juga menelusuri apa kira-kira motif di balik seluruh jelujuran skenario ini? Apakah misalnya ada kekhawatiran jika Gayus bernyanyi terlalu kencang sehingga bisa menyerempet ke orang-orang yang berada di tingkat yang lebih tinggi, termasuk misalnya Sri Mulyani? Apakah misalnya Kapolri yang dikenal sangat dekat dan terus dilindungi oleh SBY (kendati sudah sederet kejadian buruk menimpa lembaga yang dipimpinnya itu), meminta kepada SBY supaya kasus ini dilokalisasi agar tak merambat ke hampir seluruh petinggi di tubuh Kepolisian (yang citranya terus mendapat sorotan, kendati sudah dicoba diobati lewat cerita perburuan dan pembunuhan the
so called “terrorists” dan penggerebekan sejumlah lokasi pembuatan narkoba)? Ataukah ada motif2 lainnya yang sejauh ini belum terjangkau oleh pikiran saya?

Wallahualam bissawab. Hanya Allah lah yang bisa sempurna menjawab…

Terima kasih dan salam,

Arya Gunawan

Filed under: Jurnalisme, Media

Mendambakan JK Menjadi ‘Deep Throat’

Tiba-tiba saya mendambakan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersedia memainkan peran sebagai “Deep Throat” dalam kaitan dengan penyuntikan dana penyelamatan Bank Century. Dambaan ini mencuat di tengah kian tersisihnya kasus ini oleh berbagai peristiwa lainnya yang memenuhi agenda pembahasan media dan masyarakat awam, termasuk bencana alam yang menimpa sebagian saudara kita di Sumatera Barat dan Jambi.

Saya tak hendak menyalahkan berbagai peristiwa yang datang lebih belakangan ini, apalagi bencana di Sumatera itu, yang memang sudah sepatutnya masuk di urutan teratas dalam agenda media. Yang patut disalahkan bukan peristiwanya, melainkan konsistensi media untuk terus bersuara lantang mengingatkan: masih banyak hal yang menggantung di seputar kasus Bank Century, dan, karena itu, harus dikejar hingga tuntas.

Perkembangan kasus ini sebetulnya sudah agak kehilangan momentum setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono unjuk bicara, saat berbuka puasa dengan kalangan media, di Istana Negara, Jakarta, 17 September 2009. “Jangan ada yang sifatnya misterius pada urusan Bank Century dan penyelesaiannya. Semua pihak saya minta bisa menjelaskan akuntabilitasnya. Saya ingin tetap transparan. Sakit kalau yang berkembang di negara ini suasana buruk sangka,” ujar SBY, sebagaimana dikutip sejumlah media. Dia akan menghormati proses investigasi, yang ketika itu tengah dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan, sambil menegaskan, tak ada kejahatan yang lolos dari jerat hukum pada penanganan Bank Century.

Hasil pemeriksaan BPK telah terbit akhir September lalu, namun tidak ada tindakan nyata yang lahir sesudahnya. Tidak ada lembaga (DPR, eksekutif, BPK, dan Presiden) yang memberikan pernyataan resmi, lalu membeberkan langkah-langkah yang akan diambil sebagai tindak lanjut logis dari hasil kerja BPK itu. Seperti pada sejumlah kejadian yang sudah-sudah, masyarakat lagi-lagi disodori pemandangan di mana sebuah persoalan diselesaikan dengan cara yang agaknya kian menjadi “ciri khas” Indonesia: dibiarkan mengambang, untuk pelan-pelan menguap dilibas waktu, atau lenyap ditelan sikap alpa kolektif sebagian masyarakat kita.

Dalam situasi seperti inilah, saya kembali berpaling kepada JK. Kita tentu ingat, JK-lah yang memberikan dimensi lain terhadap jalan cerita kasus Bank Century, saat dia menegaskan bahwa dia tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan pemberian dana talangan itu. Padahal, ketika keputusan itu diambil oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan, bersama-sama Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan, JK bertindak sebagai pelaksana tugas Presiden secara penuh, karena SBY tengah menunaikan tugas di luar negeri.

Sayangnya, JK kemudian lebih memilih diam, dengan alasan, jika bicara lebih jauh, dia seperti membuka kotak Pandora, yang isinya dapat bergerak liar ke mana-mana. Sebuah pernyataan yang sebetulnya sangat menggoda untuk dikejar, karena menyiratkan JK tahu banyak tentang kasus ini, termasuk dugaan tali-temalinya ke berbagai pihak, dan tentu saja konsekuensi yang mungkin timbul apabila jalinan tali-temali tersebut diurai. Itu sebabnya, saya mendambakan JK muncul sebagai “Deep Throat”.

Bagi mereka yang menggeluti jurnalisme, “Deep Throat” bukanlah istilah asing. Ini adalah judul film (porno) Amerika pada 1972, karya sutradara Gerard Damiano. Film ini menjadi buah bibir karena kontroversinya, juga karena jalinan ceritanya (salah satu film porno paling awal yang memiliki plot cerita yang jelas), serta karena keuntungan komersial yang diraihnya, yang lumayan fantastis menggunakan ukuran pada masa itu. Istilah ini kemudian dilekatkan pada jurnalisme investigatif, berkat duet wartawan koran The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, saat mengungkap skandal politik yang dilakukan kubu Presiden Amerika Serikat Richard Nixon (calon dari Partai Republik). Nixon berupaya mengganjal langkah Senator George McGovern, pesaingnya dari Partai Demokrat dalam pemilu Presiden 1972, demi mengejar masa jabatan kedua. Kecurangan yang dilakukan Nixon dan kubunya mulai dari pembobolan kantor pemenangan pemilu Partai Demokrat, (lokasi kantornya di kompleks Watergate, di Washington, DC; itu sebabnya skandal ini kemudian dikenal luas dengan nama Watergate), penyadapan, sampai pelanggaran dana kampanye.

Dalam proses pengungkapan skandal Watergate ini, Woodward menggunakan narasumber rahasia. Redaktur Pelaksana The Washington Post Howard Simons, secara bergurau–juga dengan agak sinis–dalam sebuah rapat redaksi menjuluki narasumber andalan Bob Woodward itu sebagai “Deep Throat”. Nama ini disebut pertama kali di halaman 71 pada buku All The President’s Men, yang berisi catatan Woodward dan Bernstein mengenai skandal ini. Dalam film berjudul sama yang dibuat berdasarkan buku tersebut, “Deep Throat” ditampilkan memikat oleh sutradara Alan J. Pakula: misterius, bersuara berat, dengan rokok yang selalu tersulut di bibirnya, dengan wajah tertutup siluet dalam suasana samar-samar di lokasi sebuah parkir mobil bawah tanah.

Tokoh ini menjadi semacam “dewa penolong” di saat-saat genting ketika Woodward dan Bernstein seperti mulai kehilangan arah dalam membongkar skandal tersebut, karena tak jelasnya informasi yang mereka peroleh. Ada dua nasihat penting yang diberikan “Deep Throat” kepada Woodward: yaitu “follow the money” (telusuri jejak dana kampanye yang masuk ke kubu Partai Republik) dan pemberian sejumlah indikasi mengenai tali-temali para tokoh yang berada di lingkaran-dalam Nixon.

Sejarah kemudian mencatat, Nixon terpental secara tak terhormat pada awal periode kedua jabatannya, 9 Agustus 1974, dengan cara mengundurkan diri. Belakangan, sejarah juga mencatat bahwa “Deep Throat” adalah William Mark Felt, orang kedua di Kantor Penyelidik Pusat (FBI), yang mengungkapkan sendiri jati dirinya pada 2005. Mark Felt wafat pada 18 Desember 2008 dalam usia 95 tahun.

JK memiliki peluang menjadi “Deep Throat” versi Indonesia. Namun, tentu ini bukan hal mudah baginya; dia mungkin seperti berada di simpang jalan: memilih mengungkapkan kemungkinan sejumlah informasi yang masih disimpannya berkaitan dengan kasus Century ini, ataukah memilih tetap tutup mulut. Jika jalan kedua yang dipilihnya, JK akan mengikuti jejak seniornya, tokoh dengan nama yang hampir serupa dan asal daerah yang sama (Sulawesi Selatan), yaitu Jenderal Muhammad Yusuf, yang memilih tetap bungkam mengenai rahasia Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) sampai ke akhir hayat.

Mungkinkah JK menilai bahwa rahasia yang dia pegang mengenai kasus Bank Century ini memiliki muatan yang mirip rahasia Supersemar, yakni sama-sama dapat mengusik legitimasi sebuah rezim? Sementara Yusuf, sang jenderal menyimpan rahasia yang bisa mengganggu legitimasi rezim Soeharto, Jusuf sang saudagar (yang kemudian menjadi wakil presiden) menyimpan rahasia yang mungkin bisa berdampak bagi legitimasi pemerintahan baru SBY, terkait dengan dugaan yang sudah disuarakan sejumlah kalangan–pengamat dan sejumlah anggota DPR–bahwa ada dana dari Bank Century yang diduga mengalir ke partai politik tertentu, yang mungkin saja dapat menyeret-nyeret Partai Demokrat.

Saya mencoba optimistis: siapa tahu justru, setelah tak lagi memegang jabatan resmi kenegaraan, JK bersedia menjadi “Deep Throat”, meskipun tidak dapat dia lakukan secara klandestin macam Mark Felt. Namun, jika JK ternyata bersedia, akankah ada wartawan yang mau sungguh-sungguh menelusuri informasi yang dipasoknya, entah dikerjakan oleh tim seperti yang dilakukan Woodstein (panggilan yang sering digunakan oleh pemimpin redaksi The Washington Post Ben Bradlee kepada Woodward dan Bernstein), ataukah bersolo karier seperti Bondan Winarno saat membongkar skandal tambang emas Busang pada 1996 silam itu?

Filed under: Jurnalisme, Uncategorized

Sebilah Bumerang bagi Media

Rabu, 12 Agustus lalu, situs berita online detikcom menampilkan foto menarik: sekeping papan bertulisan “TV One Dilarang Masuk”. Papan ini terpajang di depan rumah duka almarhum Air Setiawan dan Eko Sardjono di Solo. Kedua orang ini tewas di tangan polisi dalam penyerbuan sebuah rumah di kawasan Jati Asih, Bekasi. Menurut polisi, di rumah tersebut ditemukan bahan peledak yang akan dikirim ke kediaman Presiden SBY; Air dan Eko adalah bagian dari komplotan pemilik bahan peledak tersebut.

Alasan yang disampaikan pihak keluarga kedua almarhum–sebagaimana dikutip detikcom–adalah: tvOne dianggap sebagai TV polisi. Pemberitaan tvOne dalam penyerbuan rumah di Jati Asih itu, dan juga rumah lainnya di daerah Temanggung, yang berlangsung Jumat dan Sabtu (7 dan 8 Agustus) lalu itu, terkesan berpihak kepada kepentingan polisi.

Tuduhan ini telah dibantah oleh tvOne. Namun, apa daya, pengumuman langka yang singkat namun bermakna “dalam” itu telah terpajang. Pihak keluarga merasa bahwa damage has been done di pihak mereka akibat pemberitaan tvOne, karena Air dan Eko telah dicap sebagai teroris tanpa proses hukum independen guna membuktikan kebenaran kisah versi polisi tersebut. “Pengusiran halus” untuk tvOne itu bisa dilihat sebagai bentuk “balas dendam” agar tvOne pun merasakan damage has been done dalam bentuk lain, yaitu gugatan terhadap reputasi dan kredibilitas lembaga siaran tersebut.

Read the rest of this entry »

Filed under: Media

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.